Comscore Tracker

[CERPEN] Ramalan Ming 2

Wayan Karta melemparkan payung dan menerjang Mantrik Kilda

Setelah Ming Pergi

Seharusnya, matahari sudah terlihat. Akan tetapi langit yang dipenuhi awan hitam membuat semua terlihat gelap. Gerimis sudah satu jam lebih berubah menjadi hujan deras. Namun sepertinya stok air di langit belum berkurang sedikit pun. Orang-orang mengurungkan niat pergi ke kebun. Orang-orang menunda waktu belanja. Jalan pun menjadi lengang. Bahkan pasar pun melompong.

Saat hujan tak kunjung reda hingga pukul sepuluh, beberapa keluarga mulai membicarakan ramalan Ming. Memeleset sembilan kali bukan berarti selamanya tak akan tepat, kan? Bukankah Ming memang tak pernah mengatakan bulan pastinya? Cuma bilang awal malam kedua puluh satu bulan baru. Setiap bulan berganti, tentu menjadi bulan baru kan?

Bulu kuduk mereka sontak meremang. Seingat mereka, hujan tak pernah turun sederas ini. Atau pernah, tetapi langit yang gelap tak pernah terasa semenggelisahkan sekarang.

Jam dua belas siang. Beberapa lelaki yang bosan terkurung dalam rumah mulai berkunjung ke rumah-rumah tetangga sekalipun jalanan becek, licin, dan berpayung atau tidak hampir sama basahnya. Pembicaraan di setiap rumah yang kedatangan tamu pun serupa, ucapan Ming tentang datangnya air deras. Lalu mereka mulai berpikir bagaimana jika ucapan Ming itu menjadi kenyataan. Ke mana mereka akan berlindung?

Orang-orang ingat bagian lain dari ucapan Ming. Air menenggelamkan atap rumah tertinggi di desa itu. Atap rumah tertinggi di desa itu tentu atap rumah Mantrik Kilda. Masih terhitung paman Wayan Karta, tetapi nasib Wayan Karta sangat berbeda dengannya. Kehidupan Wayan Karta sama seperti orang-orang di desa itu, hanya keluarga sederhana. Sementara Mantrik Kilda adalah pemilik seluruh kebun yang digarap orang-orang desa ini, tak terkecuali keponakannya sendiri.

Rumahnya memang cuma dua lantai. Namun jika semua rumah di sekitarnya hanya berlantai satu, rumah Mantrik Kilda jadi tampak seperti menara juga, kan? Apalagi bangunan dan halamannya luas sekali. Pertanyaannya, kalau benar atap rumah Mantrik Kilda saja akan tenggelam, bagaimana dengan mereka?

Jawaban yang masuk akal cuma satu, mengikuti Ming meninggalkan desa sebelum awal malam. Kalau tidak terjadi apa-apa, ya lusa kembali lagi. Pokoknya, persis seperti yang dilakukan Ming selama ini. Para perempuan serta lansia seketika setuju. Lebih cepat pergi mungkin lebih baik karena mereka hanya bisa berjalan lambat-lambat. Yang perempuan beranak jelas dengan anak di gandengan atau gendongan mereka. Yang lansia jelas dengan kaki-kaki mereka yang kaku dan berat.

Para lelaki yang sehat terutama para pemuda sebenarnya sangat ragu ucapan Ming akan jadi kenyataan. Namun sebelum sesuatu yang amat buruk sungguh-sungguh terjadi, mereka tentu harus segera menyelamatkan diri. Maka diputuskan bahwa para perempuan, anak-anak, serta lansia akan pergi ke desa sebelah selambat-lambatnya pukul tiga sore jika hujan tak juga berhenti. Sementara para lelaki yang masih kuat itu akan berjaga, memantau ketinggian air di sungai.

Lelaki-lelaki yang ikut berembuk itu segera pergi ke rumah-rumah lain untuk menyebarkan keputusan terbaik itu. Tak terkecuali ke rumah Wayan Karta. Wayan Karta tua sekali sih, belum. Tetapi jelas tak muda lagi, pun kelihatannya badan tipisnya tak akan kuat kalau harus berhadapan dengan air sederas ramalan Ming. Maka Wayan Karta dibolehkan memilih, tinggal atau ikut pergi bersama Saodah.

Wayan Karta bilang ia masih akan pikir-pikir. Namun yang pasti ia harus terlebih dahulu pergi ke rumah pamannya dan memberitahukan hal ini. Paman dan bibinya jelas lebih tua darinya dan lelaki-lelaki di desa itu terlalu sungkan untuk melewati pagar rumahnya. Kalau Mantrik Kilda sampai celaka gara-gara tidak diberi tahu, nanti Wayan Karta sebagai keponakannya kena karma jelek. Meski sebenarnya, jauh di dalam hatinya, Wayan Karta merasa ada senangnya juga jika Mantrik Kilda celaka.

Bibinya tak tahu apa-apa tentang kebun. Sementara semua anak Mantrik Kilda tinggal di kota. Dengan celakanya Mantrik Kilda, tentu Wayan Kartalah yang akan kejatuhan bulan. Kalau tidak bisa sampai memiliki, setidaknya bisa seketika menjadi mandor seluruh kebunnya.

Selama ini ia bahkan hanya menjadi penggarap seperti orang-orang desa lainnya. Mantrik Kilda terlalu pelit dan curiga pada siapa pun, tak terkecuali keponakannya sendiri. Pikir Wayan Karta lagi, kalau sudah berhasil jadi mandor, bukan tidak mungkin sepetak dua petak bisa beralih jadi miliknya sendiri, entah bagaimana caranya. Bahkan mungkin semuanya, hanya dengan membujuk bibinya menandatangani sejumlah surat.

Wayan Karta yakin itu tak akan sulit. Bahkan jika ia pintar berdalih, menandatangani kertas kosong pun bibinya tak akan curiga. Wayan Karta bergegas membuka payungnya. Urusan karma jelek tak lagi membuatnya bergidik. Bahkan tubuhnya yang basah saking derasnya hujan pun tak membuatnya kedinginan. Seiring langkah, hamparan kebun-kebun Mantrik Kilda justru tampak kian hijau di kedua bola matanya, menghangatkannya lebih dari api tungku.

Sampai di rumah Mantrik Kilda, Wayan Karta ditertawakan pamannya. Ujar pamannya, “Bahkan jika seluruh isi sungai ditumpahkan di halaman rumahku, rumahku tak akan tenggelam. Jangankan atap rumah, lantai terasku pun tak akan tersentuh air. Tidak kau lihat halaman rumahku seluas ini, Karta? Kalau rumahmu dan orang-orang sudah tentu bukan lagi terendam melainkan hanyut bahkan menjadi bubur.”

Basah yang sedari tadi tak dirasakan Wayan Karta tiba-tiba membuatnya menggigil. Mantrik Kilda bahkan tidak mengizinkannya masuk atau sekadar berteduh di terasnya. Mantrik Kilda tak ingin lantai terasnya dikotori sandal berlumpur Wayan Karta. Bahkan jika Wayan Karta melepas sandalnya, lantai terasnya akan tetap basah.

Wayan Karta jadi harus berteriak-teriak dari bawah payungnya untuk memberitahunya tentang ramalan Ming yang mungkin akan terjadi tak lama lagi. Wayan Karta sontak memaki dalam hati. Bandot tua ini memang sialan. Didatangi keponakan sendiri tetapi tingkahnya jauh lebih buruk daripada orang miskin dikejar rentenir.

Itu sudah hampir pukul setengah tiga. Hujan bukannya reda malah makin deras. Perempuan, anak-anak, dan lansia mulai bergerak meninggalkan desa sementara para lelaki yang masih perkasa menyebar ke sepanjang aliran kali. Saodah masih menunggu suaminya kembali, berjanji tak akan pergi sebelum itu.

Wayan Karta gelisah. Ada yang terasa mendesak dalam dadanya. Ia ingat tentang Saodah yang pasti menunggunya pulang, tak akan pergi sebelum ia kembali. Akan tetapi ingatan tentang Saodah pula yang membuat Wayan Karta masih bertahan di titiknya berdiri.

Mantrik Kilda cuma lelaki tua. Tubuhnya memang lebih tinggi dan berisi daripada Wayan Karta. Namun soal tenaga dan kecepatan gerak, tentu Wayan Karta jauh lebih unggul. Selain lebih muda, kerja kasar membuat otot-ototnya jauh lebih liat daripada otot-otot pamannya yang lembek. Lembek seperti bubur.

Bagus jika ramalan Ming benar-benar terjadi. Jika ternyata tidak, apalagi sudah sembilan kali memeleset, itu berarti hamparan kebun-kebun hijau di kedua bola matanya juga seketika musnah. Wayan Karta kembali teringat Saodah. Sejak ia menjual perhiasan-perhiasan yang diberikannya pada Saodah saat menikah dahulu demi bisa membangun rumah, ia belum juga membelikan perhiasan penggantinya.

Saodah tidak pernah memintanya. Toh, rumah yang dibangun dari tambahan uang penjualan perhiasan-perhiasan itu akhirnya dinikmatinya juga. Namun tetap saja, sebagai suami, Wayan Karta akan merasa lega jika ia dapat mengembalikan perhiasan yang sudah menjadi hak istrinya. Berikut seluruh bunganya.

Hamparan kebun di kedua bola mata Wayan Karta sontak berubah menjadi kilat. Tepat saat Mantrik Kilda terkejut oleh kerasnya petir yang datang tiba-tiba, Wayan Karta melemparkan payungnya dan menerjangnya. Wayan Karta boleh merasa gentar saat harus berhadapan dengan pemuda-pemuda yang melemparkan lelucon-lelucon cabul tentang ia dan Saodah. Namun di atas dada Mantrik Kilda, Wayan Karta tampak perkasa sekali.

Wayan Karta benar-benar tak memberi ampun. Ia tak meloloskan setitik liur pun untuk mengaliri kerongkongan pamannya yang berdebu. Juga tidak udara ke tenggorokannya yang terasa terbakar. Mantrik Kilda tersengal-sengal hebat. Sementara di dalam, bibi Wayan Karta asyik berayun-ayun di kursi goyang sambil memejamkan mata.

Bagaimana Cerita Ini Berakhir

Hujan reda satu jam kemudian. Setengah jam setelahnya, hujan benar-benar berhenti. Aliran sungai deras dan berwarna cokelat. Namun tak ada tanda-tanda akan meluap. Desa sudah sunyi. Kesunyiannya bertahan sampai sekitar pukul enam, saat istri Mantrik Kilda yang tertidur di kursi goyangnya terbangun.

Lampu-lampu belum dinyalakan, padahal biasanya itu tugas suaminya. Ia menyeret tubuh tuanya ke depan dan mendapati pintu terbuka kelewat lebar. Tanah terlalu basah sampai tak lagi mengeluarkan aroma. Ia nyaris terjungkal saat tersandung tubuh suaminya yang tergeletak di teras.

Sampai kapan pun, orang-orang di desa itu tak akan pernah lupa akan makna sesungguhnya dari ucapan Ming. Tentang air yang deras dan menggenangi jalan-jalan di desa itu, menenggelamkan atap rumah tertinggi, dan tak akan surut barang sesenti pun sebelum mengambil yang paling dikehendakinya dari desa itu.

Ming sendiri tak pernah kembali lagi ke desa itu. Padahal pemuda-pemuda telah menunggunya kembali beraksi di jalan-jalan, kali ini mungkin meneriakkan, “Saodah! Saodah! Kau benar-benar bisa jadi istriku sekarang! Suamimu tak akan keluar dari penjara sebelum menjadi bangkai! ...”***

Baca Juga: [CERPEN] Ramalan Ming 1

Marliana Kuswanti Photo Verified Writer Marliana Kuswanti

Esais, cerpenis, novelis. Senang membaca dan menulis karena membaca adalah cara lain bermeditasi sedangkan menulis adalah cara lain berbicara.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya