Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Tentang Maaf

Penyesalan hanya bisa dibayar lunas dengan maaf

Kupikir setiap orang memiliki masa lalu yang tak bisa mereka lupakan. Ada masa lalu yang menyenangkan. Ada pula masa lalu yang menyedihkan. Dan aku yakin keduanya memiliki kekuatan yang sama untuk mempengaruhi masa sekarang. Keduanya memiliki kekuatan yang sama untuk menghentikan langkah kaki kita menuju koridor bernama “move on”.

Namun, mungkin penjara masa lalu yang paling rumit  adalah penyesalan. Rasanya mungkin tidak seberat masa lalu yang menyedihkan. Meskipun keduanya kadang membuat kita mau lupa ingatan saja.

Rasanya juga tidak seperti kenangan bahagia yang membuat kita tiba-tiba merasakan rindu, hanya untuk kemudian menyadari bahwa rindu itu tak akan terbayar karena masa lalu tak akan bisa terulang lagi. Tapi penyesalan dan kenangan bahagia sama-sama membuat kita ingin memutar waktu.

Penyesalan itu seperti butir-butir pasir di dalam dalam sepatu. Terkadang kita begitu sibuk berjalan dan berlari hingga tak merasakannya. Namun, suatu ketika kita berhenti sejenak berusaha menikmati udara segar, ketidaknyamanan menyeruak. Kita akan membuka sepatu dan membersihkannya. Tapi entah bagaimana, ia akan kembali lagi.

Aku punya penyesalanku sendiri. Tidak cukup untuk menghentikan langkahku. Tidak cukup untuk mengganggu tidurku. Tapi cukup untuk membuatku selalu termenung memikirkannya. Berpikir apakah itu juga salahku? Tapi, aku yang keras kepala akan selalu mencari alasan ini-itu. Bukan salahku, pikirku. Tapi mungkin hati kecil selalu punya cara untuk berbisik, “itu salahmu juga,” katanya.

Saat aku mengatakan “butir-butir pasir terkadang baru terasa di saat hening,” aku benar. Hal yang tidak terpikirkan olehku adalah butir-butir pasir itu bisa tiba-tiba terasa menumpuk saat bertemu sumbernya.

Aku bertemu seseorang. Seseorang yang dalam seribu tahun tak akan kuakui tapi mungkin menjadi sumber penyesalanku. Tapi melihatnya membuatku dalam sekejap ingin menghilangkan rasa tak nyaman di dadaku.

Namanya Emy. Teman sekelasku saat SMA. Dan sekarang kami sedang bertatapan, mungkin memutar kaset di kepala kami, kaset tua bernama kenangan.

***

Bahkan sebelum aku mengenal Emy, takdir sepertinya sudah mengarahkan hubungan kami pada skenario buruk. Aku mengenal ibunya, seseorang yang sering jadi buah bibir di mana-mana, terutama oleh ibu-ibu. Namanya bahkan lebih terkenal dibanding artis mana pun di kampungku. Katanya ia seorang pelacur dan targetnya adalah suami orang.

Setiap aku mendengar cerita tentangnya, aku diam saja, tak peduli. Aku salah satu dari sedikit orang yang berprinsip “selama itu tidak mempengaruhiku, itu bukan urusanku.”

Tapi aku lupa takdir suka bermain-main. Tiba-tiba perempuan itu jadi sumber semua masalah di hidupku. Tiba-tiba ia menjadi penghisap kebahagiaan keluargaku tanpa tersisa. Hal yang paling tidak kuduga. Ayah yang sangat kupercayai dan kukagumi mengkhianati keluarga demi perempuan itu.

Aku seketika benci meski belum pernah melihat wajahnya. Aku jadi benci pada semua orang. Benci pada ayah yang mengkhianati kepercayaan kami. Benci pada nenek yang membela ayah. Benci pada orang-orang di kampung yang selalu menjadikan keluargaku buah bibir.

Aku benci dan kasihan pada ibu yang masih saja bertahan meski aku melihat betapa depresinya ia setiap malam. Ia menjadi ibu yang tak pernah kupikir akan begitu. Ibu yang hanya melihat lukanya sendiri sampai lupa bahwa anak-anaknya juga menderita.

Karena itu pula, aku langsung benci setengah mati saat bertemu Emy, si anak baru. Begitu ia masuk di sekolah, ia langsung jadi buah bibir. Begitulah aku tahu ia anak dari perempuan itu.

Hampir seluruh penghuni sekolah membencinya. Banyak anak yang dikacaukan oleh ibunya di sini. Mungkin yang paling dikacaukan adalah keluargaku. Karena perempuan itu mengaku mengandung anak orang yang kusebut ayah.

Karena itu pula, aku yang membenci bullying dalam bentuk apa pun tiba-tiba menutup mata. Aku menutup telinga saat kulihat banyak yang menghina Emy dengan sebutan “anak pelacur”. Aku tak bergeming saat teman dekatku bilang “untuk apa kau sekolah, nanti juga akan jadi pelacur seperti ibumu..”

Aku tidak tahu mengapa Emy bertahan di sekolah itu hingga lulus. Dan aku yang menjadi duta anti-bullying tetap diam selama setahun itu. Mungkin karena kupikir “toh bukan aku yang melakukannya..” Aku tidak merasa bersalah. Tidak sama sekali.

Tapi hari itu ketika ujian nasional telah usai. Aku harusnya tidak diam saja. Tapi aku memilih membalikkan badan. Menutup mata dan telinga seperti biasanya.

Aku melihat tiga orang menyiksa Emy. Bukan lagi dengan kalimat hinaan seperti biasanya. Bukan lagi dengan sampah-sampah yang mereka taruh di meja Emy. Bukan lagi dengan siraman air. Kali ini, mereka benar-benar memukul Emy berulang kali.

Aku mendengar bunyi tamparan dan tendangan. Aku hanya mengepalkan tangan. Bimbang melihat Emy sepertinya sudah hampir tak sadarkan diri. Aku hampir melangkahkan kakiku untuk menolong ketika bayangan ibu yang menangis sambil memegang pisau terlintas di kepalaku.

Aku sempat bertemu tatap dengan Emy, sebelum berbalik pergi dari sana. Bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Aku tak mendengar kabar Emy setelah itu. Tapi aku tak melihatnya saat upacara kelulusan. Ya, tanpa sadar aku mencarinya. Setidaknya berharap ia tak apa-apa karena aku merasa ia tak pantas kukhawatirkan.

Tapi seiring aku beranjak dewasa. Aku semakin mengerti. Tak seharusnya aku membenci Emy atas apa yang dilakukan ibunya. Emy bukan ibunya. Rasa bersalah menyusup di dadaku. Meski berulang kali kutampik, rasa itu selalu datang lagi.

Aku sama saja jahatnya. Sama jahatnya dengan mereka yang mem-bully Emy. Guru-guru yang tahu juga sama jahatnya, mereka tidak melakukan apa-apa. Semua yang menonton dan diam saja, sama jahatnya.

***

Aku memperhatikan Emy yang kini duduk di depanku. Kupikir tadi ia hanya akan mengabaikanku. Tapi nyatanya ia justru mengajakku duduk di salah satu kafe dekat kantorku. Aku mengiyakan saja. Toh ini masih jam istirahat.

Ia nampak sangat berbeda dengan yang dulu. Dulu ia selalu menunduk dan sepertinya selalu gelisah. Kini ia nampak tenang dan percaya diri. Dulu ia sering memakai baju kumal. Kini penampilannya seperti wanita berkelas dengan setelan mahal.

“Kamu mau pesan apa?” tanyanya membuyarkanku dari lamunan.

“Ah.. jus jeruk saja,” ucapku.

Ia hanya tersenyum dan mengucapkan pesanannya pada pelayan.

“Apa kabar? Kita sudah bertemu selama tujuh tahun” ucapnya. Pembawaannya tenang sekali. Membuatku berpikir apa ia sama sekali tidak marah dan dendam padaku. Ia seperti berbicara pada teman lama. Sikapnya itu mau tidak mau membuat kegelisahanku berkurang.

“Begitulah. Aku baik-baik saja. Dan sedikit sibuk,” ucapku berusaha tenang sepertinya. Hening menguasai suasana beberapa saat.

Aku ingin sekali membawa masalah dulu. Meminta maaf dan mengakhiri semua perasaan tidak nyaman di dadaku. Sejak ibu meninggal, aku berpikir untuk meninggalkan semua masa lalu di belakang dan hanya menatap ke depan. Sejauh ini aku berhasil melakukannya. Kecuali perasaan mengganggu seperti pasir kecil yang semuanya karena Emy.

“Ibuku sudah meninggal,” ucapnya yang tentunya membuatku kaget. Pertama, aku tidak tahu mengapa ia merasa perlu memberitahukan itu padaku. Kedua, aku tidak tahu mengapa ada kebetulan seperti ini. Dan ketiga, aku tidak tahu harus merespon seperti apa.

Karena itu aku hanya diam saja, menunggunya melanjutkan. Tapi hening menguasai lagi lebih lama, bahkan setelah pelayan datang membawakan minuman kami.

Emy menyeruput cappuccino-nya lalu melihat keluar jendela. “Aku banyak melihat mendatangi rumah duka,” ucapnya dengan mata masih tertuju pada jalanan dan tangan memegang gelas.  “Aku melihat semua keluarga yang ditinggalkan pasti menangis. Tapi saat ibuku sendiri meninggal, aku tidak menangis sama sekali.”

Aku hanya diam. Minuman di depanku tak kusentuh sama sekali.

“Kupikir mungkin sebaiknya ibu memang pergi. Ia menjadi jahat setelah ayah pergi dengan perempuan lain. Ia banyak menderita dan membuat banyak orang menderita.”

Aku masih mendengarkan dengan saksama. Aku tidak tahu ke mana pembicaraan ini menuju. Entah apa yang membuatku tidak memotong saja dan segera mengakhiri masalahku dengannya.

“Aku mendatangi rumah korban ibu satu per satu. Kupikir aku tidak bisa hidup tanpa meminta maaf pada mereka semua. Meski kebanyakan menghadiahiku dengan ludah atau siraman air dan tepung terigu,” ia terkekeh tapi kulihat sudut matanya berair.

“Aku mendatangi rumahmu. Tapi mereka bilang kamu sudah pindah sejak lama,” lanjutnya.

Aku terdiam sejenak dan menghela nafas. “Aku pindah saat ibuku meninggal,” ucapku singkat yang membuatnya terdiam dan menunduk. Sekilas aku melihat Emy yang dulu.

“Maaf,” ucapnya.

Aku meneteskan air mata. Bayangan tubuh kurus ibu yang terbaring tak bernyawa kembali terngiang. Tapi aku tahu ibu ingin aku bahagia. Dan aku pun ingin hidup bahagia sepenuhnya tanpa terikat apa pun dengan masa lalu.

“Aku yang seharusnya meminta maaf,” ucapku sambil mengusap air mata.

“Seorang anak tidak menanggung dosa ibunya. Itu yang ibuku ajarkan,” ucapanku membuat air matanya mengalir.

“Maaf saat itu tidak menolongmu..”

Ia menggeleng, “Untuk beberapa alasan, aku merasa pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Rasa sakitnya seperti mengurangi rasa bersalahku. Aku memang berharap kamu tidak menolongku..”

Aku yang dulu akan langsung menjawab “iya.. kamu pantas di-bully” dalam sekejap mata. Tapi kini, aku merasa tidak seorang pun pantas disiksa apalagi atas dosa yang tidak ia lakukan. Tapi aku hanya tersenyum kecut karena aku paham betul perasaan Emy.

“Lagi pula. Saat ini aku sudah merasa lebih baik. Aku pindah ke kota ini dan mencoba membuka lembaran baru. Sekarang aku benar-benar bisa move on setelah bertemu denganmu,” ucapnya dengan senyuman kecil di wajahnya.

Aku hanya tersenyum dan menyeruput jus jerukku. Itu juga yang ingin kukatakan padanya. Dan untuk beberapa alasan, kurasa ia tahu tanpa perlu kukatakan.

Aku hanya menyeruput jus jerukku yang entah mengapa terasa lebih nikmat dari biasanya. Kami terdiam dalam hening. Tapi tak apa, hening kali ini bukan hening yang tak nyaman. Hening kali ini adalah hening penanda mulainya halaman baru dalam buku baru.

Seperti pasir-pasir kecil yang hanya bisa disingkarkan dengan membuka dan membalikkan sepatu, penyesalan juga hanya bisa dibayar lunas dengan maaf.

***

Makassar, 12 Juli 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Sepatu untuk Mengantar Pagimu

Resty Photo Community Writer Resty

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You