[CERPEN] Saksi Tanpa Kepala

- Wagiman muncul di ruang sidang tanpa kepala dan terikat tali tambang, menuntut keadilan atas kematiannya.
- Terdakwa mendapat keringanan hukuman karena kurangnya bukti dan saksi, Wagiman menyodorkan kebenaran yang ditakuti orang-orang.
- Wagiman menolak menjadi bagian dari kebohongan, mengungkap siapa yang menggelapkan dana bantuan dan menukar nyawa manusia demi kursi empuknya.
Wagiman masuk ke ruang sidang yang mulai memanas dengan bekas jeratan tali tambang di lehernya. Terlebih kini, ia tak punya kepala. Kedua lengannya terikat di balik badan. Ia berjalan tanpa ragu meski di sekujur tubuhnya, darah terus mengalir, sebab peluru sudah menembus beberapa bagian dadanya. Langkahnya menuntut keadilan, sebab ia masih tak sudi telah mati di tangan-tangan yang kotor.
Reaksi orang-orang beragam, kaget sekaligus ngeri sebab di ruang persidangan telah muncul sosok saksi yang sebelumnya telah mati dengan mengenaskan. Aroma Kematian mengudara di sepanjang ruangan. Wagiman memang telah mati. Namun, ia tak akan pernah melepaskan orang-orang yang selalu berambisi mengubur kebenaran.
Terdakwa di hadapannya hampir saja menghela napas lega saat mendengar putusan hakim yang akhirnya memberikan keringanan atas hukuman yang harus ia terima. Kurangnya bukti dan saksi membuat laki-laki itu bisa tersenyum tipis dalam diamnya. Dalam kematiannya, Wagiman sungguh geram membayangkan rupanya.
Wagiman masih bisa bersuara. "Aku Wagiman. Biarkan aku berbicara. Sekarang persetan dengan aturan dan hukum yang penuh celah. Aku sudah mati, dan orang di depan sana, benar-benar bukan manusia."
Tak ada yang bisa menghentikan Wagiman. Ruang persidangan hening seolah mulut setiap orang terkunci. Hari itu, mereka hanya diizinkan untuk mendengar. Sama seperti Wagiman saat menjelang kematiannya. Ia dipaksa bungkam, mulutnya penuh lakban hitam, leher dan kedua tangannya dijerat tali tambang. Wagiman tidak datang untuk balas dendam, ia hanya menyodorkan kebenaran yang selalu ditakuti oleh orang-orang yang reputasinya dipertaruhkan.
"Sungguh licik. Kau membuatku seperti orang putus asa yang memilih bunuh diri dengan surat wasiat palsu yang telah kau buat. Seolah-olah aku sudah tidak tahan dengan tekanan hidup yang tengah aku hadapi."
"Terlebih lagi." Wagiman berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Kau membunuhku pada malam ketika anakku menungguku pulang untuk ulang tahunnya yang ke-7. Dia merenggut bukan hanya nyawaku, tapi masa depan keluargaku Dan sekarang, ia berdiri di sini dengan jas rapi, berpura-pura tak berdosa."
Masih hening. Wagiman tetap melanjutkan. "Daripada terbunuh di bawah tangan kotor sepertimu, aku lebih baik menghadapi semua tekanan hidupku. Oh ya. Pikirmu, barang selundupan itu sudah aman terkubur bersama kebenaran atas kematianku. Tapi lihatlah hari ini, meski aku telah mati, aku tetap tak ingin bungkam."
Ruangan masih sunyi. Orang-orang duduk dengan tegap sambil mengepalkan tangan. Mereka sebenarnya juga sudah ngeri dan ketakutan. "Sekali lagi aku hanya akan menceritakan kebenaran. Malam itu, aku mati bukan karena bunuh diri, tapi karena aku menolak menjadi bagian dari kebohongan. Aku tahu siapa yang menggelapkan dana bantuan, siapa yang membungkam pers dengan uang, dan siapa yang menukar nyawa manusia demi menjaga kursi empuknya. Dan, kau bukan sekadar pembunuh. Kau adalah wajah dari penyakit negeri ini, serakah, pengecut, dan merasa kebal hukum."
Laki-laki yang menjadi terdakwa dalam persidangan itu rupanya masih bisa memaksakan diri untuk tersenyum untuk menyembunyikan ketakutan dalam dirinya. "Ah… bahkan setelah mati, kau masih pandai berdrama. Semua orang tahu kau depresi. Surat itu, bukti yang cukup. Jangan jadikan ruangan ini panggung lakon murahan."
Darah masih menetes dari tubuh Wagiman. Mengaliri lantai persidangan, menggenangi kaki-kaki yang menyangkal kebenaran. "Biar kubeberkan bukti ini."
"Sebentar!" Entah dari mana asal suara itu. Tapi seseorang dari sudut ruang yang tak diketahui mulai menyela. "Seperti yang kau katakan Wagiman, hukum memang penuh celah. Lantas apa kau merasa kesaksian dari orang mati sepertimu itu bisa sah di mata hukum? Di negeri ini, bahkan yang hidup saja sering kalah bicara. Apalagi kau, Wagiman yang sudah mati.”