Comscore Tracker

[NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 2 

Penulis : Pradnya Paramitha

Crush

 

Jati menatap cewek yang mondar-mandir gelisah di hadapannya. Bangku panjang nyaman di dekatnya sama sekali tidak menarik perhatian Winna. Cewek itu sibuk mondar-mandir sambil memijit-mijit kepalanya.

Melihat tingkah Winna yang sepertinya lebih pusing daripada menteri yang sedang memikirkan kebijakan negara, Jati pun urung untuk duduk di bangku. Dia memilih berdiri bersandar di dinding, mengamati aksi gelisah Winna.

Pipinya masih terasa ngilu. Ada luka kecil yang sudah tidak lagi mengeluarkan darah di sudut bibirnya, tempat tinju Winna tadi mendarat. Tinju, ya, tinju. Jati menggaris bawahi. Bukan tamparan seperti yang biasa dilakukan cewek-cewek, tapi benar-benar tinju dari tangan yang mengepal. Jati bisa merasakan energi penuh dari tangan kecil itu. Energi penuh amarah. Mungkin itu yang bisa membuat tangan yang meskipun mungil, bisa melukai bibirnya. Dan cewek itu terlihat sama sekali tidak menyesal.

Jati menyengir kecil, menambah rasa perih di lukanya. Baru kali ini dia mencium cewek dan berakhir sobekan di sudut bibir dan lebam di pipi.

"Tenang kenapa, sih? Pusing gue lihat lo muter-muter." kata Jati tidak tahan.

Cewek itu otomatis menghentikan langkahnya, dan menatapnya tajam. Jati langsung waspada. Melihat cara Winna menatapnya, bukan tidak mungkin cewek itu akan meninjunya sekali lagi.

"Tenang? Lo bisa nyuruh gue tenang?! Ortu gue dipanggil!"
"Ortu gue juga."
"Lo gila ya?! Apa sih maksud lo? Nggak punya otak?!"

Jati tidak menjawab. Sebagian pikirannya membenarkan tuduhan Winna. Mungkin benar dia gila. Mungkin juga dia kehilangan otaknya. Wajah songong sekaligus tak acuh itu membuatnya gemas. Mungkin itu yang membuatnya terdorong mencium Winna. Seperti gerak refleks yang muncul begitu saja. Sayang sekali, Pak Sapto muncul di detik-detik terakhir menggagalkan segalanya.

"Kenapa lo lakuin itu?!" tanya Winna masih dengan nada membentak.
"Kan tadi gue udah bilang. Untuk menegaskan eksistensi gue." jawab Jati kalem.
"Untuk nunjukin kalau lo paling jago?! Kalau lo penguasa sekolah sehingga lo bisa melakukan apa pun yang lo mau?!" Bukan itu, jawab Jati dalam hati.

Sementara Winna terlihat benar-benar kalap. Itu juga yang membuat Jati heran. Ekspresi Winna benar-benar berlebihan, seolah dia telah mengambil keperawanannya.

"Lo dengerin gue ya Jat, hanya karena lo ditakuti, nggak berarti lo bisa ngelakuin apa pun yang lo mau! Lo pernah belajar Hak Asasi Manusia nggak sih? Lo pernah berlajar sopan santun nggak? Ya kalaupun semua orang takut sama lo, gue enggak! Itu kan yang mendorong lo ngelakuin itu? Karena lo tahu gue nggak tunduk sama lo! Dan jangan harap gue akan tunduk sama lo dan ...."

"Dari mana ciuman bisa diartikan sebagai aksi penundukan musuh, sih?"
"Jangan harap gue akan menuruti semua perintah lo kayak zombi-zombi lo yang nggak guna itu!"
"Ya ampun, it's just a kiss."

Jati sudah tahu bahwa respons dari kalimatnya barusan akan sangat mengerikan. Tangan Winna sudah kembali terayun untuk mendarat di wajahnya. Jati juga tidak berniat menghindar. Disambutnya, entah itu tamparan atau tinju lagi, dengan pipi terbuka dan hati lapang. Namun, kepalan tangan yang sudah setengah jalan itu berhenti di jarak sekepalan tangan dari wajahnya. Winna mengibaskan tangannya dengan gusar. Sebagai gantinya cewek itu memaki-makinya dengan seluruh kosakata yang ia ketahui.

"Ihsan," panggilnya, menegakkan badannya. Cewek itu menoleh dengan tatapan sehoror tatapan Suzanna. "Tenang. Gue akan ngomong ke Pak Sapto kalau tadi itu gue yang kurang ajar. Gue yang maksa lo, jadi gue yang salah dan ortu lo nggak perlu dipanggil. Tenang, oke? Tenang."

