Ketika dunia belum benar-benar terjaga
Ketika matahari masih menyembunyikan wajahnya
Ia sudah lebih dulu ke sana kemari
Mengepulkan asap dari sudut paling belakang rumah
Menata meja dengan beragam santapan
Keluh hanya singgah ketika tubuhnya benar-benar letih
Namun telinganya lebih akrab dengan nada yang meninggi
Daripada ucap terima kasih yang tak kunjung datang
Ia masih bisa berdiri di atas kedua kakinya
Meski bayang-bayang itu tak pernah benar-benar pergi
Luka-luka dipeluknya dalam diam
Perihnya tak pernah sempat mengering
Dari mana datangnya kekuatan itu?
Menghadapi seseorang yang tak pernah sadar
Bahwa setiap katanya selalu pulang sebagai luka
Namun ia tetap memilih bertahan
Mengapa?
Ia menyembunyikan air mata di balik senyum yang hangat
Esok, asap itu akan kembali mengepul
Jika waktu dapat diputar sesukanya
Semoga kau memilih hidup untuk dirimu sendiri
![[PUISI] Sebelum Matahari Terjaga](https://image.idntimes.com/post/20260629/pexels-sippakorn-yamkasikorn-1745809-3421998_933e7937-93c2-4420-bc0b-b83dc56fb6b1.jpg)