telah kubakar sisa-sisa degup yang pernah menyala
juga rindu yang kerap mampir tanpa aba-aba
segala yang pernah riuh di kepala dan menjadi air mata
kini tak lagi kubiarkan ia menguasai ingatan lama
meski kepalaku adalah peta yang masih tak tahu arah pulang
kini ia telah berani menggambar sketsa keluarga cemara
aku pun menyiapkan serentang peluk
semangkuk cinta dan juga sedikit rayuan gila
kusiapkan pula sebait puisi di meja kerja
namun, sayangnya aku lagi-lagi keliru
terlalu terburu-buru menfasirkan apa yang masih ambigu
begitu cepat menaruh aman pada harapan yang tak seharusnya
lagi dan lagi aku pun hanya bisa meremuk peluk
memeluk pelik yang kembali mampir
segala harapan dan rasa percaya yang tersisa
kini remuk dan meninggalkan lebam yang membawa trauma ke depannya
![[PUISI] Meremuk Peluk](https://image.idntimes.com/post/20260303/pexels-wassana-5959818_a996417a-c5e2-4064-89b1-2cb3bbe2c6f5.jpg)