Nalar berlomba peringatkan bahaya
Namun hanya serupa lirih tanpa daya
Seakan hatilah pusat kendali utama
Dan ragaku tunduk pada titahnya
Entah sudah berapa ribu persona
Tak satu pun mendekap tanpa tanya
Ironisnya, mereka beranjak dengan segera
Seolah niat hanyalah melepas dahaga
Tapi mungkin saja, akulah antagonis
Sebab alur yang kuperankan berulang
Memang selalu berakhir tragis
Anehnya ... masih saja cerita kulakoni
Kini, yang tersisa hanyalah jelaga
Dan kakiku mulai lelah melanglang buana
Sebab, mengapa bersusah arungi semesta
Jika ia hanyalah neraka yang terencana
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Neraka yang Terencana

ilustrasi buku yang terbakar (pexels.com/Sefa)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us