Comscore Tracker

[NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 5

Penulis: Indah Hanaco

Mulanya, dia tidak antusias saat Valda datang ke restoran sembari membawa kotak kue yang diakui sengaja dibeli untuk Prilly. "Trus, kenapa kamu malah bawa kotak kuenya ke sini?" tanya Julien curiga.

"Pertama, aku belinya di sebelah, jadi bisa sekalian mampir ke sini. Kedua, aku pengin ngajak kamu ikutan ngerayain ulang tahunnya Prilly. Sekali-kali, keluar dari restoran pas jam makan siang dong, Ju. Biar nggak butek gitu."

Kalimat asal-asalan Valda membuat Julien mengecimus untuk membuat temannya kesal. Namun Valda tampaknya tidak terganggu. "Masih niat untuk jadi makcomblang kami? Aku dan Prilly sama-sama nggak tertarik, terimalah fakta itu."

Valda malah mengedikkan bahu. "Usaha sih jalan terus. Paling nggak, udah ada kemajuan. Sekarang kalian udah jadi tetangga, nggak cuma kenalan sambil lalu doang. Aku optimis, masa depan kalian bakalan cerah."

Julien terbahak-bahak. "Gih, jadi cenayang sono, Val. Sok tau banget."

"Yang awalnya nggak tertarik, bahkan saling benci, sering malah jadi pasangan, kan? Udah sering banget ketemu kasus kayak gitu." Tatapan gelinya terlihat jelas. "Nggak usah total banget kalau nolak, Ju. Tau-tau nanti beneran bisa suka sama Prilly, kan malunya pol, tuh!"

Andai Valda adalah adonan mi organik, Julien dengan senang hati akan membantingnya sekuat tenaga. Sayang, perempuan ini adalah teman lama yang lebih mirip saudara keempatnya. Dulu, Valda paling dekat dengan Barra. Hingga Barra menikah sekitar dua tahun silam. Setelah itu, Valda malah memutuskan menggunakan waktu luangnya untuk mengganggu Julien.

Akhirnya, Julien setuju untuk mengekori Valda ke rumah Prilly. Dia sengaja membawakan beberapa menu andalan Meeting Point karena bertepatan dengan jam makan siang. Meninggalkan restorannya saat jam sibuk bukanlah sesuatu yang membuat Julien cemas. Dia memiliki orang-orang kepercayaan yang akan mengurus Meeting Point dengan baik selama Julien tidak ada di tempat.

Dia cukup kaget saat tahu bahwa usia Prilly sudah memasuki angka 32, informasi yang didapat tak sengaja saat "menguping" obrolan Camelia dan tantenya. Julien awalnya mengira Prilly jauh lebih muda.

Setelah kembali dari acara sederhana di rumah Prilly, Julien dikabari bahwa tadi ada dua orang yang datang mencarinya. Keduanya ingin berterima kasih karena bertemu di Meeting Point tahun lalu dan akan menikah dua minggu lagi. Mereka juga menitipkan undangan untuk diserahkan pada Julien.

Yang mengejutkan, menjelang jam makan malam Julien kedatangan tamu lain. Kali ini, bukan pelanggan yang berhasil menemukan jodohnya di Meeting Point. Melainkan perempuan cantik yang membuat Julien sempat mengerjap berkali-kali karena mengira salah lihat.

"Juju, halo. Kaget, ya?" Perempuan itu berdiri dari tempat duduknya seraya melambai.

Hanya satu orang di dunia yang memanggil Julien dengan nama mengerikan itu. Dia buru-buru tersenyum sembari mendekati tamunya. Perempuan itu kembali duduk setelah mereka bersalaman dan bertukar sapa.

"Kamu sendirian?" Julien memandang ke arah sekelilingnya.

"Iya, sendirian. Barra lagi ke luar kota," gumam perempuan bernama Olivia itu. "Aku lagi pengin makan di sini. Udah lama nggak makan mi tomat kuah."

