[CERPEN] Penggosip

- Hidup di kampung atau kota, penggosip tetap ada
- Bertemu dengan Delila dan dia mengajakku untuk bertemu
- Keluar dari lingkungan penggosip yang tak sehat
Hidup di kampung seringkali menyebalkan bagi semua orang. Bagaimana tidak? Sehari-hari topik pembicaraan yang dibicarakan tidak jauh dari topik tentang kehidupan orang lain. Menyebalkan sekali, bukan? Tapi tak mengapa, sebentar lagi aku akan pindah ke kota untuk keperluan kuliah dan tidak akan tinggal disini lagi, dengan begitu aku tidak akan bertemu dengan para penggosip itu lagi.
Pikirku waktu itu.
Tapi ternyata, perkiraanku salah besar. Tinggal di kota atau pun di desa rasanya sama aja banyak penggosipnya. Meskipun aku tau, para penggosip handal ini juga berasal dari desa yang sama denganku, tapi ayolah, tidak bisakah kalian berhenti bergosip? Kita sudah di kota sekarang. Paradigma tentang kota yang sering kudengar, dari televisi maupun handphone, semuanya mengatakan bahwa di kota jarang ada yang julid. Mungkin, atau bagaimana?
Sudah sebulan aku tinggal di sini, kami sudah masuk kuliah seperti biasa, sesuai jadwal. Pagi ini, kubuka dengan segelas susu dan sepotong roti. Ada kelas pagi hari ini yang membuatku terpaksa bangun dari kasur ternyamanku. Setelah sarapan, aku pun segera pergi menuju ke kampus. Jarak dari kos ke kampus hanya memakan waktu sekitar 10 menit jika berjalan kaki, tapi aku menggunakan motor sehingga hanya perlu waktu beberapa menit untuk sampai ke kampusku.
Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Delila, dia menyapaku, aku pun membalas sapaannya segera. Jujur saja, aku terkejut. Karena ini bukan hal yang biasa. Karena meskipun kami berasal dari kampung yang sama bahkan dari SMA yang sama, hanya beda kelas saja, aku MIPA 1 sedangkan dia MIPA 2. Aku jarang bahkan hampir tak pernah bertutur sapa dengan mereka, paling-paling pas cekcok antar kelas saja, yah seperti biasa, saling pamer keunggulan kelas dan semacamnya lah.
Dulu sewaktu SMA, Delila bersama antek-anteknya, Rosa, Mutia, dan Lisa, merupakan geng atau cicrcle yang hanya diisi oleh orang-orang yang mulutnya rempong, bahkan tak jarang mereka juga membully adik kelas hanya karena takut kalah saing. Hal itulah yang membuatku tak suka akan keberadaan mereka, menggosip? Ah, itu sudah jadi kebiasaan bahkan rutinitas wajib mereka untuk memulai hari.
Singkat cerita, aku sudah sampai dikampus dan kelas pun dimulai. Tak terasa waktu berlalu, aku sekarang sudah berada dikos ku. Duduk diatas kasur sambil menonton film kesukaanku di laptop.
Ting!
Suara notif mengejutkanku. Ternyata ada pesan masuk tapi tak tau dari siapa. Nomor tak dikenal.
Ting!
Pesan lain pun ikut masuk. Masih dari pengirim yang sama. Aku pun segera membacanya.
Ohh, ternyata Delila. Entah darimana dia mendapatkan nomorku. Dalam pesan itu dia mengajakku untuk bertemu. Ya, bertemu. Aneh bukan? Mengingat betapa jarangnya kami akur atau bertutur sapa karena konflik antar kelas, rasanya mustahil jika Delila mengajakku untuk hanya sekadar bertemu, bukan? Aku pun ingin menolak sampai pada akhirnya pesan ketiga masuk. “Kita kumpul di café depan kosmu, malam ini”.
Memang benar, di depan kosku ada sebuah café yang sebenarnya pemiliknya adalah anak dari ibu kosku sendiri. Jadi terkadang pas awal bulan sama pas lagi mumet mikirin tugas, aku bisa ke situ, healing lah kata anak muda sekarang. Malam itu berjalan biasa-biasa saja. Aku bertemu dengan Delila dan sahabat barunya, Maya, dan kami pun ngobrol seperti orang pada umumnya. Kukira, obrolan itu akan berakhir buruk, mengingat kebiasaan Delila yang sering menggosipi orang lain, membuatku tanpa sadar memimpin obrolan. Kami bercerita tentang lika-liku memasuki kampus, mengapa memilih jurusan ini, dan lain-lain. Ya, seperti pembicaraan mahasiswa baru pada umumnya.
Hingga pada akhirnya, malam semakin larut, kami pun berhenti mengobrol dan bersiap untuk pergi ke sarang masing-masing. Hingga suara Delila menghentikan sejenak aktivitas kami sejenak,
“Hei, gimana kalo kita buat grup WA saja, biar bisa makin akrab sama makin mudah buat atur jadwal hangout?”
