Sering kali aku mencari diri yang telah lama pergi
Namun, saat kau memanggil ibu, aku jatuh hati lagi
Kau adalah alasan mengapa aku bertahan hari demi hari
Sebab, hanya dalam dekapmu, damai itu kembali menyertai
Aku manusia biasa yang terkadang kehilangan arah
Tangismu sering kali membuat dadaku terasa rapuh
Namun, saat kau rebah tenang di pundakku
Segala lubang di hati kau isi dengan napasmu
Ternyata bukan kau yang butuh aku untuk tumbuh
Namun, akulah yang butuh kau agar hatiku tak angkuh
Kau bukan sekadar muara, kau adalah jalan pulang
Tempat egoku runtuh dan segala duka akhirnya hilang
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Ternyata Aku yang Butuh Kau, Anakku
![[PUISI] Ternyata Aku yang Butuh Kau, Anakku](https://image.idntimes.com/post/20260216/pexels-gustavo-fring-4971477_a751ea96-6a89-414c-b009-01403cfc9016.jpg)
ilustrasi anak memeluk ibu (pexels.com/Gustavo Fring)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us