Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

[CERPEN] Cerita tentang Usman dan Pohon Durian

Pohon durian (pexels.com/Jess Ho)
Pohon durian (pexels.com/Jess Ho)
Intinya sih...
  • Usman, seorang caleg dari Partai Bumi Hijau (PBH), berkunjung ke teman kuliahnya, Jono, di Kotagede.
  • Usman membawa kalender dan buletin kampanye serta menceritakan bahwa pen-caleg-annya dibantu oleh ulama senior yang dihormati oleh PBH.
  • Setelah gagal dalam pemilihan umum, Usman merawat pohon durian yang diberikan oleh Jono sebagai harapan untuk memperlancar rezekinya.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Suatu kali, sebelum Pemilu 2024, Usman yang saat itu menjadi calon legislatif (caleg), dari sebuah partai parlemen, berkunjung ke tempat temannya, Jono, di Kotagede. Jono ini adalah teman kuliah Usman, satu angkatan di filsafat UGM. Ia juga teman seperjuangan Usman, mereka sama-sama aktif di gerakan mahasiswa, dan sering berdiskusi serta demonstrasi bersama.

Perbedaannya, Jono tidak bergabung dengan partai revolusioner, yang bernama, Partai Bintang Gerigi (PBG). Ia hanya ikut dalam kelompok studi Ideologila dan organisasi mahasiswa, Liga Perjuangan Mahasiswa untuk Demokrasi (LPMD). Akan tetapi, Jono tidak anti dengan PBG, ia bahkan kerap kali membeli koran PBG, “Revolusi”, melalui Usman. Sebagai Anggota PBG, Usman tiap bulannya juga bertugas menjual koran PBG ke kontak-kontaknya di seluruh Jogja.

PBG ini hanya sekali saja mengikuti pemilu (pemilihan umum), yaitu pada tahun 1999. Tujuannya hanya untuk legalisasi PBG sebagai partai belaka. Akan tetapi, PBG mempersilakan jika ada wilayah yang kadernya mendapat kursi di DPRD untuk mendudukinya. Ketika di beberapa wilayah, PBG memperoleh kursi di DPRD Provinsi, maupun Kabupaten/Kota, ada kader yang memutuskan mengambilnya, ada juga yang tidak.

Saat itu matahari beranjak tinggi, mulai agak terik, akan tetapi masih hangat. Motor yang dikendarai Usman, sudah tiba di depan warung kelontong milik Jono dan keluarganya. Di belakang warung itu, ada satu tempat terbuka di bawah atap rumah Jono, yang ia tinggali bersama keluarganya, yaitu ibunya yang sudah tua, dan kakak-kakaknya beserta keluarga mereka masing-masing.

Di tempat tersebut, tengah duduk, Jono dan Sunaryok, teman Jono, sama-sama pernah kuliah di filsafat UGM, tetapi beda angkatan. Sunaryok ini dulunya berprofesi sebagai wartawan di sebuah surat kabar di Jogja. Akan tetapi, ia kemudian memutuskan untuk menjadi jurnalis freelance, sehingga kesehariannya, tidak lagi hanya mengejar berita, tetapi juga menceritakan perjalanannya lewat akun media sosial yang ia miliki.

Usman datang membawa kalender, dengan foto dirinya dan logo partai pengusungnya sebagai caleg DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia). Selain itu, juga ada selebaran, atau lebih tepatnya newsletter (buletin), yang berisikan kritik terhadap pemerintah. Usman memberikan dua benda itu ke Jono dan Sunaryok, yang melihatnya dengan senyum lebar, setengah tertawa.

“Luar biasa, jadi juga kau maju Man?” tanya Sunaryok dengan nada setengah berkelakar.

“Begitulah Yok, aku sebenarnya ingin mencoba saja, di samping itu aku memang ingin memperjuangkan aspirasi penyandang disabilitas di DPR RI sana.” jawab Usman, dengan singkat.

Usman tidak membuka cerita pada mereka, bahwa pen-caleg-an dirinya ini sebagian besar dibantu oleh Gus Ramzy, ulama senior yang juga seorang spiritualis. Gus Ramzy ini sangat dihormati oleh jajaran Pimpinan Pusat Partai Bumi Hijau (PBH), begitu nama partai, yang mengusung Usman sebagai caleg.

Gus Ramzy lah yang mengontak Gus Farhan, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PBH. Setelah itu, Usman langsung dapat nomor urut 4, yang sebenarnya cukup strategis, artinya tidak terlalu jauh ke bawah. Akan tetapi, karena dana kampanye yang minim, Usman tidak mampu memasang baliho dirinya sebagai caleg di perempatan lampu merah ataupun di pinggir jalan raya.

Gus Ramzy dan Gus Farhan ini dulunya adalah sama-sama kader PBG, akan tetapi, karena PBG secara resmi sudah tidak ada lagi, maka mereka memilih medan perjuangan sendiri-sendiri. Gus Ramzy yang idealis, memutuskan untuk menjadi ulama cum spiritualis, dan juga petani. Sementara, Gus Farhan memilih untuk melanjutkan karir politiknya, sebagai pimpinan PBH. Walaupun demikian, komunikasi mereka dengan sesama anggota PBG lainnya tetap terjalin dengan baik. Semboyan mereka yang terkenal adalah, “Berpolitik secukupnya, berteman selamanya”.

“Ya sudah Man, semoga sukses pencaleganmu ya, he-he-he”, ucap Sunaryok tertawa kecil, yang diikuti oleh Jono dengan senyum lebar.

“Ini buletin buat apa Man?” tanya Jono tiba-tiba.

“Itu dari anak-anak Jakarta, Jon, ada yang ke Jogja minggu lalu, mereka menitipkan buletin itu untuk dibagikan di Jogja. Sebagian sudah kuberikan ke panitia aksi Kamisan di perempatan Tugu, sebagian lagi ke panitia aksi Gejayan Mengundang.” jelas Usman pada Jono.

“Kelihatannya, situasi politik ini baru memanas pada bulan Mei tahun ini Man, itupun jika gerakan rakyat masih punya energi. Dalam pandanganku, gerakan rakyat yang sekarang masih bersifat musiman saja, belum sekuat dan sekonsisten dulu, saat akhir kekuasaan Orde Baru. Selain itu, kondisi ekonomi sekarang masih belum separah tahun 1998 dulu, saat rakyat harus antre beras. Dulu aku antre beras di bundera UGM dengan keluargaku.” ucap Sunaryok memberikan pandangan, setelah membaca isi buletin, yang dibawa oleh Usman.

“Aku hanya bantu membagikan saja Yok, karena hubungan pertemananku dengan mereka saja. Selain itu, si Zulkifli, pentolan mereka juga sering membantuku, saat sedang kesulitan.” jelas Usman pada Sunaryok.

Mata Usman tiba-tiba teralih ke sebuah batang kecil di samping kiri Jono. Sedari tadi, ia tidak sadar bahwa ada dua batang ditanam di dalam dua polybag hitam.

“Itu pohon apa Jon?” tanya Usman pada Jono.

“O iya Man, ini nanti kamu bawa ya, tadi Sunaryok yang bawa, dia habis dari Purworejo.” jawab Jono menjelaskan.

“Iya Man, kemarin aku jalan ke sana, ada orang yang baik hati memberikan dua batang durian ini untukku. Yang satu nanti kami tanam di rumah Jono, yang satu lagi, kau tanam di rumahmu ya Man.” ucap Jono menimpali dengan tambahan penjelasan.

Usman langsung berpikir dan mengingat, seingat dia, di rumahnya, hampir tidak ada lahan yang bisa ditanami. Halaman depan rumahnya, penuh kerikil dan paving block.

“Wah, di rumahku, tempat untuk menanam pohon, tidak ada Yok, depan belakang, sudah disemen, diberi kerikil dan konblok.” ucap Usman.

“Kamu taruh di polybag saja dulu Man, nanti kalau sudah besar, baru ditaruh di dalam pot tanaman.” ucap Jono menanggapi Usman.

“Intinya, pohon ini untukmu Man, terserah mau kamu tanam di mana.” ucap Sunaryok menimpali.

Setelah mengobrol beberapa jam, Usman kemudian pulang ke rumahnya, sesudah Sunaryok berpamintan pulang duluan. Di perjalanan, ia tetap berpikir, tentang di mana pohon durian kecil ini akan ditanam?

Sesampai di rumah, Annie, istrinya, bertanya pada Usman, “Ini pohon apa Yah?”

“Pohon durian, Bunda, tadi waktu ke Kotagede, Jono memberikan pohon ini kepadaku.” jelas Usman singkat.

“Yah, ini sebenarnya pertanda baik, tetapi itu semua tergantung Ayah.” ucap Annie menanggapi.

“Maksudnya bagaimana, Bunda?” tanya Usman.

“Jadi, kalau pohon durian ini Ayah rawat dan berbuah, biasanya rezeki akan mengalir. Akan tetapi, jika Ayah tidak mampu merawatnya, maka rezeki akan sulit. Coba Ayah lihat tetangga kita sebelah rumah, beberapa tahun yang lalu, pohon mangga mereka belum berbuah. Tahun ini berbuah banyak, rezeki mereka mengalir lancar, bahkan mereka juga dikaruniai anak satu lagi oleh Tuhan.” jelas Annie kepada Usman.

“Baiklah, Bunda, kalau begitu coba kurawat pohon durian ini, Bunda. Berapa lama ya biasanya durian berbuah, Bunda?”

“Sekitar 5 tahun, Yah, memang amalan Ayah merawat pohon durian ini sampai berbuah, untuk jangka panjang, dan butuh ketelatenan serta kesabaran.” jawab Annie.

Begitulah, di hari-hari setelahnya, Usman menyirami pohon durian itu dengan rajin setiap harinya. Hanya karena kondisi tanah yang sulit ditanami, pohon tersebut masih di dalam polybag. Baru setelah sebulan, Usman menaruh pohon itu di dalam sebuah tong besar berisi tanah.

