Aku menatapnya kali pertama di musim hujan tahun 2025. Halte di suatu sudut kota, rintik hujan, dan klakson kendaraan saling mengisi kekosongan yang berjarak di antara kita.
Kau terlihat kelelahan sehabis bekerja, lengkap dengan setelan jas dan kacamata. Sedangkan aku memadukan kemeja dengan rok merah muda, serta shoulder bag berwarna senada. Kita berdiri di halte yang sama, cukup dekat untuk saling memperhatikan. Namun, hanya aku yang mengambil kesempatan.
"Masih hujan deras. Aku neduh dulu di halte, ya! Kalau gerimisnya berhenti baru aku nyusul." ucapnya sembari menatap jam tangan hitam di tangan kirinya.
Ia terlihat menutup percakapan, lalu memandang ke arah minimarket yang berjarak 200 meter dari halte. Terlihat menimbang-nimbang apakah lebih baik berlari ke minimarket dan membeli payung, atau menunggu hujan reda. Sepertinya janji temunya cukup penting hingga ia terlihat gelisah dan menghela nafas berkali-kali.
Jadi, kukeluarkan payung berwarna hitam dari tasku. Berjalan perlahan mendekatinya sembari berpura-pura bicara di ponsel.
"Aku mampir ke minimarket dulu, ya! Masih hujan, nih soalnya." aku sedikit mengeraskan suara dengan sengaja saat di dekatnya.
Saat aku menghentikan langkah untuk memasukkan ponselku ke dalam tas, sepertinya aku berhasil menarik perhatiannya. Ia menepuk pundakku sambil bertanya apakah ia boleh berjalan bersama ke minimarket karena tidak membawa payung.
Aku tersenyum tipis. Berhasil. Jadi kuanggukkan kepala dan mengangkat payungku sedikit ke atas karena ia memang lebih tinggi dariku. Barulah setelahnya ia menawarkan untuk memegang payungku, lalu mendekatkan bahunya ke arahku.
"Payungnya kecil. Gak apa-apa, kan agak mepet? Biar gak basah"
"Iya." jawabku sambil melihat matanya yang ternyata berwarna hazel. Cantik sekali.
Di perjalanan sejauh 200 meter, kami mengobrol cukup banyak. Tentang pertemuannya dengan klien penting, saling bertukar nama, hingga keluhannya soal hujan yang datang tiba-tiba padahal langit masih terang. Menarik sekali melihat banyaknya ekspresi yang ia tampilkan saat bicara. Keningnya yang berkerut, senyum ramah, hingga aku sadar lesung pipi yang muncul saat ia tertawa. Manis sekali.
Sayangnya, jarak 200 meter terlampau cepat. Sesampainya di minimarket, ia langsung menghilang dari pandanganku. Ternyata tadi cuman basa-basi. Bahkan tidak ada ucapan terima kasih. Jadi kurapikan payungku di depan minimarket, lalu mencari kopi dingin dan roti sebagai pelampiasan, tanpa berusaha mencari keberadaannya.
Setelah selesai membayar, aku melihatnya berdiri di dekat payungku berada. Dia tidak akan menyuruhku untuk menemaninya ke tempat janjian, kan? Yang tadi saja belum berterima kasih. Bisa-bisanya mau minta tolong lagi. Pokoknya kali ini akan kutolak!
Dengan acuh, kuambil payung tanpa berniat menoleh ke arahnya. Sebelum akhirnya suaranya memecahkan keheningan di antara kami.
"Terima kasih, ya tumpangannya. Maaf tadi aku buru-buru. Soalnya klien ini penting buatku." ia memulai obrolan sambil menyerahkan tas kresek berlogo minimarket ke arahku.
Aku menatapnya bingung, namun tetap mengambil tas kresek yang ia berikan tanpa menyahut. Bahkan sampai tak sadar bahwa ia sudah pergi sedari tadi. Kutatap isi bungkusan yang ia berikan. Ada beberapa snack dan air mineral botol beserta selembar kertas kaku.
Aksa Wiratama
Business Development Executive
Pradana Consulting
📞 +62 812 xxxxxxxx
Aku terpaku menatap kartu itu cukup lama. Mencoba mengira-ngira apa maksudnya meletakkan kartu nama di dalam bungkusan terima kasih. Apakah sengaja? Atau terjatuh saat dia mengeluarkan kartu saat membayar belanjaan? Namun, jemariku malah menyimpannya ke dalam tas, sebelum otakku selesai memproses jawaban.
