Aliran ketuban hitam menyengat tiang tenggorokan,
mengunggah paksa kepala ke ufuk timur yang bengkala.
Aku meringkuk di meja bundar, mengembun teduh,
saat langit meluapkan napasnya yang ganjil dan parau.
Tegukan itu meremukkan angan yang kedaluwarsa;
menambal retak-retak sunyi pada kelingking hati.
Segala mentahannya harus kulumat habis,
mengisi tipu daya yang habis terpatuk jangkrik raksasa.
Pelan-pelan, tumitku menyerang bumi dengan kejam,
membatu bak larva yang membeku di kaki gunung berapi.
Aku bukan lagi sekadar duduk;
Aku sedang bersiap, menerjang ombak yang terjal,
meski harus berpatah kaki di atas aspal yang banal.
![[PUISI] Patah di Atas Aspal](https://image.idntimes.com/post/20260504/caden-bern-4emp7b5xs0k-unsplash_cad2e46c-4a6b-4a2c-980e-4eb16b7cc24a.jpg)