Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Sebelum Matahari Terjaga
ilustrasi seorang ibu di dapur (pexels.com/Sippakorn Yamkasikorn)

Ketika dunia belum benar-benar terjaga

Ketika matahari masih menyembunyikan wajahnya

Ia sudah lebih dulu ke sana kemari

Mengepulkan asap dari sudut paling belakang rumah

 

Menata meja dengan beragam santapan

Keluh hanya singgah ketika tubuhnya benar-benar letih

Namun telinganya lebih akrab dengan nada yang meninggi

Daripada ucap terima kasih yang tak kunjung datang

 

Ia masih bisa berdiri di atas kedua kakinya

Meski bayang-bayang itu tak pernah benar-benar pergi

Luka-luka dipeluknya dalam diam

Perihnya tak pernah sempat mengering

 

Dari mana datangnya kekuatan itu?

Menghadapi seseorang yang tak pernah sadar

Bahwa setiap katanya selalu pulang sebagai luka

Namun ia tetap memilih bertahan

Mengapa?

 

Ia menyembunyikan air mata di balik senyum yang hangat

Esok, asap itu akan kembali mengepul

Jika waktu dapat diputar sesukanya

Semoga kau memilih hidup untuk dirimu sendiri

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team