Julien langsung berpaling pada salah pramusaji dan melisankan pesanan untuk tamunya. Setelahnya, dia kembali menumpukan konsentrasi pada Olivia. Mereka sudah bersahabat sejak masih SMA, bertiga dengan Adjie. Hingga Adjie meninggal karena terlibat tawuran, meninggalkan Julien dan Olivia. Kematian Adjie membuat mereka semakin dekat.

Dua tahun silam, Olivia mengejutkan Julien saat mengumumkan akan menikah dengan Barra. Padahal, selama bertahun-tahun radar Julien tidak mendeteksi kedekatan keduanya lebih dari sekadar teman. Menurut Olivia, belakangan kakak kandung Julien mendekatinya dengan intens. Hingga perempuan itu akhirnya luluh dan membalas cinta Barra. Tak mau berlama-lama pacaran, keduanya sepakat menikah setelah berpacaran beberapa bulan.

"Kamu udah kayak anak hilang aja. Tiap kali ada acara keluarga, nggak pernah datang. Kalau aku pas main ke rumah, Mama sering ngeluh karena kamu sibuk banget."

Julien merentangkan tangan. "Aku nggak bisa sering-sering ninggalin restoran, Liv. Meeting Point fondasinya belum kuat. Aku harus fokus ngurusin tempat ini. Toh, tiap bulan aku pasti pulang dan nginep di rumah. Yang bisa disebut anak hilang cuma Ernest, bukan aku."

"Aku dan Barra juga bilang gitu. Kamu pasti sibuk banget karena harus ngurus semuanya sendiri. Tapi namanya orangtua, pasti nggak puas sama jawaban semacam itu. Apalagi kamu kan anak bungsu, Ju. Wajarlah Mama paling cemas sama kamu."

Anak bungsu dan belum menikah, itu yang lebih tepat. Tak nyaman dengan kalimat yang berkelebat di kepalanya, Julien lebih suka membahas masalah lain. "Kamu ada keperluan di sekitar sini? Jauh amat sampai datang ke Kanarivera segala."

"Ih, curigaan! Apa nggak boleh kalau aku kangen makan di sini? Kangen juga sama yang punya restoran."

Julien tersenyum dan berdoa diam-diam semoga dia tak terlihat seperti orang tolol. "Ya nggak, sih. Cuma bayangin kamu harus nyetir sejauh ini, agak gimana ya? Apalagi kamu sendiri."

"Nggak apa-apa, sekali-kali. Udah lama juga nggak nyetir jauh. Biasanya paling banter ke kantor doang."

Pramusaji membawakan pesanan untuk Olivia. Mi tomat kuah selalu menjadi favorit perempuan itu tiap kali mendatangi Meeting Point. Namun, seperti kata Olivia tadi, dia sudah lama tidak datang ke restoran milik iparnya. Makanya, Julien tidak terlalu yakin jika ini cuma kebetulan belaka. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang membuat Olivia datang ke sini. Akan tetapi, meski Julien berusaha memperhatikan iparnya dengan saksama, tiada tanda-tanda bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.

Meski begitu, kesimpulan itu tidak memuaskan Julien. Pria itu bertanya-tanya, sejak kapan mereka menjadi begitu kaku? Dulu, begitu bertemu, semua pertanyaan yang berputar di kepala lelaki akan dilisankannya di depan Olivia. Sekarang, untuk mencari tahu alasan sesungguhnya hingga Olivia datang sendiri pun dia tidak bernyali.

"Kamu nggak usah nungguin aku kalau lagi sibuk, Ju. Restoran lagi rame gini, nggak masalah kalau aku ditinggal."

"Nggak apa-apa, anak-anak bisa ngurus, kok. Kamu kan datang ke sini nggak sebulan sekali. Jadi, nggak boleh ditinggal."

Ya, permintaan itu takkan dikabulkan oleh Julien. Karena Olivia adalah tamu istimewa. Entah kapan lagi perempuan itu akan datang berkunjung. Jadi, Julien tak keberatan menghabiskan waktu bersama iparnya saat restoran sedang ramai.

"Ju, kapan nih mau ngenalin pasangan ke aku? Jangan bilang masih jomlo atau sejenisnya. Karena aku nggak bakalan percaya," cetus Olivia di sela-sela obrolan mereka. "Mama sering banget ngomong kalau pengin ngeliat kamu punya keluarga kayak yang lain."

"Mau gimana lagi kalau nyatanya memang kayak gitu, Liv? Kamu percaya nggak kalau kubilang lagi nikmati saat-saat fokus sama kerjaan tanpa interupsi apa pun termasuk pasangan?" Julien berusaha tetap santai. "Lagian, aku masih muda, 29 tahun juga belum genap. Ernest yang harusnya dicemaskan, udah lewat 30 tahun," imbuhnya diiringi tawa kecil.

Julien lega karena Olivia tidak membahas lebih detail tentang pasangan. Itu adalah tema yang tak ingin dibicarakannya, terutama dengan perempuan ini.

Secara fisik, Olivia masih seperti yang diingat Julien. Lebih dari sekadar cantik. Perempuan itu berdandan dengan sempurna. Tidak berlebihan. Olivia adalah perempuan mungil jika dibandingkan Barra, apalagi Julien yang memiliki tinggi 181 sentimeter. Dia memang si bungsu tapi justru tubuhnya paling menjulang.

Tinggi Olivia 158 sentimeter, dengan kulit berkilau yang membuatnya mirip porselen. Perempuan itu memiliki rambut lurus sebahu, tubuh cenderung kurus, wajah menawan, serta tawa yang membuatnya terlihat kian menarik. Sejak SMA, Olivia serupa medan magnet bagi lawan jenisnya. Perempuan itu ditakdirkan menjadi penambat pandang yang membuat para lelaki tak berkedip. Beruntunglah Barra karena Olivia menjatuhkan pilihan padanya.

"Bulan depan kan Barra ulang tahun. Aku pengin bikin semacam pesta kejutan gitu di rumah Mama. Kamu bisa datang, kan? Biar keluarga kita ngumpul semua."

Julien bahkan tidak ingat jika kakaknya akan merayakan hari lahirnya tak lama lagi. Hal itu membuatnya merasa bersalah. Dia memang sudah menjauh dari keluarganya, sadar atau tidak. "Kamu atur aja semuanya. Nanti aku bawa salah satu koki untuk masak."

Olivia bertepuk tangan. "Duh, baru tau kayak gini enaknya karena ada saudara yang punya restoran. Masalah makanan nggak perlu pusing."

Perempuan itu meninggalkan Meeting Point hampir pukul delapan. Julien berdiri lama di depan restorannya, meski mobil yang dikemudikan Olivia sudah menghilang. Tahu tidak ada yang bisa dilakukannya, Julien pun masuk dan menunggu hingga restoran tutup. Setelahnya, barulah dia pulang. Itulah rutinitas yang dijalani Julien sejak pindah ke Kanarivera.

Lelaki itu menghentikan mobilnya di halaman parkir Gerha Kanal tepat pukul setengah sebelas. Dari tempat itu, Julien biasanya berjalan kaki menuju rumahnya. Kecuali saat hari hujan. Dari pintu gerbang utara, perjalanannya hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit.

Julien baru berjalan kurang dari lima belas langkah saat sesuatu menarik perhatiannya. Tepatnya, seorang perempuan yang berjongkok di ujung area parkir sembari mengeluarkan suara seperti sedang muntah. Tanpa ragu, Julien mendekat ke arah perempuan asing yang sudah pasti salah satu tetangganya.

"Mbak, apa..." Kalimatnya terpatahkan karena perempuan itu mendadak berdiri dan berbalik ke arah Julien. Wajah familier di depannya itu membuat Julien terkejut. "Prilly? Kamu sakit, ya? Mau ke dokter? Ada klinik di blok sebelah. Yuk, kuantar."

Prilly menggeleng. "Aku nggak apa-apa. Muntahnya berkaitan sama masalah psikologis. Bukan karena sakit." Sedetik kemudian, perempuan itu berjalan tapi terlihat goyah. Hingga Prilly nyaris terjerembap karena tersandung kakinya sendiri. 

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Match Made in Heaven - BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya