Kuketuk kaca nan hampa,
Menanti secercah jawaban yang terlempar setelahnya.
Entah, waktu seakan telah terbelenggu oleh senyap,
Mengikat kuat saraf di setiap sendi raga ini.
Mendadak aku kehilangan daya menyusun aksara,
hanya kaku dan pilu bermuara.
Sebuah tanya hadir menghujam tiba-tiba,
Seolah memaksa menelanjangi nalar dalam seketika.
Pantaskah aku bersuara?
Kala asma Tuhan timbul tenggelam di palung hati.
Pantaskah aku bersuara?
Jika hawa nafsu mengekor di setiap jengkal gerak-gerik.
Pantaskah aku bersuara?
Kala lisan tak lagi menatah kalam suci.
Pantaskah aku?
Biarkan aku karib dengan sunyiku tanpa harus ada penilaian tentangku,
Bahkan tentang penghakiman yang membelenggu.
![[PUISI] Menakar Layak di Palung Sangsi](https://image.idntimes.com/post/20260331/lukas-kokkonen-t40sj5go9ik-unsplash_95a93d07-e316-41a5-8ba1-6c0e829f81f2.jpg)