Comscore Tracker

[NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 4

Penulis: Indah Hanaco

Prilly sontak mengehus keponakannya karena sudah bicara melantur. "Om ini tetangga yang tinggal di depan, Mel," ralatnya. Perempuan itu melebarkan daun pintu agar Valda dan Julien bisa masuk.

"Nah, Mel aja bisa ngeliat kalau kalian cocok," Valda langsung menyambar. Seringainya tergambar kemudian. "Tante Valda memang pengin ngejodohin mereka berdua, Mel. Kamu setuju, nggak?"

"Setuju, dong," balas Camelia sedetik kemudian. "Tanteku kelamaan jomlo. Padahal cantik dan keren. Payah nih cowok-cowok di luar sana."

Prilly melirik Julien sembari mengedikkan bahu tak berdaya. Lelaki itu tertawa kecil. "Seharusnya Mel jadi keponakan Valda. Sama-sama tukang ikut campur."

Perempuan yang disebut namanya itu melewati Prilly, melenggang dengan kue ulang tahun yang ditempatkan di dalam kotak transparan yang cantik. Julien mengekori setelah diperkenalkan dengan Camelia. Kedua tangan pria itu dipenuhi kotak makanan. Logo restorannya terpampang dengan jelas.

"Kami datang ke sini untuk ngerayain ulang tahunmu, Ly. Aku sengaja ngebajak Julien dari restoran."

Entah kalimat bujukan seperti apa yang digunakan Valda untuk "membajak" pria yang sedang bekerja. Prilly tiba-tiba merasa tak enak pada Julien. Selain itu, meski dia sangat senang karena Valda datang dan mengingat hari lahirnya, Prilly tak terlalu nyaman dengan kehadiran Julien di acara istimewanya ini. Bukan apa-apa, Julien tetap saja orang asing. Bukankah seharusnya hari ulang tahun dirayakan hanya dengan orang-orang terdekat?

Namun, Prilly tidak memiliki banyak kesempatan untuk fokus pada ketidaknyamanannya. Karena Camelia sudah mulai menyanyikan lagu "Happy Birthday" setelah didahului keluhan karena Prilly tidak memberitahunya tentang hari istimewa itu. Di depan Prilly, Valda dan Julien ikut bernyanyi.

Valda memegang kue ulang tahun yang sudah dipasangi dua buah lilin kecil. Prilly senang karena temannya tidak memilih lilin berbentuk angka. Saat ini Prilly tidak ingin diingatkan tentang usia dan hidup datar yang dimilikinya.

Sebelum meniup lilin, Prilly menerbangkan doa dengan sungguh-sungguh. Meminta kepada Tuhan agar memberinya banyak keajaiban di tahun ini, sehingga hidup Prilly bisa berubah drastis. Tentunya dalam arti yang positif.

Rumah yang ditempati Prilly memiliki ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. Ada sebuah sofa panjang untuk tiga orang. Di depannya ada meja kopi persegi. Sebuah televisi menempel di dinding, tepat di seberang sofa. Lalu, ada dapur sekaligus ruang makan. Si pemilik rumah menempatkan meja makan yang dilengkapi dengan dua buah kursi. Karena ruangan itu terlalu sempit, mereka akhirnya menyantap makanan yang dibawa Julien di ruang tamu. Valda dan Camelia memindahkan meja kopi sehingga mereka bisa duduk di lantai.

"Om yang punya restoran ini?" Camelia memandang Julien dengan mata berbinar. Tangan kanannya menunjuk ke arah logo di kotak makanan miliknya. Suara gadis remaja itu terdengar antusias.

"Iya," balas Julien. Lelaki itu tidak makan sama sekali. Dia beralasan masih kenyang. "Enak, Mel?"

"Banget, Om," respons Camelia. Gadis belia itu kembali menyendok makanannya dan kembali mengunyah. Tak lama kemudian, tatapannya beralih pada Prilly. "Kenapa kita nggak pernah makan di tempatnya Om Julien, Tan? Mi sawi pakai daging cincangnya enak banget." Keponakan Prilly mengacungkan jempol kanannya.

"Tante juga belum lama taunya. Nanti deh kapan-kapan kita ke Meeting Point," balas Prilly.

"Ini makanan sehat kan, Om? Soalnya, mi ini terbuat dari sayuran. Cocok nih buat aku, lagi diet soalnya," celoteh Camelia lagi.

"Meeting Point memang berusaha nyediain makanan sehat tapi tetap enak." Julien menumpukan perhatian pada Camelia. "Kenapa diet? Anak seumuran kamu belum perlu mikirin jumlah kalori tiap kali mau makan."

Camelia seketika tampak murung. "Habis, gimana lagi, dong? Aku tiap hari diledek karena gendut. Dikasih julukan macem-macem. Aku pernah kena skors karena nonjok orang yang manggil aku Kulkas Jumbo Empat Pintu."

Prilly menyaksikan mata Julien terpicing. Sebenarnya, dia ingin memberi isyarat agar Camelia tidak membahas soal itu di depan Julien. Lelaki ini adalah pria yang baru mereka kenal. Tidak perlu dilibatkan dalam perbincangan yang cukup pribadi.

Berat badan Camelia yang baru berusia empat belas tahun itu memang naik lumayan signifikan setahun terakhir. Belakangan, hal itu menjadi masalah baru karena menyebabkan anak itu dirisak teman-temannya. Di masa lalu, Prilly pernah mengalami problem yang sama. Jadi, dia tahu betul perasaan yang dikecap keponakan satu-satunya itu.

"Kalaupun pengin nurunin berat badan, nggak perlu sampai diet aneh segala, ya. Kurangi aja asupan makanan. Itu pun jangan terlalu ekstrem. Jangan melewatkan sarapan karena justru nggak bagus efeknya. Kamu masih dalam masa pertumbuhan. Takut ada efek jelek kalau udah serius diet.."

Camelia yang memang mudah akrab, menjadi teman mengobrol yang cerewet bagi Julien. Keduanya membicarakan tentang Meeting Point, pelajaran di sekolah, teman-teman Camelia yang sering merisaknya, hingga pengalaman Julien selama tinggal di Kanarivera.

"Ngapain kamu ngajak Julien ke sini?" bisik Prilly saat dirinya dan Valda berada di dapur. "Aku kan nggak enak karena dia sampai bawain makanan segala."

Valda menjawab santai, "Misiku masih sama, mau ngejodohin kalian berdua. Momennya kan pas, kamu lagi ulang tahun."

Jawaban Valda membuat Prilly berdecak kesal. "Tetep aja, nggak seharusnya ngajak dia. Lagian, aku juga baru kenal sama dia. Nggak..."

"Udah deh Ly, katanya mau keluar dari zona nyaman. Bagian cemas ini-itu kan termasuk zona nyamanmu. Nggak usah balik ke sana lagi." Valda tertawa kecil. "Nikmatin aja makan siang gratis yang enak dan sehat. Bonusnya, Mel punya teman ngobrol yang bikin dia betah. Asal jangan keponakanmu jatuh cinta sama Julien aja. Kalau iya, bisa gawat," guraunya

Prilly menyerah. Valda terlalu ahli bersilat lidah. Perempuan itu seolah punya semua jawaban untuk setiap pertanyaannya. "Terserah kamu aja deh. Capek aku ngomong sama kamu. Udah dibilangin, kami nggak cocok jadi pasangan." Prilly mengedikkan bahu. "Gih, cepet nikah. Biar kamu sibuk ngurusin Abe dan nggak punya waktu ngerecokin hidupku."

Valda terbahak-bahak. "Aku nggak ngerecokin hidupmu, Ly. Aku cuma pengin kamu bahagia," komentarnya. Perempuan itu menyikut Prilly. "Mel beneran nyaman ngobrol sama Julien. Kayak orang yang udah kenal lama aja."

Prilly memperhatikan Julien dan Camelia yang masih berbincang sambil duduk di lantai. Mau tak mau, Prilly diingatkan pada hubungan keponakannya dengan sang ayah, Irwin. Kesibukan iparnya yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi selalu dijadikan alasan. Irwin memang nyaris selalu pulang malam, akhir pekan pun kadang masih bekerja.

Prilly tidak setuju jika kesibukan bisa dijadikan pembenaran untuk hubungan ayah dan anak yang berjarak. Karena dulu ayahnya meski punya kesibukan segudang, tetap dekat dengan ketiga putrinya. Namun, masalah Camelia dan Irwin bukan urusannya.

Setelah Valda dan Julien meninggalkan rumahnya, Prilly memutuskan untuk mengajak Camelia menikmati sisa hari istimewanya. Dia memberi kesempatan pada sang keponakan untuk membuat keputusan.

Gadis muda itu memiliki banyak permintaan. Salah satunya, Camelia ingin ditemani berkeliling Gerha Kanal dengan naik perahu. Prilly pun menyanggupi. Dia hanya perlu menghubungi petugas yang mengurusi masalah gondola itu sebelum mereka diantar berkeliling. Setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam mengitari perumahan dengan pemandangan cantik itu, keduanya kembali ke rumah Prilly untuk mandi.

Seusai magrib, Prilly menggenapi permintaan selanjutnya dari Camelia. Seperti umumnya gadis sebayanya, mal menjadi tujuan yang diinginkan. Mereka mendatangi salah satu mal yang paling dekat dengan rumah Camelia. Karena dari situ Prilly akan mengantar keponakannya pulang. Camelia juga mengajak menonton di bioskop. Namun tak ada film yang menarik. Prilly akhirnya membelikan sebuah gaun cantik dan sepatu untuk keponakannya.

"Kenapa aku yang dibeliin hadiah? Kan ini ulang tahunnya Tante," protes Camelia sambil memeluk gaun yang baru dicobanya dengan wajah senang. Tantenya tersenyum geli.

"Ya nggak apa-apa, Mel. Yang ulang tahun bukan berarti harus dikasih kado. Kan tadi Tante udah dibawain kue dan makanan sama Tante Valda dan Om Julien. Trus kalian udah nyanyiin lagu dan ikut doain. Itu udah lebih dari cukup."

Camelia maju dua langkah untuk berjinjit dan mencium pipi Prilly. "Tante memang keren banget. Sering-sering aja, ya? Aku paling suka dibeliin baju dan sepatu."

Ketika ditawari makan malam, Camelia menolak karena masih kenyang. Mereka akhirnya memasuki toko buku dan bertahan cukup lama di tempat itu. Prilly membeli buku motivasi dan novel, sementara Camelia memilih komik sains dan fiksi remaja.

Mereka sedang mengantre di kasir saat seseorang mencolek bahu kanan Prilly. Menoleh dengan buru-buru, perempuan itu langsung membatu ketika melihat wajah familier yang sudah tidak dilihatnya selama satu tahun terakhir ini. Decky.

"Apa kabar, Ly? Kamu sekarang tinggal di mana? Kemarin aku ketemu Clara, katanya kamu mau pindah. Aku udah balik ke sini, baru semingguan," cerocos Decky. Yang membuat Prilly tak nyaman, pria itu memandanginya dari atas ke bawah. "Kamu sekarang kurusan dan makin cantik. Sukses dietnya, ya?"

Seketika, semua siksaan yang dijalani Prilly saat berada di gym hingga nyaris pingsan, tergambar di kepalanya. Lengkap dengan teriakan-teriakan penyemangat dari Decky dan membuatnya bermimpi buruk berminggu-minggu. Perempuan itu sontak merasa mual.

"Halo, Ky." Prilly hanya mampu mengucapkan itu sebelum permisi menuju kasir yang sudah kosong. Lalu, dia berjalan secepat mungkin, mengabaikan protes Camelia yang tertinggal di belakang. Mereka menuju toilet dan Prilly benar-benar muntah di sana.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 5

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya