Comscore Tracker

[NOVEL] Autopilot Romance: BAB 3

Penulis: Revelrebel 

3. Dancing in The Sky

 

Alan

"Morning, capt."

Aku hanya menoleh sebentar dan melemparkan senyum tipis menanggapi panggilan Audrey. Dia mengedip padaku. Aku cukup pintar untuk membaca dari ekspresi wajahnya kalau dia berusaha mengingatkanku pada permainan singkat kami kemarin.

Gilang berdehem, seolah tahu ada rahasia antara aku dan Audrey. Dia pernah bilang kalau hobiku berganti-ganti pasangan suatu hari nanti akan membawaku ke dalam masalah. Di satu sisi, pendapatnya cukup masuk akal, tapi aku tidak mengindahkannya.

Aku tidak pernah memaksa. Semua hubungan yang kujalani, semuanya berdasar pada persetujuan kedua belah pihak. Consent, aku masih memegang itu.

Meski sering kali yang terjadi adalah aku hanya bermain badan, sementara perempuan-perempuan itu bermain hati.

Salahkan seragamku, yang membuatku terlihat jauh lebih menarik di mata perempuan.

Ini bukan aku yang sombong atau jemawa. Nadia pernah berkata seperti itu. Melihatku di balik seragam pilot membuatnya turn on, dan fantasi terbesarnya adalah kami bercinta di kokpit-sesuatu yang sayangnya belum pernah kesampaian. Aku pernah membawanya ke kokpit, membiarkannya menikmati apa yang selama ini aku nikmati, tapi untuk bercinta? Well, aku lebih cinta pada karierku.

Lagi pula, kalau ada orang kantor yang tahu aku menyelundupkan seseorang ke dalam kokpit, karierku bisa tamat.

Ngomong-ngomong, kenapa aku ingat dia lagi?

Mungkin karena di layar di hadapanku terpampang tujuan yang harus kutuju. Jakarta.

"Shit!"

Bertahun-tahun aku menolak mengingat Dia, sejak kemarin ingatan itu malah muncul.

"Kenapa lo?"

Aku cuma menggeleng, dan memusatkan perhatian pada panel-panel di depanku.

Beruntung Gilang tidak memperpanjang pertanyaannya, padahal aku yakin dia sudah bisa menebak kenapa aku jadi uring-uringan begini.

"Captain, the aircraft is ready to fly. There's nothing to worry. Have a safe flight."

Aku berbalik dan menghadap Thomas, engineer yang bertugas memastikan pesawat ini dalam keadaan aman dan siap sebelum lepas landas.

Thomas menyodorkan tangannya yang terkepal, dan kusambut dengan kepalan tanganku. Dia juga melakukan hal yang sama kepada Gilang, sebelum kemudian menghilang dari kokpit.

"Alright, everything under control?"

"Yup. Everything's fine."

Sekarang tinggal menunggu para penumpang itu masuk ke dalam pesawat dan setelah itu, aku harus menjemput mimpi buruk yang menungguku di Jakarta.

Mengingat penumpang, aku terbayang perempuan aneh kemarin. Mungkin sekarang dia sudah duduk nyaman di kursinya, sambil mengutuk pilot yang tidak dipercayainya.

Untuk sementara, aku memikirkan si perempuan aneh itu. Setidaknya, perempuan itu bisa membuatku tidak lagi mengingat Dia.

 

Nana

Pengumuman terakhir yang menyuruhku untuk segera masuk ke dalam pesawat. Setelah menunggu satu hari, akhirnya aku bisa kembali pulang. Dengan satu tarikan napas, aku mengambil tote bag dan bangkit berdiri, menuju pesawat yang siap mengangkutku pulang setelah tertunda cukup lama. Begitu mengangkat tubuh dari kursi yang kududuki semalaman, baru sekarang kusadari kalau badanku rasanya mau rontok.

Aku menatap pesawat di hadapanku sambil berjalan di garbarata. Kembali rasa takut itu menghantuiku.

Sebuah rasa takut yang tidak beralasan.

Sama seperti rasa takut yang menghampiriku ketika akan memulai hubungan baru.

Di pintu masuk, aku berpapasan dengan pramugari cantik yang tersenyum lebar. Menginjakkan kaki di sini membuatku teringat Si Pilot yang memberikan kopi kemarin. Kusempatkan diri untuk melirik ke dalam kokpit dari balik tubuh si pramugari, tapi tidak melihat siapa-siapa.

"I can't promise you anything but I'm sure you are in good hands."

Ucapannya terngiang di telingaku. Sambil menuju tempat dudukku, aku tidak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum.

Aneh, mengapa ucapan orang asing itu bisa membuatku bereaksi seperti ini? Itu hanya janji asal, bukan janji yang patut untuk dipikirkan, apalagi dianggap serius.

He doesn't know me, tegasku.

Dari jendela di sisi kanan, aku bisa melihat suasana di luar sana. Masih muram, tapi ada seberkas cahaya di langit. Seperti seberkas cahaya di tengah suasana muram, ucapan itu mempunyai efek yang sama di tengah kehidupanku yang selalu muram.

"Ladies and gentlemen, this is Margareth and I'm your chief flight attendant. On behalf of Captain Alan Firdaus and entire crew, welcome aboard to Skyline Aircfrat, airline flight number SA 00278 from Osaka to Jakarta …."

Aku menghela napas, seiring dengan pengumuman pramugari yang sebentar lagi akan membawaku pulang.

Alan Firdaus.

Namanya Alan Firdaus.

 

Alan

"Apa rencana lo selama di Jakarta?" tanya Gilang di sela kesibukannya memotret langit. Itu hobinya, sebagai seorang sky wanderer–istilah yang dia berikan untuk dirinya sendiri-Gilang selalu memastikan mengabadikan setiap langit yang ditempuhnya.

Dulu aku juga begitu. Memotret apa yang kulihat di perjalanan untuk kupamerkan kepada Dia setiap kali kita menghabiskan waktu bersama.

Aku bahkan masih bisa mengingat jelas setiap tanggapan yang diberikannya. Dan dengan bodohnya ingatanku malah memutar ulang semua memori itu seperti kaset rusak.

"Langitnya bagus banget. Ini menjelang senja, bukan?"

Aku mengangguk, sambil mengacak rambutnya. Tatapannya terpaku pada layar ponsel yang memperlihatkan video langit sore, ketika pesawat yang kubawa melintasi awan-awan. Video itu kuambil sewaktu penerbangan dari Jakarta ke Bali, beberapa menit sebelum memasuki Bali.

"Dilihat dari samping aja bagus banget. Apalagi dari depan begini?"

"Apalagi kalau dilihat langsung. Unlimited frame per second."

Dia mengangkat wajah dan tersenyum. Satu tangannya terulur menyentuh pipiku. Senyum yang selalu kurindukan dan membuatku selalu tidak sabar untuk segera pulang.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Kamu harus lihat ini." Aku membuka video lain yang tersimpan di galeri ponsel. Video itu memperlihatkan kilat yang menyambar, bahkan menempel di kaca pesawat. "Ini disebut St. Elmo's Fire. Amazing, isn't it?"

"You love your job, right?"

Aku mengangguk. Sejak umur lima tahun, menjadi pilot adalah cita-citaku.

"More than you love me?"

Waktu itu aku membantah. I love her more than I love my job. Tapi ternyata Dia tidak sama. She loves herself more than she loves me. Karena itu Dia memutuskan untuk pergi.

Dan yang tertinggal untukku adalah pekerjaan.

 

Nana

"Excuse me, miss. This is your meal."

Sapaan pramugari mengagetkanku dari keasyikan melamun. Kuturunkan meja dan membiarkan dia meletakkan makanan untukku di sana.

"Do you need anything else?"

Aku menggeleng. Namun, ketika dia hendak pergi, aku refleks memanggilnya.

"Yeah?"

Aku melirik papan nama yang tersemat di dadanya. Audrey Putri.

"Ng... Miss Audrey, saya boleh nitip pesan?"

Audrey menatapku dengan dahi berkerut. Mungkin dia belum pernah bertemu penumpang dengan permintaan aneh seperti yang kulakukan barusan. Karena kenyataannya, sebenarnya aku juga tidak yakin dengan apa yang sedang kulakukan ini.

"Pesan apa?"

"Mr. Alan Firdaus, dia pilot penerbangan ini, kan?" tanyaku, yang dijawab Audrey dengan anggukan dan kerutan di dahi yang kian dalam. "Tell him kalau penerbangan ini mungkin bisa mengubah sudut pandang saya terhadap pilot."

Aku sendiri terkejut dengan kalimat yang mengalir dari bibirku. Selama ini aku tidak pernah menghiraukan ucapan asal yang diberikan seseorang, dan janji asal itu tentunya bukan sesuatu yang harus kupikirkan sampai sejauh ini.

Namun, aku tidak bisa memungkiri kalau janji itu cukup mampu menenangkan gejolak ketakutan di diriku ketika akan naik ke pesawat ini. Melihat interaksinya dengan si anak kecil dan caranya menenangkan penumpang lain membuatku sedikit banyak percaya dia mampu menangani pesawat ini dengan baik.

Lagipula, apa yang bisa kulakukan selain memercayakan nasibuk selama beberapa jam ke depan di tangannya?

Aku memang benci perasaan tidak berdaya seperti ini, tapi tidak ada salahnya untuk berkompromi.

Aku menghela napas panjang dan menatap si Pramugari. Dia menatapku dengan ekspresi heran. Aku hanya tersenyum dan memusatkan perhatian kepada makanan. Beberapa menit kemudian, Audrey meninggalkanku.

Sepeninggalnya Audrey, aku menarik napas panjang. What did you do, Nana?

 

Alan

"Dasar player."

Teriakan itu menghentikan obrolanku dengan Gilang. Aku menoleh dan mendapati sosok Audrey berkacak pinggang di pintu kokpit. Aku dan Gilang saling bertatapan lalu sama-sama tertawa.

"Bukannya lo udah tahu kalau dia player?" tanya Gilang.

Namun Audrey tidak menggubris. Dia menatapku tajam. Ekspresinya terlihat kesal, dan bekas kalau kami bercinta kemarin sudah hilang dari wajahnya.

"Kenapa, Audrey?"

Audrey menampakkan ekspresi jijik ketika aku menyebut namanya. Bukannya marah, tindakannya malah membuatku geli.

"Setelah gue, siapa lagi cewek yang berhasil lo rayu kemarin?"

Aku tidak mengerti pertanyaannya, meski aku tahu jawabannya. Hanya dia, untuk kemarin.

"Enggak ada."

"Bohong. Tuh, buktinya ada penumpang yang titip salam buat lo."

Kali ini ucapan Audrey berhasil merebut atensiku. "Siapa?"

"Tolong bilang sama Mr. Alan Firdaus, kalau penerbangan ini mungkin bisa mengubah sudut pandang saya terhadap pilot." Audrey berkata dengan suara yang dibuat melengking biar terdengar menyebalkan.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku menyadari siapa subjek yang dibicarakan Audrey. Hanya satu orang kemarin yang terang-terangan bilang kalau dia tidak menyukai pilot dan tidak bisa percaya pada pilot.

Si perempuan aneh.

"Siapa namanya?"

Audrey tidak menjawab.

"Her seat number, please?"

Audrey cemberut dan tidak menjawab. Dia pun berbalik hendak meninggalkan kokpit. Namun, dia sempat menggumamkan nomor kursi perempuan itu sebelum menghilang.

Detik itu juga aku memanggil Margareth dan meminta daftar nama penumpang.

Karenina Tjandra, nama yang tertulis di kertas itu.

Now I know her name.

And then, what?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Autopilot Romance: BAB 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya