Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Meremuk Peluk
ilustrasi perempuan bersedih (pexels.com/JangJ Atthaniti)

telah kubakar sisa-sisa degup yang pernah menyala
juga rindu yang kerap mampir tanpa aba-aba
segala yang pernah riuh di kepala dan menjadi air mata
kini tak lagi kubiarkan ia menguasai ingatan lama

meski kepalaku adalah peta yang masih tak tahu arah pulang
kini ia telah berani menggambar sketsa keluarga cemara
aku pun menyiapkan serentang peluk
semangkuk cinta dan juga sedikit rayuan gila

kusiapkan pula sebait puisi di meja kerja
namun, sayangnya aku lagi-lagi keliru
terlalu terburu-buru menfasirkan apa yang masih ambigu
begitu cepat menaruh aman pada harapan yang tak seharusnya

lagi dan lagi aku pun hanya bisa meremuk peluk
memeluk pelik yang kembali mampir
segala harapan dan rasa percaya yang tersisa
kini remuk dan meninggalkan lebam yang membawa trauma ke depannya

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team