Comscore Tracker

[NOVEL] Tanda Baca: Bab 3

Penulis: Luluk Kamilia 

Mengenang Langgur

 

Aku bergegas turun dari ranjang sembari mengembuskan napas. Tenang Sharena. Ini hanya obrolan ringan. Percayalah!

 

Kubuka pintu kamar. Kak Kyandra terkejut sekaligus bahagia. Dia melangkah mundur, memperhatikan tubuhku yang berdiri di ambang pintu. Menyadari rambut menghalangi penglihatan, aku menyisir rambut dengan jemari. Setelahnya, aku menarik kaus yang khawatir tersingkap.

“Boleh aku masuk?”

Aku hanya diam. Namun, Kak Kyandra mampu menangkap jawabanku setelah aku mengangguk setuju. Langkah kami pelan, tetapi pasti.

“Kenapa kamu mau jadi relawan?”

“Aku dokter,” ungkapku yang sedang berjalan di belakang Kak Kyandra.

“Tapi nggak semua dokter jadi relawan.”

Pertanyaan mudah untuk aku jawab bila si penanya para awak media. Namun, aku kehilangan jawaban kala si penanya orang-orang terdekatku. Entah, semacam tak mampu mengungkap hal romantis.

Sebuah guling telah kudekap. Sementara itu, Kak Kyandra tampak jongkok memperhatikan isi koper dan ransel yang sudah terisi segala perlengkapan dan kebutuhan. Aku tidak ingin satu barang pun tertinggal. Wisma Atlet bukan pelosok negeri, tetapi di sana aku akan hidup bak di pelosok negeri. Jangankan membeli, keluar pun takkan bisa, kecuali aku menyudahi masa bakti.

“Setiap orang punya porsi berbeda-beda untuk berperan melakukan sesuatu,” ucapku tegas. “Kebetulan karena aku dokter, jadi ya aku ngerasa memang ini pekerjaan seorang Sharena. Aku harus melakukannya.”

“Kami sangat mencemaskanmu.”

Suara serak terdengar. Kak Kyandra menatapku. Aku salah tingkah setelah menemukan emosi tertahan. Di matanya terlihat ada genangan di beberapa titik.

“Aku tidak akan menyerah meski pandemi menyerang seluruh negeri. Bisa saja sih, aku angkat tangan, melambaikan gerak menyerah. Tetapi, aku rasa itu bukan pilihan bijak mengingat saat mengucap sumpah, aku telah menggunakan hati, membuatnya sebagai ucap bernyawa.”

“Baiklah. Sekarang, Kakak paham. Maafkan Kakak ya, Shar. Tadi Kakak tidak banyak membantu. Kamu memang perempuan tangguh. Perempuan hebat berhati mulia dan penuh tanggung jawab.”

“Sudahlah, kalimatmu terlalu nge-flow. Aku benci.” Aku beranjak dan berupaya memalingkan muka. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, aku merapikan seprai.

Kak Kyandra menangkap tubuhku, memeluk manja seolah aku akan pergi cukup lama. Dia sedang menumpahkan sesal. Aku terperangah dan menangis. Tangis ini seperti sayatan yang harus aku obati sendiri dengan kesadaran penuh bahwa peperangan esok memiliki medan lebih berat. Aku harus menggunakan perlengkapan perang secara lengkap, sedangkan musuh tidak pernah tampak.

“Sehat selalu, Shar. Selamat berjuang. Ketulusanmu akan menjadi bekal untuk mendapatkan laki-laki yang juga tulus menjagamu.”

Punggung bergetar. Aku sulit mengucap sepatah kata. Perasaan terberat saat bertugas adalah menahan rindu yang tiba-tiba datang. Aku paham risiko pekerjaanku. Covid-19 sedang membuat bumi mahaluas sakit. Sementara aku, siapa aku? Aku hanya makhluk kecil yang hanya berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan akan menjagaku.

“Sudah, cepat istirahat. Aku benci melihat wajah jelekmu. Mungkin ini pertemuan terakhir kita sebelum kamu bertugas. Selalu beri kabar tentang keadaanmu!”

Gerak punggung terus bergetar diikuti isak tangis. Suara tersangkut di kerongkongan hingga memunculkan ucap terbata. Aku mengalah. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Padahal, aku ingin kembali memeluknya. Namun, terlalu sulit. Kali ini, tangis merajai kesendirianku.

***

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mata mengamati setiap detail kamar seolah ini hari terakhir tidur di kasur kesayangan. Maka, dengan cepat, kenangan datang. Bisik sebuah pulau terngiang sebab cerita belum usai.

Pulau Kei.

Pulau paling menyayat jika aku mencoba mengingat setiap detail kejadian. Takut, ragu, dan bimbang. Semua tertuang dalam secangkir rindu. Harusnya, pekan depan aku terbang ke Pulau Kei. Panggilan hati mengusik, memintaku untuk kembali. Tentu, aku aku akan melanjutkan peran sebagai dokter relawan yang harus bertemu pasien di tengah minimnya fasilitas. Namun, pandemi menggagalkan segala rencanaku.

“Selamat bertugas di Pulau Kei,” tutur seniorku saat menemukanku kaku setelah mendengar nama Pulau Kei untuk kali pertama.

Dia menjabat tanganku seakan Pulau Kei medan terberat yang akan aku lalui. Apakah dia hendak menguji kecakapanku yang selalu dipuji karena aku terlahir sebagai perempuan? Peduli amat. Mereka yang terlalu mengotak-ngotakkan diri antara laki-laki dan perempuan.

“Terima kasih.” Aku membalas jabatan tangan dengan tegas. Aku isyaratkan bahwa aku takkan pernah gentar menghadapi berbagi medan tempur.

Sekilas, aku mencari tahu tentang Pulau Kei yang ternyata memiliki banyak keindahan laut. Boleh dikata, Pulau Kei merupakan replika Raja Ampat. Laut yang tenang dengan gundukan batu hijau menjadi daya tarik. Aku ingin segera pergi, melihat secara langsung. Setelah itu, aku akan mengapung, menikmati dialog sunyi. Kamera siap membidik momen terindah sepanjang karierku dari berbagai posisi.

Indonesia patut bersyukur menjadi negara kepulauan. Letaknya terlihat bagai cuilan-cuilan bila disandingkan dengan negara-negara tetangga. Namun, setelah sore ini, aku mulai mengerti rencana Tuhan. Dia ingin menjadikanku salah satu saksi bahwa Indonesia penuh keramahan. Masyarakat menyambut dengan sukacita.

Langgur, tanah timur paling jauh yang pernah aku tapaki. Ini hari pertama, menit pertama, aku menapakkan kaki. Aku tersenyum lega mensyukuri perjalanan panjang. Jakarta—Ambon lanjut Ambon—Langgur.

“Selamat datang di Langgur,” sapa Pak Hasan. Dia penanggung jawab kami selama di Pulau Kei.

“Halo, Bapak, senang bertemu Anda. Saya dokter Sharena.”

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Kami berjabat tangan. Senyum lebar terus menyelinap biarpun lelah hampir menyerah. Tubuh hanya meminta satu hal, yakni tidur.

“Bagaimana perjalanan kalian?”

Sammy menoleh padaku yang sedang menenggak air mineral. Leher telanjang memperlihatkan gerak kerongkongan naik turun.

“Aman dan lancar, Pak. Kami menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Jadi, kami tidak tahu betul bagaimana keelokan Pulau Kei jika dilihat dari ketinggian.”

Aku mengernyit pertanda tak setuju. Sammy yang tidur selama perjalanan, aku tidak. Aku justru ketakutan sebab turbulence sangat terasa saat duduk di ekor pesawat. Seandainya, kami tak kehabisan tiket, perjalanan lebih menyenangkan.

“Dokter Sharena terlihat sangat capek.”

Mulut menganga, bersiap melontarkan kalimat. Lagi-lagi, Sammy mengambil alih dan bibir merekat erat.

“Dokter Sharena terlalu banyak melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat, Pak.”

Mata membulat, mencemasi kejadian yang sempat tertangkap oleh Sammy. Tolong, Sam. Hentikan ucapanmu atau aku akan mogok ngomong karena kamu mempermalukanku. Mata Pak Hasan juga tak kalah membulat.

“Dokter Sharena baru menyadari dan mengagumi ciptaan Tuhan.”

Sial! Sammy membuat tanganku lemas. Roda koper terhenti setelah tenaga melebur. Aku pikir, dia tidak memperhatikan gerak-gerikku selama memandang lekat wajahnya. Pipinya kenyal meski lengan kekar. Ah, tidak! Tadi aku tak sengaja. Perhatian Sammy terlalu memikat.

“Wah, apa itu?” Binar mata Pak Hasan semakin melemahkan dayaku.

Mereka menoleh dan mendelik saat menyadari aku tertinggal beberapa langkah. Aku membungkukkan tubuh, memegang perut dan berpura-pura mulas.

“Dokter Sharena baik-baik saja?” tanya Pak Hasan terlihat panik.

Sammy tertawa. Pipi mengembang, mata berlagak juling. Pak Hasan segera mendekatiku dan meminta salah satu anak buahnya mengambil alih koperku. Tentu saja, aku menolak.

“Biar saya yang membawanya, Dok,” pintanya sembari memohon.

“Terima kasih. Sebenarnya saya bisa melakukan ini sendiri.”

Sammy merasa menang. Dia memanyunkan bibir, memalingkan muka, dan terbahak. Aku masih mematung, mengeluarkan tanduk siap menyeruduknya.

“Dok, mari!” Imbau Pak Hasan,”Kalian harus segera istirahat.”

Pak Hasan memukul pundakku dengan gerak ragu. Mungkin dia sungkan meski secara umur, dia berhak mengaturku. Aku menyeringai.

“Biarkan saja, Pak. Dokter Sharena suka aneh kalau datang ke tempat baru.”

Gila. Ada apa dengan Sammy. Dia kesurupan roh perayu. Sedari tadi, saat kami di Jakarta, aku merasa aneh dengan perhatiannya yang menurutku berlebihan. Seperti sekarang, tangannya begitu ringan dan tak sungkan untuk melingkar di pundakku.

“Lepasin, Sam!” pintaku lirih dan menggoyang pundak sekuat mungkin untuk menepis tangan Sammy.

“Diam atau aku akan bersikap lebih dari ini,” ancamnya menyisakan senyum buatan. Pak Hasan merasa sesuatu sedang terjadi antara kami.

Perlahan gelap mulai datang. Kami telah sampai di penginapan sementara karena besok kami akan melanjutkan perjalanan. Daya sudah low. Aku ingin mandi.

 “Besok kita akan melanjutkan perjalanan. Jangan terlalu siang, Dok,” tangkas Pak Hasan setelah memastikan koper dan tas kami telah di kamar.

“Berarti pagi?” tanya Sammy cekatan.

“Boleh. Lebih cepat lebih baik agar kalian bisa istirahat sebelum bertugas.

“Jangan, jangan berangkat pagi.”

Sorot mata mereka tertuju padaku. Mereka mulai mengkhawatirkan fisikku. Terutama Sammy, spontan tangannya menempel di wajah. Dia terlihat kolot, lalu menggeleng karena suhu tubuhku normal.

“Kenapa” tanya Sammy terdengar cemas.

“Aku ingin pergi ke Pasar Langgur.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Tanda Baca: Bab 4

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya