Dua tahun pernikahan kami diisi dengan kebisuan. Namun baru tujuh hari terakhir aku benar-benar merawat keheningan itu. Menarik bukan? sepasang suami istri yang baru saja menikah tidak mengobrol satu sama lain. Hidup kami bagaikan tembok beton tebal yang menghalangi cinta kami. Aku adalah seorang pekerja kantor dan dia adalah seorang pengusaha sukses. Kami hidup dengan penuh kecukupan, uang tidak menjadi masalah bagi kehidupan kami. Namun tetap saja, rasa risau, ragu, hingga takut bercampur aduk dalam benak pikiranku.
Aku merasa hubungan ini tak akan berjalan lebih lama dari 7 hari.
Setiap pagi, aku menyiapkan makanan dan minuman untuknya sebelum ia berangkat kerja. Tapi ia selalu saja sibuk. Tak pernah benar-benar memedulikan keberadaanku. Responnya begitu acuh, kehadiranku seolah tak ada. Tindakannya sungguh berbeda dengan pertama kali saat kita bertemu. Ia begitu penyayang, peduli, dan selalu saja khawatir dengan diriku. Seakan-akan ia rela memberikan jantungnya untukku.
Sekarang rasanya dunia seperti terbalik, tidak ada rasa cinta sedikitpun darinya. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya, “Sayang, mau sampai kapan kita seperti ini? Kita ini suami istri, tidak ada komunikasi dan tinggal di rumah yang sama. Aku tidak kuat jika harus menahan rasa sakit ini terus menerus”. Betul saja, tak ada sedikitpun respon darinya. Rasanya ia benar-benar tak menggubris, entah jika ku hidup ataupun mati.
Tika, nama yang sering muncul di ponselnya.
Saat itu, tidak ada pikiran buruk dariku terhadapnya. Ia hanyalah asisten pribadi suamiku. Ia memang wanita yang cantik. Ia juga sudah memiliki seorang anak, tetapi kecantikannya bagaikan remaja SMA. Tak terlintas di pikiranku, bahwa suamiku akan menaruh hati padanya. Namun aroma bunga lili di kemeja suamiku itu bagaikan inang dalam benak pikiranku. Dunia seakan-akan menghukum dan menghancurkanku bertubi-tubi. Aku hanyalah seorang istri yang menginginkan kasih sayang suaminya, tidak lebih dari itu. Aku benar-benar menginginkan ia menjadi satu-satunya untukku, hanya untukku.
Malam itu ia pulang, dengan perasaan kecewa aku bergegas menghampirinya.
Melihatnya datang dengan kondisi lelah membuatku iba. Berniat untuk memberikan pelukan hangat untuk terakhir kalinya. Aku memeluknya dengan erat, detak jantungnya seolah mengalir dalam darahku. Semakin erat aku memeluknya, semakin kuat dorongannya sambil mengungkapkan kata-kata umpatan kepadaku. Aku kembali memeluknya dengan ketajaman hatiku. Sangat tajam, hingga membuatnya hilang kesadaran. Saat itu aku sadar pelukan bisa menjadi senjata paling sunyi. Aku pun bergegas menaruhnya di kasur.
Semenjak itu, dunia terasa sunyi, kami tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Setiap pagi aku selalu mengantarkan sarapan kepadanya, namun selalu saja ia tidak menyentuh sedikitpun makanan itu. Hingga 7 hari berlalu, ketukan pintu terdengar dari luar rumahku. Ketika aku membukanya, orang-orang berseragam itu menahanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku tetap mencintai suamiku, karena ia rela memberikan jantungnya kepadaku.
