Di ladang hijau, tuan menabur benih cahaya
Tangan kasar membelai asa
Yang kelak lahir dari suara
Pilarmu, bukan piramida

Tuan tak benci perangaimu
Saat kau bangun istana kepalsuan
Kau curi napas, mimpi, dan masa depan
Tuan sembunyikan, di balik senyumnya
Tanpa dendam, peluk hangat diberikan

Jika tuan terus tak benci, kau jadi apa?
Cermin yang Retak atau Kunci Utopia?
Tuan angkat tanganmu lagi, menunggu
Tak pernah lelah memaafkan