Comscore Tracker

[NOVEL] Entwine-BAB 5

Penulis: Pretty Angelia Wuisan

Bab 5: Lo Artis, Ya?

 

Dega berhasil masuk sebagai murid baru SMA Dwi Bangsa. Dua minggu lalu, ia mendapatkan banyak informasi tentang Kiara. Ia tahu di mana kelas Kiara dari akun Instagramnya. Ia tahu Kiara senang menulis.

Hal-hal remeh yang Kiara sukai bisa menjadi senjata Dega ketika mendekatinya nanti. Ia nekat masuk penjurusan IPS, padahal di sekolah sebelumnya ia masuk penjurusan IPA. Sebenarnya Dega tidak jago-jago amat di mata pelajaran IPA, tapi sepertinya ia perlu kerja keras masuk penjurusan IPS karena ia sangat benci menghafal.

Sekarang, Dega berdiri diri depan kelas 11 IIS 1. Semua penghuni kelas tengah memperhatikannya.

Ada Bu Syana, wali kelas yang mengenalkan Dega kepada murid-murid.

"Aku Handega Kim Batara. Salam kenal ya. Mohon bantuannya."

Kelas tersebut agak berisik, tapi kemudian ditenangkan oleh Bu Syana. "Dega, kamu duduk di belakang, ya. Nggak apa-apa kan duduk sendirian?"

Dega mendengus kesal. Bu Syana seperti menganggapnya sebagai anak kecil, padahal ia tidak masalah duduk sendiri kalau tidak punya tujuan apa-apa di sini. Namun, ia punya rencana lain yang akan langsung dilaksanakan.

Mata Dega fokus pada Kiara yang duduk di meja depan dekat pintu masuk. "Saya mau duduk di sana, Bu." Ia menunjuk ke bangku di sebelah Kiara.

Kiara menegakkan tubuhnya. Seumur-umur sekolah di sini, ia selalu menjadi teman sebangku yang menyebalkan, dan membuat teman-temannya menyingkir. Fata yang ingin duduk bersamanya bahkan tidak pernah berani menginjakkan kaki ke teritorialnya.

"Ya, sudah, kamu duduk di sana." Bu Syana menatap Kiara dengan senyuman tulusnya. "Kiara, tolong bantu Dega ya."

Mendengar nama itu berkali-kali, Kiara tiba-tiba teringat sesuatu. "Dega?"

Dega tanpa ragu duduk di sebelah Kiara dan menawarkan tangannya untuk berjabat. "Gue Dega. Salam kenal ya."

"Kiara. Gue udah tahu lo."

Deg!

"Hah?" Mampus. Harusnya dia nggak tahu gue kan? Dia tahunya istrinya Papa meninggal, dan nggak punya anak. Dega berusaha mempertahankan aktingnya. Ia tersenyum lebar. "Masa sih? Gue aja baru ketemu lo sekarang."

"Gue juga baru ketemu sama lo sekarang."

Dega pun tertawa. "Terus gimana ceritanya? Lo tadi bilang udah tahu gue."

"Ibu gue nyebut nama lo tiba-tiba dan bilang kalau lo-tunggu." Kiara mencoba mengingatnya. "Ibu gue bilang lo itu artis."

Dega kian tertawa. Kepalanya bahkan sampai terangkat. Apaan sih ini cewek nggak jelas banget. "Sayangnya gue bukan artis, Kia."

"Panggil gue Kiara, gue nggak mau disamain kayak merek mobil."

Dega mematung.

Siapa juga yang nyamain nama lo sama merek mobil? Ini cewek aneh banget sih. Dega memperhatikan penampilan Kiara. Ngapain juga dia pake sweater panas-panas gini?

"Sekarang kita mulai pelajarannya ya." Bu Syana membuyarkan lamunan Dega.

"Geser," ujar Kiara sembari mengeluarkan buku-buku dari bawah meja.

Dega membelalak karena Kiara membuat pembatas di meja dengan buku-buku miliknya. Semuanya buku-buku bertema sejarah yang membuat Dega pusing. Sejak dulu, ia tidak pernah menyukai pelajaran itu. Untuk apa sejarah dipelajari? Rata-rata isinya hanya isapan jempol alias dikarang-karang.

Dega sudah berusaha walaupun Kiara belum tertarik kepadanya. Ya, ia tahu mendekati cewek itu tidak semudah memasak mi instan, jadi ia harus melakukannya dengan sabar. Dega merasa aura Kiara ketika kali pertama ia melihatnya di kafe dan di sekolah tampak berbeda. Bersama dengan orangtuanya, Kiara tampak lebih menahan diri. Di sini Kiara menjadi sosok pendiam, tapi menyebalkan.

Gue pasti bisa melewati ini. Dega pun mendengarkan penjelasan Bu Syana. Mereka sedang membahas tentang sejarah Republik Indonesia Serikat. Dega merasa kepalanya pusing melihat tahun-tahun dan nama-nama yang harus dihafalkannya agar bisa lulus dengan baik.

Dega melirik Kiara sejenak yang tengah memperhatikan penjelasan Bu Syana dengan baik. Inget, Ga, ibu cewek ini yang udah ngebuat keluarga lo hancur. Lo juga harus bisa ngehancurin dia.

***

Sekarang sudah masuk jam istirahat dan Dega sangat lapar.

"Kiara, ke kantin yuk."

Dega memperhatikan cowok yang rambutnya agak kribo dipotong pendek. Ia menyadari bahwa cowok itu tidak memperhatikannya, sengaja atau tidak.

Kiara diam saja, tapi ia mengikuti ke mana cowok itu pergi.

"Eh, tunggu dulu. Kiara, lo masa nyuekin anak baru sih?"

Kiara dan cowok berambut kribo berhenti sejenak.

Dega tersentak melihat cewek berambut cokelat panjang yang ditemuinya beberapa waktu lalu ada di kelas ini. Ia tiba-tiba merasa aneh dengan dirinya sendiri. Perasaan macam apa ini? Betul cewek ini cantik dan beda jauh dengan Kiara yang berniat akan dipacarinya, tapi ia harus bisa mengendalikan diri agar misinya sukses besar.

"Yuk, ke kantin bareng kami," ajak cewek yang Dega belum dikenal itu. "Oh ya, nama gue Quina."

Dega pun tersenyum kecil, dan menerima ajakan itu.

***

Dega akhirnya mengetahui cowok yang cuekin dia tadi bernama Fatansa, dan biasa dipanggil Fata.

"Duh, pelajaran sejarah bikin gue ngantuk." Quina menguap panjang.

"Tadi gue cukup menikmati pelajarannya. Republik Indonesia Serikat sampai ganti kabinet berkali-kali. Bangsa kita punya orang-orang hebat, tapi punya kepentingan masing-masing. Terus-"

"Kiara, sekarang lagi istirahat kali." Quina langsung memotong ucapan Kiara, karena kalau tidak begitu, Kiara akan terus nyerocos.

"Sori, kelepasan."

"Gue selalu mempertanyakan kenapa pelajaran sekolah harus ada sejarahnya. Itu tuh buang-buang waktu. Pas udah dewasa nanti, kita nggak akan ngebahas tentang sejarah negara ini.Kita bakal pusing cari duit."

"Ini masalah passion, Quin. Lo dan makeup lo nggak akan ngerti."

"Hm, mulai deh galak. Gue kan cuma nyampein pendapat."

Dega terdiam mendengar percakapan dua cewek ini. Mereka sebenarnya berteman atau apa sih? Terlihat akrab dan juga tidak akrab.

Ia tahu ini adalah waktu yang tepat untuk mencari perhatian Kiara. "Menurut gue pelajaran sejarah yang ada di sekolah itu penting. Bukan karena bisa kita ambil pelajaran darinya, tapi kita jadi tahu mana sejarah yang dimanipulasi, dan yang terjadi sesungguhnya."

"Maksud lo?" Kiara tidak mengerti apa yang Dega ucapkan.

"Lo tahu nggak orang asli Jepang nggak tahu kalau negaranya dulu bikin menderita jutaan orang Asia? Pemerintah Jepang nggak nyeritain kejahatannya sendiri ke penduduknya, tapi kita belajar dan tahu bahwa Jepang tidak sesempurna yang dipikirkan penduduknya."

Kiara menatap Dega tanpa berkedip, tapi ketika Dega menatapnya balik, ia membuang muka.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
Youtube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Entwine-BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya