Comscore Tracker

[NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 5   

Penulis : Pradnya Paramitha

Alasan Jati

 

Bhre menghentikan motornya di depan minimarket pertama yang dia temui di pinggir jalan. Dengan tergesa dia menuju kulkas pendingin dan mengambil sebotol air mineral super dingin, serta langsung menegaknya banyak-banyak. Otak dan hatinya yang panas ini perlu didinginkan segera. Jika tidak malu, mungkin Bhre sudah memasukkan dirinya ke dalam lemari pendingin ini karena dia khawatir otaknya meledak saking panasnya.

Sialan!

Apa-apaan itu?? Sementara dia dengan penuh kesabaran dan terpaksa harus memasang ilmu pengendalian diri tingkat tinggi, menunggu Winna cukup umur untuk menjalin hubungan romantis, tiba-tiba muncul sosok tak diharapkan yang menyerobot semuanya.

Siapa anak ingusan yang berani-beraninya mengambil ciuman pertama gadisnya?! Apakah dia tidak tahu jika Winna itu miliknya? Winna ditakdirkan untuknya! Bagaimana bisa tiba-tiba ada aktor baru yang nyelonong tanpa ada sopan-sopannya begitu??

Tapi tunggu, Bhre memijat-mijat keningnya.
Apakah selama ini dia yang salah perhitungan? Usia Winna sudah hampir delapan belas. Masa pubernya sudah berjalan sejak bertahun-tahun yang lalu. Usia SMA. Siapa yang tidak tahu sensasinya kisah-kasih di sekolah? Barangkali dibanding remaja-remaja SMA lainnya, Bhre yang paling tahu gejolak kawula muda itu. Lantas, perhitungan apa yang dia pakai selama ini sampai dia begitu percaya diri Winna masih polos? Lagipula, sejauh yang dia tahu, Winna memang bukan remaja polos pendiam yang hanya tahu jalan dari rumah ke sekolah dan sebaliknya.

Oke, Bhre menghabiskan air mineralnya dalam sekali tenggak. Sekarang lo udah paham situasinya, tambahnya dalam hati. Tindakan cepat dan bijak yang bersifat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus segera dilakukan.

Dengan satu kesimpulan di benaknya, Bhre membawa botol air mineralnya yang sudah kosong ke kasir. Sepanjang perjalanannya itu, Bhre terus memikirkan bagaimana cara mengikat Winna tanpa terdeteksi.

Mengikat gadis itu secara lisan dan deklaratif tentu tidak mungkin, sebab itu artinya dia harus menyatakan perasaannya. Pernyataannya akan membuat Winna bingung dan galau memikirkan jawabannya. Memintanya untuk tidak pacaran dengan pria lain tanpa alasan juga tidak bagus. Winna pasti bertanya-tanya kenapa. Meminta cowok kurang ajar itu untuk menjauhi Winna? Itu lebih tidak efektif lagi. Boleh jadi cowok bernama Jati itu akan menjauhi Winna, tapi bagaimana dengan cowok-cowok lain?

Menjauhkan cowok-cowok lain dari Winna jelas bukan pilihan yang efektif. Tapi menjauhkan Winna dari cowok-cowok itu mungkin lebih masuk akal.

***

"Jadi lo jalan sama Jati?"

Winna memejamkan matanya dengan ekspresi bosan. Ini sudah ketiga kalinya Shinta bertanya. Itu belum termasuk beberapa teman sekelasnya yang juga menanyakan hal yang sama.

"Jalan pala lo!" decak Winna. "Nggaklah. Nanya lagi gue tabok lo, Shin."
"Kenapa bisa ciuman?"

Winna meremas-remas rambutnya. "Gue nggak ciuman! Nggak! Ng...belum..."
Shinta tertawa lebar. "Nggak tahu-nggak tahu, ciuman juga. Sok-sok nggak peduli sok-sok nggak peduli, naksir juga lo."

"Gue nggak naksir dia!" bentak Winna.
"Tapi mau ciuman kaaaan?" Shinta mengedip-ngedipkan matanya, membuat Winna tergoda untuk memukul sahabatnya itu dengan buku paket biologi yang setebal kamus. "Wah, apa rasanya ciuman sama Jati? Kayaknya puluhan cewek rela tuker tempat sama lo, Win."
"Lo juga?"

Shinta hanya cengar-cengir tak menjawab. Winna mencibir mencemoh, betapa selera semua orang benar-benar payah. "Lo dengerin gue ya, Shin, gue nggak jalan sama Jati, dan nggak naksir dia. Aish...!" Winna mengepalkan tinjunya. "Pengin gue hajar juga tuh cowok!"

Winna bangkit gusar, masih dengan tangan terkepal.
"Lah, kemana Win? Mau ngehajar Jati? Sekarang? Sekarang banget?" Teriak Shinta, mengundang perhatian semua orang.

Winna lagi-lagi memejamkan mata, putus asa dengan kelakuan sahabatnya. "Kantin. Emosi bikin laper!" jawab Winna, menggebu-gebu.

Namun omongan orang bukan satu-satunya yang berubah sejak kejadian itu. Masih ada Jati yang mendadak aneh setelah tragedi itu. Pernah satu kali Jati menghadang langkahnya lalu hanya mengatakan satu kata.

"Maaf,"

Winna menunggu kata berikutnya, tapi Jati cuma diam saja dengan postur songongnya--kedua tangan masuk ke saku celana. Malas meladeni lebih lanjut, biasanya Winna hanya mendengus sebal, dan melanjutkan langkah, sengaja menabrakkan pundak ke pundak cowok itu sebagai tanda permusuhan.

Lalu keanehan-keanehan lainnya terjadi di kantin. Winna hanya bisa mengerutkan dahi sambil menggigit sendoknya ketika Jati menghampirinya di kantin. Padahal biasanya cowok itu lebih suka memojok sendirian, sambil merokok. Tak ada yang berani mengganggu, dan Jati pun tak berniat mengganggu siapa pun ketika di kantin. Sensasi macam apa sih yang direncanakan cowok itu dengan bersikap gila semacam ini??

***

Jati tersenyum senang ketika mendapati Winna duduk di kantin, memandang semangkuk soto panas dengan sorot mata berbinar-binar. Sepertinya gadis itu memang mudah berbahagia jika berhadapan dengan makanan.

Dihampirinya gadis itu dengan senyum lebar. Akhir-akhir ini dia semakin senang melihat Winna di mana pun. Bahkan ketika dia melihat Winna berlari-lari kecil menuju luar sekolah, entah membolos entah membeli sesuatu di supermarket depan sekolah, dari lantai tiga. Dan dia senang melihat apa pun yang dilakukan Winna, meski gadis itu sedang menatapnya dengan dahi berkerut, seolah dia sedang koprol tanpa alasan di kantin. Dan, oh ya, dengan sendok yang bahkan masih belum meninggalkan mulutnya.

"Hai, Shin." Jati menyapa gadis-cantik-idola-semua-pria yang duduk di sebelah Winna.
"Hai, Jati. Nggak ada jadwal tawuran hari ini?" Gadis-cantik-idola-semua-pria itu tersenyum lebar.

"Gue nggak tertarik tawuran akhir-akhir ini." jawab Jati. "Ada yang lebih menarik."

"Oh ya? Apa tuh? Ujian nasional?"

Jati tertawa kecil. "Yah, semacam itu." jawabnya sambil menatap gadis yang satunya, yang ada di depannya, yang sedang mengunyah makanannya dengan tenang. Sok-sok tidak terganggu dengan pembicaraan di dekatnya.

"Lo mau ngomong sama Winna?" tanya Shinta. "Kalau iya, gue bisa balik duluan ke kelas kok."
"Kayaknya Ihsan nggak mau ngomong sama gue. Jadi gue ngomong sama lo aja ya?"
"Wah, parah amat. Lo mau ngobrol sama gue cuma karena Winna nggak mau ngobrol sama lo."

Jati tersenyum lebar. "Gini aja, kalau lo bisa bikin dia mau ngobrol sama gue, gue nggak akan ganggu makan siang lo. Gimana?"

"Janji ya?" Shinta mengangkat alis. "Lo mau ngomong apa sih sebenernya?"
"Tolong bilangin, gue minta maaf." kata Jati lagi.

Satu dengusan keras terdengar lagi dari cewek di hadapannya.
"Maaf kenapa?" tanya Shinta lagi.
"Karena gue kurang ajar, nggak sopan, dan pokoknya brengsek banget deh!"

Shinta tertawa kecil, sebelum kemudian menatap sahabatnya. Sontak tawanya menghilang. Dengan ekspresi horor dia kembali menatap Jati.

"Nggak deh, Jat, gue nggak mau ikut-ikutan. Lo urus aja sendiri, Winna nggak gigit orang kok." putus Shinta dengan naga geli yang sok diserius-seriusin.

"Oh ya?" Jati pura-pura terkejut. "Gigit orang nggak, tapi nonjok iya, ya?"
Shinta nyengir. "Kadang-kadang sih. Jangan bilang itu lebam di pipi lo gara-gara kena tonjok Winna?"

Jati hanya mengangkat bahu. Dari ekor matanya dia bisa melihat gadis di sebelah Shinta, diam-diam meliriknya dari balik sendok, menatap lebam di pipinya yang masih terlihat samar-samar.

"Apa dia selalu nonjok cowok yang deketin dia?" Jati bertanya pada Shinta lagi, tanpa mengindahkan wajah gadis di hadapannya yang semakin memerah.

"Ng, yah, mungkin." kawab Shinta seperti berpikir. "Kalau deketinnya dengan cara tiba-tiba mencium, gue rasa emang akan ditonjok sih."

"Gitu?" Jati mengangguk-angguk. "Berarti gue salah langkah."
"Ya jelas! Kenapa lo bisa gegabah begitu sih, Jat?"

Sebelum Jati menjawab, Winna tiba-tiba bangkit dan menggebrak meja. Menarik perhatian seluruh pernghuni kantin, yang sebenarnya sudah mulai penasaran sejak Jati menghampiri meja Winna dan Shinta.

"Berisik lo berdua! Kalau mau ngobrol jangan di sini!" lalu ditatapnya Jati lurus-lurus. "Nggak usah sok-sokan minta maaf kalau lo nggak tahu salah lo di mana!"

Tanpa menunggu respon baik dari Jati ataupun Shinta, Winna ngeloyor pergi meninggalkan kantin. Jati mengikuti punggung yang menjauh itu dengan matanya.
"Kan..." Shinta bergumam. "...gue juga nih yang bakal kena bantai." lantas Shinta buru-buru menghabiskan jus apelnya, dan bangkit untuk menyusul sahabatnya. Baru tiga langkah berjalan, Shinta berhenti dan berbalik, menghampiri Jati. Bertanya dengan suara lirih.

"Kenapa lo ngelakuin itu?"
"Itu?" Jati mengangkat alis.
"Berusaha nyium dia. Udah tahu reaksinya bakal begitu."

Jati tertawa kecil. "Dia nggak cerita sama lo? Untuk menegaskan eksistensi gue."
"Apa perlunya menegaskan eksistensi lo, sementara eksistensi lo udah tegas dan jelas di mata semua orang."
"Karena hanya di depan Rawinna Ihsan eksistensi gue jadi kerdil dan nggak jelas."

Shinta berdecak. "Jadi lo ngelakuin ini cuma buat nunjukin ke Winna kalau lo yang paling berkuasa, dan dia harus mengakui itu suka atau tidak?"
Jati tertawa lebar. "Ya, ampun. Kalian ini beneran sahabat sejati ya? Jalan pikiran kalian pun sama."

Berhadapan dengan Rawinna Ihsan, Jati memang tidak bisa berbuat banyak. Dia tidak bisa menentukan bagaimana harus bersikap pada gadis itu. Ada tiga golongan di sekolah jika menyangkut soal Jati. Golongan pertama adalah orang yang takut kepadanya. Golongan kedua, takut tapi diam-diam memujanya. Sedangkan golongan ketiga adalah orang yang menentangnya atau diam-diam menentangnya.

Tapi Winna berada di luar semua itu. Dia tidak takut kepada Jati, tidak juga takut tapi diam-diam memuja Jati, ataupun tidak takut dan menentang Jati secara terang-terangan. Gadis itu hanya terlihat terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk memerdulikan Jati. Winna tidak pernah terang-terangan menentangnya. Tapi dia juga tidak membungkuk takut seperti anak-anak lainnya saat mereka berpapasan.

Jati tidak bisa menentukan sikap yang bagaimana yang harus diberikan kepada Winna. Akan lebih mudah jika Winna menentangnya terang-terangan, sehingga dia bisa menggilasnya dengan cepat. Juga akan lebih mudah jika Winna tunduk padanya, sehingga dia tidak perlu melakukan apa-apa. Tapi Winna adalah golongan keempat, seperti pengamat. Berada di luar lingkaran, memerhatikan, sekaligus memainkan perannya sendiri dengan cantik.

Kebingungan menentukan sikap itu ternyata membawa dampak yang lebih jauh. Semua orang punya cara untuk menarik perhatian. Winna dengan ketidak-acuhannya, berhasil melakukan itu. Akibatnya, Jati seperti anak kecil yang tidak tahu bagaimana caranya mencari perhatian orang dewasa dan selalu salah tingkah, jika dan hanya jika di hadapan Winna. Itulah yang membuatnya melakukan hal gila seperti mencoba mencium Winna.

"Iya nggak?" desak Shinta.
"Nggak."

Gadis-cantik-impian-semua-cowok itu menatapnya dengan mata menyipit, seperti tengah menilai validitas ucapannya. Jati mengangkat alis, dengan senyum tipis. Shinta menghela napas.

"Yah, apapun motif dan tujuan lo, Jat, lo berhasil. Eksistensi lo di hadapan dia udah jelas." Shinta diam sejenak, untuk memberi efek dramatis. "Sebagai musuh." Lalu gadis itu beranjak meninggalkannya.

Jati terdiam di tempatnya duduk. Selama beberapa detik dia hanya memandang dasar botol kecap di hadapannya dengan wajah datar. Sesaat kemudian seringaian kecil muncul di sudut bibirnya. Dibenci Winna? Ulangnya dalam hati. Mungkin itu lebih baik. Karena menarik perhatian orang yang membenci kita jauh lebih mudah daripada menarik perhatian orang yang mengabaikannya kan?

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 4  

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya