Comscore Tracker

[CERPEN] Jika Kehendak Tuhan Bisa Dimanipulasi

Karena kehendak Tuhan sudah demikian

"Kapan kamu lulus?"

"Kapan kamu wisuda?"

"Kapan kamu bekerja?"

"Kapan kamu menikah?"

"Kapan kamu punyak anak?"

Kapan, kapan, kapan, dan kapan. Bagiku manusia itu makhluk yang terlalu banyak bertanya dan menuntut. Padahal, bukankah mereka sendiri tahu bahwa rezeki, jodoh, dan maut manusia sudah diatur dan ditetapkan oleh Tuhan? 

Bukankah manusia hanya bisa berdoa dan berusaha? Lalu, jawaban seperti apa yang harus diberikan jika ternyata doa dan usahanya memang belum sampai pada tanggal yang sudah dicatatkan oleh Tuhan?

Bahkan sekolah dan kuliah yang sudah ditentukan waktunya pun terkadang masih tidak bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

"Jika saja aku bisa melihat atau setidaknya mengintip catatan Tuhan, maka pasti akan kujawab pertanyaan kalian dengan waktu yang pasti. Tetapi aku siapa? Aku hanya bisa menjawab mungkin sore nanti, besok, lusa, atau entah kapan," batinku setelah mendapatkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.

Aku masih ingat benar, beberapa tahun lalu mereka mencercaku dengan pertanyaan 'kapan menikah?'. Sebagai jawabannya aku hanya bisa mengatakan 'saat waktunya sudah tiba', sembari menghela napas. Kalian tahu kenapa? Karena meskipun Tuhan sudah mempertemukanku dengan seseorang, tidak ada jaminan bahwa dialah jodohku.

Sebab bertemu tidak selalu berujung bersama, bukan?

Saat ini, bertahun-tahun sudah berlalu. Tetapi aku masih saja ditanya 'kapan?'. Bukan. Kali ini mereka bertanya tentang 'kapan punya anak?'. Lebih kejamnya lagi, mereka membubuhi pertanyan itu dengan kata tanya lain yang semakin tidak bisa kutemukan jawabannya.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kenapa masih belum punya anak?"

Aku mungkin hanya bisa menjawab, "mungkin karena belum rezeki kami." Tetapi seandainya mereka ingat bahwa tidak semua orang diberi kepercayaan untuk memiliki buah hati dalam pernikahannya. Kenapa? Karena kehendak Tuhan sudah demikian.

"Ah kamu memang sengaja menunda, mungkin."

"Periksa ke dokter saja. Siapa tahu kalian 'bermasalah'."

"Jangan-jangan kamu infertil."

Itu mungkin yang selanjutnya mereka katakan setelah mendengar jawabanku. Tetapi, bukankah mereka tahu bahwa ketika Tuhan berkehendak, tidak ada hal yang mustahil baginya?

Wanita-wanita yang divonis infertil misalnya, bukan hal tidak mungkin bagi mereka untuk memiliki keturunan, jika Tuhan sudah berkehendak. Sebaliknya, mereka yang sama sekali tidak memiliki masalah pada tubuhnya, bisa saja Tuhan tidak memberikan keturunan. Kenapa? Karena kehendak Tuhan sudah demikian.

"Minum ini atau yang itu saja. Keponakanku kemarin langsung positif setelah minum ini dan itu."

Aku tahu. Tetapi itu hanya bagian dari usaha. Aku bukannya tidak mau melakukannya. Aku juga sudah mencoba segala cara. Sementara keputusannya, kehendak Tuhan tetaplah yang menentukan hasilnya akan seperti apa.

"Kenapa kalian lupa bahwa segala usaha yang kita lakukan tidak sepenuhnya kita sendiri yang menentukan hasilnya?"

"Kenapa kalian lupa bahwa yang bisa dilakukan manusia hanya berikhtiar, bukan memanipulasi kehendak Tuhan?"

Jika catatan Tuhan bisa kupinjam dan kehendak-Nya bisa kumanipulasi. Apa ada jaminan aku tidak perlu menghadapi semua pertanyaan kalian ini? Apa ada jaminan hidupku berjalan sesuai rencana? Tetapi rencana siapa? Aku atau kalian?***

Baca Juga: [CERPEN] Hati Kerdil yang Terluka

Reksita Galuh Wardani Photo Verified Writer Reksita Galuh Wardani

Menulis adalah bekerja dalam keabadian - Pramoedya Ananta Toer

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya