Setiap detik terasa lamban,
Pikiranku riuh, perasaan pun rawan.
Harapanku jatuh satu per satu perlahan,
Tinggal diam di sudut malam yang kian kelam.
Di balik senyap, waktu menatap,
Sunyi bicara tanpa perlu sebab.
Aku terhenti, langkah pun lenyap,
Tersesat antara percaya dan cemas yang menetap.
Bisakah aku berdamai dengan resah?
Bisakah hatiku berhenti lelah?
Pertanyaan datang tanpa arah,
Menggema panjang di dada yang pasrah.
Namun, pada akhirnya aku mengerti terang,
Bukan jawaban yang paling kupandang.
Di antara hening dan rasa bimbang,
Aku hanya ingin dipeluk,
dan pulang dengan tenang.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Resah yang Tak Pernah Bersuara

ilustrasi seseorang yang resah (pexels.com/muhammed hanefi)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us