Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Tumbuh dari Retak
ilustrasi jalan retak (pexels.com/Max Andrey)

Tidak semua yang pecah
harus segera disatukan.
Ada gelas yang tetap menyimpan air
meski garis retaknya menjalar,
ada hati yang tetap memilih mencintai
meski pernah berkali-kali kehilangan.

Kita pun begitu.
Tumbuh dengan bekas-bekas yang tak selalu terlihat.
Ada perpisahan yang menjadi sunyi,
kegagalan yang menjadi guru,
dan malam-malam panjang
yang diam-diam mengubah cara kita memandang pagi.

Dulu aku mengira kuat
berarti tidak pernah runtuh.
Ternyata kuat adalah tahu
bagaimana mengumpulkan diri
setelah hidup menjatuhkan kita
di tempat yang tidak pernah kita pilih.

Ada retak pada rumah,
ada retak pada hubungan,
ada retak pada mimpi yang pernah kita bangun
dengan kedua tangan sendiri.
Namun dari celah-celah itu
kita belajar bahwa tidak semua kehilangan
berarti akhir dari perjalanan.

Barangkali hidup memang tidak meminta
kita menjadi sesuatu yang sempurna.
Ia hanya meminta kita tetap tumbuh,
meski tanah tempat kita berpijak
pernah kehilangan bentuknya.
Tetap memberi teduh,
meski pernah terbakar matahari.

Maka jika suatu hari
kau menemukan retak di dalam dirimu,
jangan buru-buru menyebutnya luka.
Mungkin di sanalah cahaya sedang mencari jalan,
mungkin dari sanalah sesuatu yang baru
sedang perlahan tumbuh.
Sebab tidak semua retakan adalah akhir—
sebagian adalah awal dari cara kita menjadi utuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team