Comscore Tracker

[NOVEL] Entwine-BAB 3

Penulis: Pretty Angelia Wuisan

Bab 3: Rencana Awal

 

Dega sudah memikirkan rencana yang cukup gila. Sekarang ia sangat marah dan tidak ada yang bisa membendung niatnya. Ia ingin membuat Papa menyesal telah menyia-nyiakan ibu dan dirinya begitu saja.

Wanita sialan itu. Mentang-mentang udah menjadi istri sah Papa. Apa istimewanya wanita itu sampai Papa mau nurutin kata-katanya?

Dega pun memutuskan mengirim pesan pada ayahnya.

Nggak usah ke rumah sakit. Eomma nggak mau dijenguk sama Papa.

Pesan itu lalu terkirim, dan bersamaan dengan itu tiba-tiba saja ada yang menyenggol bahunya. "Hei! Hati-hati!"

"Kok nyalahin gue? Salah sendiri ngehalangin jalan."

Dega terdiam melihat cewek berambut panjang, dan agak kecokelatan itu. Dia mewarnai rambutnya padahal masih SMA? Berani banget. Namun, ada pesona lain dari cewek itu yang membuatnya terdiam sesaat. Cewek itu berdandan total, bahkan berani menggunakan soft lens yang juga berwarna cokelat.

"Sampai segitunya ngelihatin gue." Cewek itu terus berjalan ke gerbang sekolah dan masuk dengan santai, padahal ia sudah terlambat.

Dega kemudian tersenyum.Ia ingin masuk ke sekolah itu secepat mungkin.

***

Tiba di rumah sakit, Dega mendapati Eomma sudah siuman dan bisa diajak bicara meskipun terlihat lemah.

"Kapan Eomma pingsan, Ga?"

Dega paham Eomma membutuhkan jawaban, walaupun sebenarnya ia ingin ibunya beristirahat total. "Beberapa saat setelah Papa pergi."

"Lalu di mana Papa? Dia nggak ke sini?"

Dega tercenung. Melihat wajah Eomma yang terluka, mungkinkah Eomma merindukan Papa? Namun, Dega ingin ibunya mengetahui fakta. Berhenti berharap adalah hal yang lebih baik dilakukan. "Papa nggak ke sini. Eomma minta ke sini pun Papa nggak akan melakukannya."

Eomma terdiam sesaat. "Ah ya, bener juga. Wajar sih Papa nggak akan ke sini."

"Itu bukan hal yang wajar, Ma. Itu kurang ajar." Emosi Dega kembali tersulut. Ia kemudian merasakan tangannya yang gemetaran digenggam Eomma.

"Ga, kamu belajar yang benar, jadi laki-laki yang sukses. Jangan pernah berperilaku seperti ayahmu. Dia itu pembohong."

Dega hanya mengangguk. Ia benci harus membahas Papa yang sebenarnya sudah tidak penting lagi untuk dibicarakan. Ia ingin mendiskusikan hal yang lebih penting, yang hanya berkaitan dengan ia atau ibunya. "Eomma kenapa nggak kasih tahu aku kalau Eomma sakit?"

"Eomma juga baru tahu sebulan lalu. Eomma mau kasih tahu kamu, tapi Eomma ada masalah sama ayahmu. Jadi, Eomma mutusin urus masalah Eomma sama ayahmu dulu. Maaf ya, Eomma nggak bermaksud membuatmu khawatir."

Dega kemudian mengingatkan ibunya tentang suatu hal. "Eomma harus cuci darah minimal seminggu dua kali."

Eomma mengangguk lemah. "Kamu tenang saja, Eomma punya asuransi kesehatan."

"Tapi tetap aja Eomma jadi sering ke rumah sakit. Sekolahku jauh dari sini." Dega sudah memulai rencananya. Jika gagal, ia tidak akan bisa melangkah maju.

Eomma menatap Dega penuh tanya. "Ya, nggak masalah, kamu pikirin aja sekolahmu."

"Aku mau nemenin Eomma cuci darah di sini. Waktunya kan lama,bisa memakan dua sampai empat jam." Dega mengetahuinya dari dokter Raya.

"Dega, Eomma akan baik-baik saja-"

"Aku boleh pindah sekolah dekat rumah sakit ini? Kemarin aku udah keliling dan nemuin ada sekolah dekat sini. Biar aku bisa langsung ke sini pas Eomma cuci darah, setelah itu kita bisa pulang bareng ke rumah."

Eomma terdiam sebentar. Seperti sedang memikirkan rencana Dega. "Sebenarnya itu bukan usulan buruk, tapi sekolah ini agak jauh dari rumah-"

"Itu udah kupikirin. Bukan hal berat karena prioritasku nemenin Eomma cuci darah."

"Baiklah, kamu ingin pindah ke sekolah mana?" Eomma terharu dengan pernyataan Dega.

"Dari sini jalan kaki cuma sepuluh menit. Namanya SMA Dwi Bangsa."

"Nanti Eomma yang urus kepindahanmu. Semoga saja berjalan dengan lancar ya."

"Aku bakal bantu."

Ada gejolak aneh yang muncul di hati Dega. Ia begitu senang ibunya setuju soal kepindahan sekolahnya, tapi ia juga sedih karena terpaksa berbohong. Alasannya pindah bukan sepenuhnya karena ingin menemani Eomma cuci darah. Ia mengutamakan balas dendam pada seseorang yang sudah merenggut kebahagiaannya. Misi ini akan ia lakukan sampai keluarga itu berantakan, sama seperti keluarganya yang tak lagi lengkap.

***

Bu Syana mengumumkan hal penting di pagi ini berkaitan dengan reputasi sekolah mereka. "Ibu harap kalian dengarkan baik-baik, karena Ibu juga butuh dukungan dari kalian."

Semua murid 11 IIS 1 mendengarkan penjelasan Bu Syana baik-baik.

"Sekitar tiga bulan lagi, Kiara dan Fata akan mewakili sekolah kita di ajang film maker muda di Busan, Korea Selatan."

Tepuk tangan yang riuh pun terdengar di seluruh kelas.

Fata yang duduk di belakang Kiara tersenyum sembari bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Sementara itu Kiara yang duduk sendirian di bangku depan lebih bersikap netral. Meskipun dia diam saja, sebenarnya ia juga menunggu hal ini tiba.

"Jadi, tolong doakan rekan-rekan kalian juga ya agar berhasil di ajang itu." Bu Syana kemudian bertepuk tangan dan disusul oleh yang lainnya.

Kemudian jam istirahat berbunyi dan Bu Syana mempersilakan semua murid di kelas itu untuk beristirahat.

Fata menggunakan kesempatan ini untuk bisa berduaan dengan Kiara. "Ra, ke kantin bareng yuk."

Kiara tampak tidak kaget dengan ajakan itu. "Gue mau makan bareng Quina."

"Ah, gitu ya. Oke deh..." Fata langsung mundur karena tidak ingin melihat wajah cemberut Kiara. Ia benci membuat Kiara bete.

Quina, yang mendengar percakapan mereka, langsung meletakkan tangannya di bahu Fata yang lebih tinggi 10 cm darinya. "Jangan ditolak gitu dong, Kiara. Gue nggak apa-apa kok jadi kambing congek. Lo sama Fata bukannya mau diskusi soal film nanti?"

Dalam hati Fata merasa senang karena Quina membantunya agar bisa berdekatan dengan Kiara.

Kiara berpikir sejenak, tapi ia perlu bertanya sekali lagi. "Emangnya ada yang mau dibicarain sama gue, Ta?"

Fata langsung mengangguk. "Ya, sepertinya kita masih harus diskusi soal film nanti."

Kiara akhirnya setuju. "Baiklah."

Mereka pun akhirnya ke kantin bersama-sama.

***

Kantin SMA Dwi Bangsa cukup luas. Ada banyak kedai yang bisa dipilih oleh murid-murid di sana. Ada bakso, pempek, lontong sayur, karedok, minuman jus, kopi, kebab, dan berbagai kedai lain yang sekarang dipenuhi oleh murid-murid.

"Kayaknya kita perlu diskusi soal ini nanti habis pulang sekolah. Lo bisa?"

"Pulang sekolah nanti gue bakal dijemput Mama."

Fata sepertinya lupa, tapi ia rasa hal itu tidak perlu dipusingkan. "Ibu lo kan bisa jemput habis kita diskusi soal ini."

Kiara tampak berpikir lagi. "Kita diskusi di Kafe Ambar aja." Kemarin pagi ia sarapan bersama keluarganya di tempat itu.

"Deal." Fata tahu ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja untuk bisa berduaan dengan Kiara.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Entwine-BAB 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya