Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Menangis kepada Laut
ilustrasi gelombang laut (pexels.com/@matthardy)

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

aku menangis kepada samudra
kuluruhkan seluruh derita
hingga berdarah-darah beningnya
hingga melebur kesakitannya

hidup barangkali menanamku
dalam gemercik suara
yang tiba, saat aku menutup mata
hidup barangkali menuntunku
untuk tenggelamkan air mata
ketika nadi tersisa satu hela

suaraku hilang ditelan ombak
ketika satu per satu nama
kupanggil dalam getirnya kehilangan
raib, ditelan maha rahasianya waktu

di palung batinku,
luka terhampar hening, dingin, dan mengakar
yang sering kali membuatku terjaga
dan hilang dalam pusaran kehampaan

aku menangis dan menjadi laut;
tak terbatas,
tak terjamah,
dan tak pernah
selesai

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