Pen-caleg-annya ternyata tidak berhasil meloloskan Usman ke kursi DPR RI. Sebenarnya ia meraih suara sebanyak 5481, tetapi di rekapitulasi akhir, suaranya hanya 3090 saja. Situasi politik memang sempat memanas, sebelum pemilu diselenggarakan, namun pasca pemilu, situasi politik mulai adem ayem lagi. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuatnya kecewa sama sekali, karena ada pohon durian kecil yang harus disiraminya setiap hari. Setelah beberapa bulan, pohon tersebut mulai tumbuh, ranting-rantingnya mulai bercabang, awalnya hanya 3 cabang, sekarang jadi 8, dengan tunas-tunas kecil di setiap cabangnya.

Setelah Lebaran, Usman dan Annie bertengkar hebat. Annie pergi dari rumah, meninggalkan Usman dengan kedua anak mereka. Usman terserang depresi, sehingga melupakan tugasnya untuk merawat pohon durian.

Pada hari ketiga, pohon durian itu mulai layu. Annie yang telah kembali ke rumah dan berdamai dengan Usman, menyadari hal itu. Ia kemudian menyampaikannya ke suaminya.

“Yah, itu pohon durian sudah hampir layu, cepat dirawat lagi, supaya tidak mati, sayang sekali soalnya.” ucap Annie kepada Usman.

“Baik Bunda, aku sirami lagi, beberapa hari ini aku lupa menyiraminya, banyak hal yang aku pikirkan.” ucap Usman menanggapi.

Dipandanginya pohon durian itu di halaman rumahnya, di dalam tong berisikan tanah dan kerikil yang mengeras. Dulu penuh perjuangan untuk menggali dan menggemburkan tanah dalam tong itu. Sebelumnya sebuah pohon kering tertanam di sana. Annie mencabut pohon kering itu, beberapa saat sebelum Usman pulang membawa pohon durian.

Supaya tidak seperti pohon kering itu, maka setiap harinya, baik malam maupun pagi, Usman menyirami pohon durian dan tanah dalam tong itu, dengan botol air mineral bekas yang diisi air kran. Kadang 3, kadang 5 botol. Beberapa kali, karena hujan yang tak kunjung turun, Usman bahkan menyirami pohon itu 2 sampai 3 kali sehari.

***

Tak terasa sudah hampir 8 bulan, Usman merawat pohon durian itu. Rezekinya memang masih belum lancar. Semenjak pertengahan tahun 2023, Usman terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, oleh perusahaan tempat dia bekerja.

Usman yang tidak terima, kemudian menggugat perusahaan, yang mem-PHK dirinya tersebut, dengan dibantu Pak Sukirman, seniornya, yang juga seorang pengacara. Gugatan Usman dikabulkan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada bulan Januari 2024. Akan tetapi, perusahaan nakal tersebut, enggan menaati putusan pengadilan. Baru pada bulan Oktober di tahun yang sama, perusahaan tersebut membayar kewajibannya, sesuai putusan PHI.

Uang yang dibayarkan oleh perusahaan tersebut, kemudian dialokasikan Usman untuk membayar hutangnya dan istrinya. Sesuai janjinya, ia juga membelikan telepon genggam baru, untuk Ali, pengganti teleponnya yang lama, yang baterainya sudah aus, dan mesinnya sudah eror. Hanya dalam 1 minggu, uang tersebut, sudah habis, dan Usman beserta keluarganya, mulai mengalami masa kesulitan uang lagi.

Suatu sore, dilihatnya pohon durian tersebut, dari balik jendela rumahnya. Sebenarnya pohon itu sudah rimbun daunnya, akan tetapi mungkin karena kurang air, daun-daun tersebut tidak segar, tetapi agak layu.

“Apakah ini yang membuat rezeki kami belum lancar?” tanya Usman dalam hati.

Seolah paham apa yang dipikirkan Usman, Annie kemudian berkata tiba-tiba, “Harus diberi pupuk Yah, supaya pohonnya jadi lebih segar dan subur.”

“Berapa ya harga pupuk, Bunda? Kalau mahal, kita belum sanggup membelinya.” ucap Usman menanggapi.

“Nanti kubikinkan pupuk, dari kompos, Yah. Itu pohon beringin yang di dinding dekat pagar, aku tebang saja. Daun-daunnya kita biarkan saja membusuk, setelah membusuk, aku akan taruh di dalam tong, tempat pohon durian itu di taman.” ucap Annie.

Beberapa hari kemudian, setelah diberi pupuk kompos oleh Annie, pohon durian itu mulai segar dan subur lagi. Hati Usman sedikit lega, walaupun demikian, ia sadar bahwa buah pohon durian itu, baru akan ada setelah 5 tahun, paling tidak, sekitar tahun 2029, pohon durian itu akan berbuah. Untuk itu, ia hanya bisa berharap, supaya Tuhan memberinya umur panjang, agar bisa menyaksikan pohon durian itu berbuah, yang dia harapkan bisa membantu memperlancar rezekinya dan keluarganya, sehingga mereka bisa bangkit dari kondisi kesulitan keuangan, yang mereka alami saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us