Kukira, aku cuma akan membeli kopi di kafe random yang terlihat ramai pembeli. Namun ternyata, seseorang membuatku berubah pikiran. Kemeja putih dengan lengan yang digulung sesiku, apron berwarna coklat susu, serta kacamata bundar tebal yang terlihat apik membingkai wajahmu. Saat itu... kukira kamu hanyalah barista tampan yang cukup ramah dan murah senyum. Sampai aku mendengarkan ucapanmu pada setiap pelanggan.
"Saya perhatikan bapak tadi sudah minum espresso yang 3 shot. Apa mau diganti jadi chamomile tea aja biar maagnya gak kambuh?"
Aku mengeryitkan dahi. Jarang sekali ada barista yang sampai hafal riwayat medis pelanggannya. Bahkan, biasanya yang kutemui hanya mengajukan obrolan template, atau basa-basi yang gak terlalu butuh jawaban. Tapi kamu berbeda. Kamu seperti sedang berbicara dengan orang terdekatmu. Bahkan tak terlihat seperti akan kehabisan bahan obrolan. Apalagi, di sela-sela obrolan, kamu tetap cekatan menyiapkan pesanan tanpa terlihat lelah.
Seolah-olah kamu begitu mencintai pekerjaanmu. Sesuatu yang sepertinya belum pernah kurasakan sebelumnya.
"Kakak baru pertama kali ke sini, ya? Mau saya kasih rekomendasi biar gak bingung?" kali ini, giliranku yang mendapat kesempatan mengobrol dengannya.
"Boleh. Aku pengin coba kopi. Tapi aku gak terlalu suka yang pahit" jawabku sembari mengulas senyum tipis.
"Karena hari ini panas, gimana kalau coba oat cappuccino ice ala kafe kami? Kalau kurang manis, bisa aku tambahin sirup atau susu. Gimana?"
"Oke. Yang 2 shot, ya. Aku mau satu buat take away"
Kukira, percakapan berhenti di situ. Namun, sembari menyiapkan pesanan, ia menyadari penampilanku yang seolah berteriak 'aku sedang liburan'. Untuk itulah, percakapan mulai mengalir ke arah rekomendasi destinasi liburan hingga kuliner lezat dengan harga terjangkau. Sesekali, bahkan pelanggan lain pun ikut menimpali obrolan. Seolah ingin membantuku yang sedang menjadi turis di kota tempat mereka tinggal. Sayangnya, aku harus segera melanjutkan perjalanan. Karena bagaimanapun juga, aku memang sedang liburan.
Gak seharusnya flirting sama barista yang namanya aja aku gak berani tanya, kan?
Namun di perjalanan, jariku berkhianat dengan mengetikkan nama kafe di kolom pencarian. Berharap bisa menemukan namanya, atau paling tidak melihat fotonya. Untungnya, dewi keberuntungan masih memihakku. Kupandangi satu foto candid pria yang baru saja kutemui: ternyata namanya Revan. Sialnya, tak cuma aku yang penasaran. Sebab foto itu cukup banyak menarik perhatian, terutama bagi para kaum hawa.
Sepertinya aku memang harus ke sana lagi. Toh, jika sekadar berteman... harusnya boleh-boleh saja, kan?