Tanpa menunggu jawaban, Jati mulai berjalan menuju ruang BK yang tak jauh dari sana. Tadi mereka memang harus menunggu surat panggilan untuk masing-masing orang tua. Namun, sebelum Jati mencapai pintu BK, Winna menarik lengan seragamnya.

"Nggak perlu." katanya dengan nada datar penuh ancaman. "Nggak usah sok jago! Urusin aja urusan lo sendiri!" Winna menatap lurus-lurus padanya. "Dan emang lo yang salah. Lo emang kurang ajar!" Gadis itu berdecak merendahkan. "Masih aja lo berani sok jago. Minggir!"

Winna berjalan melewatinya, sengaja menabrakkan bahu ke bahunya, berjalan memasuki ruang BK, dan bertanya apa suratnya sudah jadi.

Jati tersenyum kecil melihat punggung yang menghilang di balik pintu itu. Ternyata begini responsnya, simpulnya dalam hati.

Namun, senyumnya menghilang saat Winna keluar dari ruangan dan melewatinya dengan tatapan tajam.

"Itu. Pelecehan. Seksual." kata cewek itu dengan nada datar penuh tekanan yang entah bagaimana menimbulkan efek remang di tekuk Jati.

Setelah mengatakan itu, Winna pergi tanpa menoleh lagi. Tinggal Jati yang terdiam, mendadak menyadari kesalahannya.

Wajar bila Winna begitu marah.

***

Kantor Lomora hari itu lumayan sepi. Biasanya mobil dan motor berderet di halaman depan rumah dua lantai yang difungsikan sebagai kantor itu. Namun, kali ini hanya ada beberapa mobil yang terparkir, salah satunya adalah Feroza hitam yang kotornya luar biasa. Kombinasi antara seringnya menempuh medan ekstrem dan kemalasan si pemilik mobil untuk mencucinya, Feroza hitam yang dinamai Alexa itu terlihat begitu menyedihkan.

Sudah sepuluh menit Winna mondar-mandir di depan sebuah warung yang terletak tak jauh dari kantor studio design sekaligus sekaligus production house tersebut. Di tangannya ada surat panggilan tua dari sekolah yang sudah lecek saking seringnya dia remas-remas. Jantungnya deg-degan bukan kepalang. Ini lebih mendebarkan daripada saat harus mengakui ke ayahnya bahwa dia lebih suka lanjut ke Seni Rupa ketimbang jurusan kedokteran.

Membawa surat itu ke rumah bagi Winna sama saja artinya dengan bunuh diri. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan ayahnya jika tahu. Mana masalahnya beginian lagi! Nilai jelek saja bisa membuat ayahnya kebakaran jenggot, apalagi masalah soal dugaan berbuat mesum di sekolah? Bisa-bisa ayahnya langsung mengirimnya ke luar negeri setelah mencoret namanya dari silsilah keluarga.

Oh, nggak nggak! Ayahnya yang terobsesi pada pendidikan tentu tidak boleh tahu soal ini. Rawinna Ihsan harus tetap menjadi gadis manis dan pintar yang tidak pernah terlibat masalah. Meski kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, Winna masih bisa menyelamatkan reputasinya dengan minta tolong kepada Bhre Wirabumi, si pemilik Feroza hitam sahabat karib kakaknya itu.

"Sumpah, aku dijebak, Mas! Tuh cowok emang nggak jelas! Aku polos dan nggak tahu apa-apa ...." Winna berhenti melangkah, dan meremas rambutnya sendiri.

Mungkin sudah ada 100 kalimat yang dia pikirkan untuk dikatakan kepada si pemilik Alexa tadi. Namun, rasanya semua salah dan tidak cukup kuat untuk membersihkan namanya.

"Jadi waktu itu aku bolos try out .... Argghh! Mikir dong Wiiin! Pakai alasan apa gitu yang masuk akal dikit!"

Tingkah laku Winna mengundang tawa pemilik warung dan beberapa tukang ojek online berseragam hijau yang mangkal.

"Adek lagi latihan drama apa pegimane ini?" tanya salah satu dari tukang ojek itu. "Sini Abang bantuin."

Winna meringis kecut. "Mau ikutan casting di agensi yang di sana tuh, Pak." jawab Winna asal.

"Lho, emang sekarang mereka bikin pilem juga, Neng?" tanya pemilik warung. "Kok ndak pernah kelihatan artisnya?"

"Lha ini," Winna menunjuk wajahnya sendiri. "calon artisnya masih latihan di sini."

Si bapak pemilik warung dan abang-abang ojek online terpingkal-pingkal mendengar jawaban polos Winna. Si pemilik warung bahkan memberi Winna air mineral gelasan dan menyuruhnya minum dulu supaya bisa latihan dengan lebih baik.

Winna menatap jam Fossil di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima. Dia tidak tahu sampai kapan Bhre akan ada di kantor. Namun, untuk bertemu sekarang, nyali Winna benar-benar nol besar.

Harus diakui ini bukan kali pertama Winna mendapat surat paggilan orang tua. Mulai dari kegalauan Winna saat ditanyai mengenai masa depannya di mata pelajaran Bimbingan Konseling, hingga persoalan absensi yang terlalu banyak bolongnya. Ini juga bukan kali pertama Winna minta tolong Bhre untuk pura-pura jadi kakaknya.

Tapi bagaimana caranya mengatakan masalah kali ini? Bagaimana caranya mengatakan bahwa dia dituduh ciuman dengan teman satu sekolahnya, kepada pria yang sudah ditaksirnya sejak masih sekolah dasar? Winna suka berbuat onar, karena dengan demikian dia jadi punya alasan untuk minta bantuan Bhre. Diperhatikan Bhre membuatnya melambung sampai langit ketujuh. Namun, bukan dengan cara ciuman dengan cowok lain!

Jadi alih-alih melangkah ke arah kantor Lomora dan menyerahkan "Surat Panggilan Orang Tua" yang didapatnya hari ini, Winna pilih ngibrit pergi diantar tukang ojek online yang sepanjang jalan mengeluh tentang sepinya orderan.
***

[2011]
 
Winna melempar bantal dengan kesal saat mendengar ribut-ribut di lantai bawah. Tidur siangnya seharusnya masih berjalan setengah jam lagi. Apa yang ribut-ribut itu tidak tahu kalau badannya terasa rontok setelah pertandingan basket di class-meeting tadi siang? Bahkan, Winna belum mengganti seragam merah-putihnya karena memilih untuk segera istirahat.

Baru saja Winna mengulet untuk membuat pose tidur baru, otaknya mulai bekerja. Sore-sore begini, biasanya teman-teman abangnya suka datang ke rumah untuk main playstation atau sekadar nongkrong-nongkrong bersama. Memang sudah lama rumahnya menjadi basecamp cowok-cowok kuliahan itu.

Menyadari hal itu, Winna buru-buru menendang selimutnya. Dengan terburu-buru juga dia mencari kaos dan celana pendek untuk menggantikan seragam sekolahnya. Setelah mencuci muka dan mengikat rambut panjang sekenanya, Winna buru-buru keluar kamar. Riuh rendah obrolan itu terdengar dari teras belakang.

"Non Winna makan dulu," tegur Mbak Asri, asisten rumah tangganya yang baru keluar dari dapur. "belum makan siang lho tadi?"

Winna menggeleng cepat. Dia berjalan cepat menuju teras belakang.

"Mas Bhreeeee, aku menang dong main kas ..." Winna tidak melanjutkan kalimatnya. Ada lima cowok di sana, yang kini berhenti mengobrol dan menatapnya. Winna mengenal mereka semua, tapi sosok yang dia cari tidak terlihat di mana-mana. "... ti. Mas Bhre mana?"

"Duileh Winna sayang ngapain nyari yang nggak ada, sih?" ledek cowok berambut keriting kriwil yang Winna kenal bernama Wahyu. "Mending nyari Mas Wahyu aja gimana?"
Dengan ekspresi cemberut, Winna memilih mengabaikan ledekan itu dan mencolek kakaknya yang sibuk menggulir ponsel. "Mas?"

Dewa melirik sedikit dari layar ponselnya. "Lagi jemput Asty. Nanti juga ke sini."
"Asty?"
"He'eh. Lagian ngapain sih nyari Bhre? Abangmu yang asli aja ada di sini."

Winna mencibir. Kalau Bhre tidak ada, mendingan dia kembali ke kamar dan melanjutkan tidur. Namun, baru saja berbalik untuk masuk ke rumah, orang yang dicarinya muncul sambil melempar-lempar kunci motornya. Senyum Winna lebar ketika Bhre menyapanya dan memberikan usapan lembut di kepalanya.

Namun, senyumnya susut ketika ada sosok lain yang berjalan di belakang cowok itu. Seorang cewek berambut panjang bergelombang yang memakai celana jeans panjang dan sweter putih. Mata Winna menyipit. Dia belum pernah melihat cewek ini di gerombolan abangnya sebelumnya.

"Wuidiiih, mimpi apa kita semalam sampai-sampai Asty manis mau ikutan kongkow ..." celetuk Indra. "Sini sini, duduk sini. Bhre nggak ngebut kan boncengnya tadi?"

Winna menatap adegan di hadapannya dengan mata menyipit. Bagaimana cowok-cowok itu memperlakukan tamu baru tersebut bagai ratu. Bagaimana Wahyu membersihkan kursi untuk diduduki Asty, dan bagaimana Bhre menanyainya ingin minum apa dengan nada sangat lembut. Rasa kesal memenuhi hati Winna. Hilang sudah semangatnya untuk ngobrol dengan Bhre. Tepat saat cowok itu memanggilnya, memintanya bergabung, Winna melengos masuk ke rumah.

Winna membatalkan niatnya untuk kembali tidur. Dia mengambil bola basket di kamarnya, topi baseball di gantungan balik pintu, dan berderap ke luar rumah.

Winna mengenal teman-teman kakaknya dengan baik. Ada Indra yang hobi main domino, Wahyu yang rambutnya kriwil seperti Edi Brokoli, Andika yang flamboyan, Beta yang seperti seniman, dan Bhre yang superperhatian padanya bahkan melebihi Dewa. Winna menyukai seluruh perlakuan manis Bhre kepadanya, mulai dari membantunya mengerjakan pe-er hingga menemaninya nonton kartun SpongeBob.

Winna juga senang sekali setiap kali Bhre menjemputnya ke sekolah dan membelikannya cilok atau cilor. Namun, Winna benci setiap kali ada cewek masuk ke geng kakaknya. Winna benci bagaimana cewek-cewek itu hobi bermanja kepada Bhre. Winna benci bagaimana Bhre bersikap baik kepada mereka. Pokoknya Winna kesal kalau Bhre dekat-dekat dengan cewek lain.

Seperti hari ini.

Tak jauh dari rumahnya, ada lapangan basket komplek yang sering dia datangi. Terkadang lapangan itu berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu untuk main basket. Namun, sesekali juga berfungsi sebagai lapangan futsal dadakan. Ke sanalah Winna biasa mengungsi setiap kali bosan di rumah atau ngambek karena dimarahi orang tuanya. Kali ini pun sama, rasa kesal melihat tamu baru di rumahnya membuat Winna jadi ingin main basket.

Untuk seukuran anak 12 tahun, tubuh Winna memang tergolong bongsor. Karena itu dia biasa main basket dengan anak-anak SMP dan SMA di kompleks rumahnya.
Karena tak satu pun anak kompleks yang terlihat, Winna memutuskan untuk main basket sendirian.

Pertama-tama dia hanya berlari-lari kecil keliling lapangan sambil mendribbel bola. Selanjutnya dia mengambil posisi di depan ring dan mulai menembak. Dua dari tiga tembakan yang dia lakukan masuk dengan sempurna. Winna tersenyum puas. Saat tembakan kelima juga berhasil, ada ada suara tepuk tangan di belakang tubuhnya.
Winna menoleh, tetapi segera melengos kesal saat melihat Bhre berjalan mendekat ke arahnya.

"Good, Winna, good!" Sorak cowok itu. "Nanti di SMP kamu harus ikut ekskul basket ya, nggak boleh enggak."

Winna masih belum menjawab. Tangannya tetap aktif mendribel bola dan wajahnya masih masam tiada dua.

"Nggak mau coba dari titik three point?"
"Mas Bhre ngapain ke sini?" tanya Winna, mengabaikan pertanyaan Bhre sebelumnya.
"Tadi katanya kamu nyari aku?" Bhre balas bertanya.
"Oh." Winna menekuk lutunya, dan melempar sekali lagi. Masuk! Sekali lagi Bhre bertepuk tangan. " Nggak jadi kok. Udah sana Mas Bhre balik aja. Nanti dicariin temannya."
"Temannya?"
"Iyaaa. Itu yang cewek rambutnya panjang."
"Oh, Asty?" Winna mengangguk untuk menjawab pertanyaan Bhre. "Biar dia sama anak-anak deh. Aku lagi pengin olahraga. Mau tanding satu lawan satu nggak? Kalau menang nanti kutraktir es potong."

Tanpa menunggu jawaban, cowok itu merebut bola dari tangannya dan berlari menjauh. Sesekali dia berteriak menyuruh Winna untuk mengejarnya. Lama-lama Winna jadi ikut tertantang. Tak seperti Dewa yang sering ogah-ogahan diajak main basket karena malas melawan anak kecil, Bhre selalu memperlakukannya sebagai lawan yang selevel. Entah kenapa, itu membuat Winna sangat senang.

Meski tomboi dan teman-temannya lebih banyak yang laki-laki, Winna senang menonton kartun-kartun Disney. Dia pun senang melihat ending yang happily ever after. Dan sejak kesadaran muncul bahwa pria dan wanita dewasa akan menikah, Winna sudah memutuskan. Saat sudah dewasa nanti, dia mau menikah dengan Bhre Wirabumi.

***


Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 1

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya