aku menangis kepada samudra
kuluruhkan seluruh derita
hingga berdarah-darah beningnya
hingga melebur kesakitannya
hidup barangkali menanamku
dalam gemercik suara
yang tiba, saat aku menutup mata
hidup barangkali menuntunku
untuk tenggelamkan air mata
ketika nadi tersisa satu hela
suaraku hilang ditelan ombak
ketika satu per satu nama
kupanggil dalam getirnya kehilangan
raib, ditelan maha rahasianya waktu
di palung batinku,
luka terhampar hening, dingin, dan mengakar
yang sering kali membuatku terjaga
dan hilang dalam pusaran kehampaan
aku menangis dan menjadi laut;
tak terbatas,
tak terjamah,
dan tak pernah
selesai
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Menangis kepada Laut

ilustrasi gelombang laut (pexels.com/@matthardy)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us