Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Rumah Tanpa Tiang Penyangga
ilustrasi rumah (pexels.com/luke hayden)

Aku tumbuh di sebuah rumah yang jendelanya kerap bergetar dihantam angin,

menyaksikan ibu menenun sepi di antara sisa sarapan yang mendingin.

Di sudut ruang tamu, ada sebuah kursi jati yang terlampau lama kosong,

meninggalkan bidang bayang-bayang yang bisu dan lowong.

Aku adalah anak yang belajar mengeja kata "perlindungan" dari kamus yang robek,

mencari figur keteguhan pada dinding-dinding beton yang mulai retak dan kopek.

Ketika kawan-kawan sebaya bercerita tentang tangan kekar yang mendekap hangat,

aku hanya mampu menunduk, meraba dadaku sendiri yang berdegup hampa dan sangsat.

Ada ruang kosong di dalam raga ini yang tak pernah selesai disembuhkan,

seperti sebuah buku yang kehilangan bab pertama sebelum sempat diceritakan.

Aku belajar menjadi dewasa dari bayang-bayang yang kupahat sendiri di tembok hari,

meniru ketabahan yang tak pernah kutahu bagaimana bentuk aslinya di dunia ini.

Ketiadaanmu bukan lagi sekadar nama yang absen di lembar kartu keluarga,

ia telah menjelma menjadi sisa-sisa rindu yang telanjur melepuh menjadi luka.

Ayah, aku telah tumbuh besar tanpa pernah benar-benar mengenal aroma peluhmu,

menjadi pengelana yang asing, yang selamanya mencari separuh jiwanya yang layu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks

Editorial Team