Malam ini terasa sangat berat. Langkah-langkahku menyeret, seakan seluruh dunia berjalan berlawanan dengan keinginanku. Aku memilih keluar, membiarkan angin malam mencoba meredakan riuh di kepalaku.
Entah kenapa, jalan yang kulalui begitu gelap. Lampu-lampu tampak enggan menyala, kecuali satu titik cahaya di ujung jalan. Sebuah toko tua yang berdiri sendiri, bercahaya hangat di tengah gulita.
Rasa penasaran menarikku masuk. Bel kecil di ambang pintu berdenting, disambut aroma kayu tua yang berpadu dengan wangi logam berkarat. Puluhan jam berdetak dengan irama berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat, seakan masing-masing memiliki waktu sendiri. Di balik meja kayu, seorang perempuan paruh baya tersenyum. “Silakan, Nak. Apakah kamu sedang mencari jam?”
Aku menggeleng. “Tidak... aku hanya ingin melihat-lihat.”
Perempuan paruh baya itu menatapku begitu dalam. Lalu ia menunjuk rak di sebelah kanan. “Di sana jam-jam yang bisa memutar satu jam ke masa lalu. Di sebelah kiri, ada jam yang bisa memajukan satu jam. Tapi… yang di tengah adalah yang paling istimewa.”
Aku tertawa kecil mendengar perkataan perempuan itu. Tapi aku mencoba menghargainya dan melihat sebuah jam saku perak yang berkilau di tengah toko. Jarumnya diam, tapi entah kenapa terasa hidup. “Apa istimewanya?” tanyaku.
“Itu adalah jam untuk mengulang satu momen, sekali saja. Momen yang kau pilih akan kembali, lengkap dengan rasa, bau, dan suara seperti pertama kali. Tapi…” ia kembali menatapku dalam, “kau tak bisa mengubahnya. Hanya menghidupkannya kembali.”
Aku tersenyum tipis, setengah tak percaya. “Itu… mustahil.”
“Semua orang berkata begitu, sampai mereka mencobanya.” Ia mendorong jam itu ke arahku. “Pikirkan momen terindahmu. Lalu buka penutupnya.”
Tanganku gemetar saat memegang jam itu. Aku memejamkan mata. Tanpa sadar, yang muncul di pikiranku bukan hari besar ataupun hari yang spesial, melainkan sore sederhana di teras rumah. Aku melihat ibuku menyeduhkan teh, memanggil namaku, dan tertawa. Satu jam kulewati di momen yang indah itu.
Aku ingin berbicara banyak, tapi lidahku kaku. Aku tahu waktu hanya satu jam. Maka aku hanya duduk, menatap wajahnya, menyimpan setiap detik di hatiku.
Akhirnya jarum itu berhenti. Cahaya sore memudar, aroma teh menghilang, dan aku kembali ke toko. Perempuan paruh baya itu berdiri di sana dengan tatapannya hangat.
“Bagaimana?” tanyanya.
Aku mengangguk dengan air mata yang mengaburkan pandangan. “Terima kasih.”
Ia tersenyum tipis. “Toko ini memang tidak pernah tutup. Tapi pelanggan hanya datang sekali.”
Aku keluar dari toko jam itu dengan senyuman dan hati yang hangat. Seakan angin malam membawa pergi semua masalahku. Ketika aku menoleh ke belakang, toko itu sudah hilang dan digantikan tembok bata yang kosong.
Jam perak itu tetap di genggamanku dengan jarumnya yang tak bergerak. Tapi detak di dadaku terus berlanjut, membawa satu jam yang akan hidup selamanya.