Suara itu mendiamkanku sejenak sampai akhirnya Maya ikut bersuara,
“Boleh juga. Buat aja Del. Oh ya, jangan lupa tambahin yang lain.”
Hah, yang lain? Pikirku.
Hari itu, tanpa sadar aku telah masuk kedalam lingkungan yang dulunya sangat tak ingin kumasuki.
Semenjak hari itu, notifikasi di hpku tak pernah diam, selalu ada saja notif yang masuk dari grup WA itu. Menyebalkan? Memang. Rasanya aku sudah tak tahan berada dalam satu lingkungan yang sama. Kukira Delila sudah berubah, mengingat antek-antek nya sewaktu SMA yang sekarang sudah berkuliah di kota yang berbeda dengannya. Mungkin dengan begitu, kupikir, akan menjauhkan Delila atau setidaknya mengurangi kebiasaan buruknya itu. Namun ternyata, aku salah. Ia masih sama seperti yang dahulu, tak pernah berubah.
Di grup itu, tak jarang mereka berbicara sesuatu hal buruk tentang mahasiswa lainnya. Salah satu mahasiswa yang sering mereka gosipi adalah Meisya, anak akuntansi, satu jurusan dengan Delila dan Maya.
Aku? Aku anak jurusan pendidikan yang tak tau menahu soal Meisya itu, mengenalnya saja tak pernah. Tapi dari kisah yang kutahu (karena aku suka membaca isi chat grup saat aku gabut), mereka menggosipinya karena seorang pria yang disukai Delila ternyata memiliki perasaan khusus terhadap Meisya, hal itulah yang membuat Delila naik pitam dan mengajak antek-anteknya yang baru untuk bersama-sama memusuhi Meisya.
Masih sama, pikirku.
Hari-hari berjalan biasa saja. Aku masih digrup WA yang sama tapi tak pernah ikut mengirimkan pesan. Menurutku, aku tak kenal siapa itu Meisya, jadi untuk apa ikut menggosipinya. Lagipula, aku bukan tipe orang yang menilai pribadi orang lain hanya dari indra pendengar saja. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, berada dilingkungan yang tak cocok dengan diri kita itu ternyata menghabiskan energi yang besar. Aku merasa cepat lelah, bosan, dan tak nyaman ketika berada di dekat mereka. Hingga pada suatu hari, aku memutuskan sesuatu yang besar.
Aku keluar.
Keluar dari grup WA yang tak pernah kuinginkan berada disana. Aku merasa lega karena sudah berhasil keluar dari lingkungan tak sehat itu.
Hari-hari berlalu, aku pun mendatangi sebuah warung mie ayam yang terletak ditengah kota. Cukup jauh dari kosku, tapi karena aku mendengar bahwa mie ayam di sini sangat enak, aku pun rela menghabiskan sedikit bensin motorku untuk sampai ke tempat ini. Aku pun memesan makanan yang ada di menu, lalu berjalan menuju meja yang sudah tersedia. Sembari menunggu, akupun mulai membuka telpon genggamku untuk mengusir rasa bosan ku sebentar. Tak kusangka, di sela aku menunggu itu, aku mendengar suara cekikikan tertawaan sekumpulan wanita, aku pun berbalik dan ternyata itu adalah Delila dan antek-anteknya. Ternyata mereka juga makan sang disini ternyata. Mereka mengobrol, tertawa, dan melakukan sesuatu yang biasa mereka lakukan, menggosip.
Aku tak menghiraukannya, sampai pada akhirnya aku mendengar namaku. Ya, namaku Anisa. Mereka menggosipiku karena aku yang keluar grup secara tiba-tiba dan entah apalah alasan yang lainnya. Ingin rasanya aku berteriak mengatakan, “Hei, aku di sini! Kalau berani, ngomong langsung didepan orangnya! Jangan cuman bisa main di belakang doang!”
Namun, sayangnya itu hanya sebatas khayalan. Membuat kegaduhan dan menghabiskan energi dengan menghadapi manusia menyebalkan seperti itu tak ada dalam kamus hidupku. Biarlah, pikirku.
Sejak kejadian itu aku sadar, bahwa penggosip tidak bisa untuk dijadikan teman, meski hanya untuk dijadikan sebagai teman mengobrol. Karena meskipun kita pernah duduk semeja dengan mereka, membantu mereka, sikap dan kebiasaan mereka tak akan berubah. Aku lalu teringat salah satu kutipan tentang para penggosip, kira-kira begini,
“Jangan pernah duduk di antara para penggibah, karena percayalah setelah kau bangkit dari kursimu, kaulah yang akan menjadi bahan gibahan selanjutnya."


















