Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Sayap yang Tak Pernah Patah

Menjadi kuat untuk menantang dunia

Aku melangkah pelan menuju rumah. Malam terasa lebih dingin sampai menusuk tulang. Aku merapatkan jaket yang sudah lusuh guna mengurangi rasa dingin. Seluruh badan terasa remuk karena akibat jadwal kuliah yang menggila.

Setelah berjalan sambil terkantuk-kantuk, aku sampai di depan bangunan mungil-nyaris bobrok-yang biasa ku sebut rumah. Menghela nafas perlahan, aku membuka kenop pintu yang engselnya nyaris lepas. Harapanku sederhana, yaitu suasana tenang supaya aku bisa segera beristirahat. Tapi, sepertinya harapanku terlalu tinggi, karena aku mendengar suara tangisan yang berasal dari salah satu ruangan, yaitu kamar Ibu.

Lagi, aku menghela nafas sambil membuka pintu kamar itu pelan. Benar saja, Ibu sedang menangis lirih sambil menundukkan kepalanya dalam. Sadar akan kehadiranku, Ia segera menghapus air matanya kasar dan berusaha tersenyum dipaksakan.

“Ah... Dian, kamu sudah pulang, nak?” Ia berjalan terburu untuk menyambutku.

Aku mematung tanpa berniat menjawab pertanyaannya. “Ibu menangis lagi? Kenapa?”

Ibu tertegun sambil memikirkan jawaban yang pas “Ibu tidak apa-apa nak, apa kau sudah makan malam?” Ia selalu berusaha mengalihkan pembicaraan.

 “Apa ibu menangis karena perkataan keluarga ayah? Atau ucapan tetangga kita yang sialan itu?” Nafasku memburu cepat karena emosi. 

“Jaga ucapanmu Dian, Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbicara tidak pantas” Pekiknya tak kalah emosi.

Aku duduk di tepi kasur dengan lesu, berpikir kenapa hidup keluargaku bisa semenderita ini. Setelahnya, Ibu ikut duduk sambil mengusap kepalaku pelan. Menyalurkan rasa tenang agar aku tak meledak dalam amarah.

“Ibu sungguh tak apa, jangan khawatir Dian” Aku mendongakan kepala sambil menatap iris mata Ibu dalam. Pikiranku melayang ke asal penyebab keluargaku jadi hancur seperti ini.

Pekerjaan Ibu sebagai pemandu lagu karaoke membuat keluargaku dibully habis-habisan. Sejak Ayah pergi selamanya 5 tahun yang lalu, Ibu mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Semua pekerjaan sudah dilakukannya, tapi tetap tak bisa menutupi kebutuhan keluarga. Lagi, Ibuku hanya lulusan Sekolah Menengah yang minim pengalaman sehingga tak bisa melamar pekerjaan di perusahaan besar.

Tawaran sebagai pemandu karaoke datang di tengah keuangan yang kian mencekik. Pekerjaan itu terlihat menjanjikan dengan tawaran gaji yang menggiurkan. Agar keluarganya tak kelaparan, meskipun pekerjaan itu dipandang miring orang, Ibu mengambilnya tanpa sekalipun gentar.

Benar saja, gosip tak wajar langsung berkembang di seluruh penjuru lingkungan. Para tetanggaku yang bodoh membuat gosip bahwa Ibu bekerja sebagai pemandu lagu sekaligus wanita panggilan.

Segalanya semakin kacau ketika keluarga Ayah ikut mendengar gosip bodoh itu dan mempercayainya. Bukannya mencarikan jalan keluar, mereka malah ikut mengucilkan dan menghina Ibu. Padahal Ibu bersumpah atas nama anak-anaknya, bahwa Ia tak pernah melakukan hal gila itu.

Tapi, orang tak peduli soal kebenarannya. Mereka hanya mau mendengar apa yang memuaskan telinganya tanpa peduli apakah berita itu benar atau tidak. Keluarga kami dibully, dikucilkan layaknya hama atau manusia pembawa bencana.

“Tak bisakah Ibu berhenti dari pekerjaan itu?" Aku coba membuka suara.

