Fajar membuka matanya perlahan,
seperti tirai tipis
yang disibakkan oleh tangan cahaya.
Di kejauhan, laut berbaring tenang
sebuah cermin tua
yang menyimpan wajah-wajah langit.
Ombak datang dan pergi
seperti kalimat yang ragu-ragu
di bibir penyair.
Angin membawa bau asin
dan cerita yang patah,
lalu menaburkannya
di pasir yang sabar mendengar.
Perahu-perahu kecil
terapung seperti mimpi
yang lupa pulang.
Sementara, cakrawala
menjahit laut dan langit
dengan benang biru
yang hampir tak terlihat.
Barangkali laut tahu sesuatu
tentang hidup manusia
bahwa yang paling dalam
tidak selalu tampak di permukaan.
Dan rahasia terbesar
sering bersembunyi
di bawah ombak
yang terlihat biasa saja.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Merajut Laut Fajar
![[PUISI] Merajut Laut Fajar](https://image.idntimes.com/post/20260316/pexels-pixabay-207216_14aa821b-0a0e-45d6-885c-db22de6ed720.jpg)
ilustrasi laut saat fajar (pexels.com/Pixabay)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us