“Jangan jadikan lagi uang sebagai alasan, Bu. Aku akan berhenti kuliah dan fokus bekerja untuk membantumu. Sungguh aku tak sanggup lagi. Dibully setiap hari sungguh menyiksa”

“Kau tidak percaya pada Ibu, Dian? Apa kau juga berpikir kalau Ibu melakukan pekerjaan kotor itu? Ibu tidak Dian! Ibu tidak melakukannya” 

“Jangan pernah bilang kau akan berhenti kuliah karena Ibu tidak akan membiarkannya. Apa kau ingin bernasib sama dengan Ibu?” Ia menutup mata erat sambil mengepalkan tangannya.

“Aku tak bisa hidup seperti ini terus Bu. Aku tak bisa melihatmu menangis setiap hari karena kata-kata mereka. Aku ingin hidup normal tanpa cacian serta gunjingan. Aku tak tahan mendengarnya. Tak bisakah Ibu paham akan perasaanku?”

Akhirnya aku menangis keras, meluapkan emosi yang sudah ku pendam selama ini. Aku menangis mengingat kata-kata jahat yang orang lain ucapkan pada keluarga kami. Aku menjerit sakit berharap Ibu mengerti tentang isi hatiku yang sebenarnya.

Lalu keadaan menjadi hening. Tak ada satu pun yang bersuara kecuali aku yang meraung-raung dalam tangisan.Tiba-tiba kasur berderit pelan, Ibu beranjak lalu berjongkok di hadapanku. Ia memegang pundakku memohon agar aku melihatnya.

“Dian, nak.. Kau dan adikmu adalah harta Ibu satu-satunya. Maafkan Ibu kalau tak bisa memberikanmu kehidupan keluarga yang sempurna. Maafkan Ibu karena membuatmu merasakan hidup yang tidak normal”

Ibu meremas bahuku kuat, seolah menyampaikan bahwa Ia pun merasakan sakit yang sama.

“Sungguh, Ibu ingin memberikanmu hidup yang layak, pendidikan yang tinggi serta membuat kau dan adikmu bahagia. Maafkan Ibu kalau ternyata kau malah sangat terluka, nak”

“Ibu tak apa jika keluarga ayahmu membenci ibu, atau tetangga kita menggunjingkan Ibu, bahkan kalau seluruh dunia menyakiti Ibu, asalkan--“

“Tapi aku tidak bisa! Aku tak ingin hidup seperti ini, kenapa Ibu selalu egois dan tidak mengerti?” Aku memotong ucapannya sambil berteriak keras.

“Dian...” Ibu menggigit bibirnya menahan tangis.

“Dian, maafkan Ibu karena kau sesakit itu, nak. Ibu... Ibu berjanji akan berhenti, nak. Setidaknya sampai kau lulus dan bisa bekerja. Bisakah kau bertahan sedikit lagi nak?”

“Ibu ingin mengantarmu sampai jenjang pendidikan yang tertinggi. Ibu akan merasa berdosa jika kau bernasib sama dengan Ibu yang hanya lulusan sekolah menegah. Ibu tidak melakukan sesuatu yang kotor nak. Percayalah kalau Ibu masih menjaga kehormatan keluarga kita”

Aku menangis dalam diam, mencerna semua kata-kata Ibu. Pikiranku mengawang ke angkasa. Ia adalah segalanya bagiku, hidup dan belahan jiwaku. Selama ini, Ibu sudah bekerja keras bahkan terlampau keras. Ibu tak pernah sekalipun membalas cemooh para tetangga ataupun keluarga Ayah.

Ibu tetap tersenyum dan selalu berbuat baik kepada mereka.Tak pernah sekalipun berniat membalas dendam meski mereka menyakitinya. Ibu memang tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tapi sikap dan tabiatnya lebih beradab daripada mereka yang punya gelar pendidikan selangit.

“Hanya sampai aku lulus ya, Bu. Berjanjilah hanya sampai aku lulus kuliah maka Ibu akan berhenti. Aku bersumpah akan bekerja keras dan membahagiakanmu serta Erin. Aku akan melindungi Ibu” Ucapku sungguh-sungguh berusaha meyakinkannya.

“Ya nak..hanya setelah kau lulus kuliah dan Ibu akan berhenti. Kau bisa percaya pada Ibu karena Ibu tak akan ingkar. Jangan pedulikan ucapan mereka, karena kita tak bersalah. Jangan biarkan ucapan mereka membuatmu hancur, Dian”

Aku segera memeluk Ibu erat. Menyalurkan semua rasa sayangku tanpa ragu. Berharap kalau Ibu tahu bahwa Ia tak akan melalui ini sendirian. Setelahnya, Ibu membalas pelukanku sama eratnya. Menepuk kepalaku lembut sambil berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Maafkan aku karena tadi berteriak. Maaf karena aku menyakitimu, aku sungguh menyesal, Bu” Ucapku lirih.

“Tak ada yang perlu disesali, Dian. Terima kasih karena sudah mau jujur dan percaya pada Ibu. Aku sangat menyayangimu, nak”

Kami berpelukan cukup lama, sambil berusaha menyalurkan kekuatan satu sama lain. Berusaha berdiri bersama sambil menantang dunia yang kejam.

Perlahan, Ibu melepaskan pelukannya sambil tersenyum hangat  “Ayo keluar dan makan malam, Ibu sudah memasak untuk kau serta adikmu”

Aku mengangguk dan berjalan keluar. Dari kamar lain, adik kecilku yang baru berusia 5 tahun muncul sambil mengusap mata efek bangun tidur.

“Kak Dian sudah pulang?” Aku tersenyum sambil menggendongnya.

“Iya, kakak baru saja pulang. Erin baru bangun ya?

“Iya, Erin terbangun karena lapar Kak” Aku terkekeh pelan akan kepolosannya lalu mengusap kepala Erin lembut.

“Kalau Erin lapar, ayo kita makan sama-sama. Sepertinya Ibu memasak makanan kesukaan Erin, lho”

Erin mengangguk lucu tanda setuju, matanya berbinar senang mencium harum masakan Ibu. Di sudut ruangan, Ibu sibuk menyiapkan piring dan lauk favorit Erin. Setelah segalanya siap, Ibu memanggilku dan Erin untuk makan bersama.

Kami memulai acara makan sambil mengobrol ringan. Erin tak hentinya berceloteh sambil mengunyah makanan. Aku dan Ibu tersenyum ringan dan menghabiskan makanan dengan tenang.

Pukul 20.30 adalah saatnya Ibu berangkat kerja. Aku mengantarnya dengan berat hati ke depan pintu keluar. Ibu memang sudah berumur, tapi paras cantiknya tetap awet seolah tak menua.

“Ibu berangkat kerja ya. Jangan lupa belajar dan kunci pintunya. Jaga adikmu dan jangan tidur terlalu larut” Ia tak pernah bosan memberiku wejangan yang sama setiap harinya.

“Hati-hati di jalan, Bu. Jaga dirimu baik-baik dan aku menyayangimu” Ibu tersenyum manis sambil mengangguk. “Ibu akan hati-hati, Dian”

Lalu Ia pergi dan aku mematung di depan pintu. Selalu seperti ini, aku tak pernah bisa melepasnya lega saat Ibu berangkat kerja. Tapi dalam dasar hati, aku berusaha untuk selalu percaya padanya.

Lalu aku masuk ke kamar, memastikan Erin sudah tidur lelap sambil memeluk boneka beruangnya. Setelah mengucapkan selamat tidur pada Erin, aku mengambil buku untuk mengerjakan tugas kuliah. Jika Ibu sudah bekerja keras bagi kami, maka aku akan melakukan hal yang sama.

Aku akan lulus kuliah dengan nilai terbaik. Membuat Ibu bangga dengan segala pencapaianku. Sekalipun orang-orang berusaha menyakitinya, sayap malaikat Ibu tak pernah patah. Aku akan mengganti setiap tangisannya dengan senyuman yang tak akan pernah hilang.

“Ibu, aku mencintaimu. Tak peduli jika orang lain membenci kita, aku akan tetap di sampingmu.”

 

Pondok Kelapa, 15 April 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Tentang Dia

cappucinotea Photo Verified Writer cappucinotea

Tohoshinki Enthusiast/Ig @astri_meita

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You