Comscore Tracker

[CERPEN-AN] Luka dalam Sebuah Toples Kaca

Dalam geming, aku membuka lipatan origami bangau itu

Garis-garis bekas lipatan pada origami bangau itu tampak jelas seiring aktif jemariku membukanya tanpa kata. Warna ‘tubuh’nya yang kuning pastel itu telah berpadu debu. Sesekali aku bersin karenanya. Tapi, kurasa tak apa. Toh, itu tak sebanding rasanya dengan upayaku menekan luka ketika kuputuskan menguak kembali rasa lama.

Helaan nafasku terdengar, mengikuti lipatan terakhir origami yang baru saja kubuka. Bangau origami itu telah kembali ke bentuk asalnya. Sebuah bentuk persegi sempurna yang tak lebih ukurannya dari satu jengkal tanganku.

“Satu..,” bisikku, menghitung.

Perlahan, aku menyentuh permukaan kertas itu. Tulisan pena yang menguning pudar tertera di sana. Sungging senyuman nanar menghias wajahku, sebelum pandanganku teralih sesaat pada sebuah toples kaca di sisi kananku. Dingin petakan lantai tanpa alas tempatku bersila, seakan tak lagi berasa.

Kuraih toples kaca berdiameter enam sentimeter itu dengan hati-hati. Tutup toples kaca itu telah terbuka, pun karena origami bangau kuambil dari sana. Ya, sejumlah origami bangau berwarna-warni pastel padat memenuhi ruang toples itu.

“Dua..,” bisikku lagi, seiring kembali kubuka lipatan origami lainnya.

Dengan cara yang serupa, aku mengambil satu persatu origami bangau dalam toples kaca dan membongkar lipatannya. Tak seperti sebelumnya, sedikit pun tak kuberi jeda untuk berhenti. Aku tak ingin memandang kalimat-kalimat dalam lipatan origami bangau itu. Tidak, aku belum siap. Aku belum sepenuhnya siap.

“Tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh,” ucapku, menghitung lembaran kertas origami yang telah tertumpuk rapi.

Tinggal tersisa lima origami bangau pada toples kaca. Kali ini, aku hanya bergeming memandanginya. Kedua tanganku tak lagi bergerak. Kupikir, sudah cukup. Aku tak akan memungkirinya. Aku tak akan lagi memungkirinya, sebuah kenyataan bahwa masih tersimpan pahit dan luka di sana. Ya, di sana. Di dalam toples kaca itu dan di suatu bilik dalam hatiku.

“Lima lagi. Aku hanya harus membuka lima origami lagi,” gumamku, dengan suara tertahan.

Kurasakan getar pada tangan kananku, ketika mencoba kembali mengeluarkan lima origami bangau itu. Selama selang beberapa menit, aku mencoba menenangkan diriku dengan berdiam. Entah telah berapa kali kutarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku siap. Mau tak mau, aku harus siap. Lagipula, bukankah telah tepat tujuh tahun berlalu sejak terbentuknya luka-luka itu?

“Dua puluh satu.”

“Dua puluh dua.”

“Dua puluh tiga.”

“Dua puluh empat.”

Setelah tanpa jeda aku membuka lipatan empat origami, aku tergeming sekali lagi. Satu buah origami bangau berwarna biru pastel teronggok di dasar toples kaca. Tinggal satu itu saja. Ya, sebelum akhirnya kuungkap kembali rasa dalam pudar pena catatan kecil di balik lembar origami. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Baik, aku siap mengakhirinya.

“Dua puluh.. lima. Selesai,” gumamku, nyaris tak terdengar.

Aku telah membuka semua lipatan origami bangau warna warni, dan membiarkannya menumpuk kembali dalam wujud lembar persegi. Genap tujuh tahun lamanya sudah origami-origami bangau itu kubiarkan berada dalam toples kaca. Tak tersentuh sedikit pun, berada tinggi di bagian atas lemari pakaian berbahan kayu di kamarku.

Selama tujuh tahun, aku berusaha melupakan timbunan luka yang tersimpan rapat di sana. Tapi aku selalu gagal. Trauma itu masih ada. Trauma penindasan di masa lalu itu masih ada. Aku tahu, karena aku sendiri yang harus menghadapi trauma itu dan mengakhirinya.

Kurasakan sekali lagi, tanganku bergetar. Mulai kuambil satu lembar origami yang penuh bekas lipatan, lalu membaliknya hati-hati. Tertera sebuah kalimat di sana. Kalimat tulisan tangan yang mulai menguning warnanya karena pudar. Aku membaca kalimat itu dalam diam.

Kau tak salah. Bertahanlah hingga kebenaran dengan sendirinya bersuara.

Lalu, aku membaca kalimat pada lembaran-lembaran origami lain satu persatu. Semuanya berbeda, persis seperti sejauh aku mengingatnya.

Kau boleh menangis karena kau terluka. Tapi, jangan lupa bahwa kau berhutang senyuman pada dirimu sendiri.

Bertahanlah! Kau bisa bertahan!

Istilah karma ada karena suatu hal. Jadi, akan ada kalanya lukamu ditimpakan pada mereka yang melukaimu.

Semua akan segera berakhir.

Tangis tertahanku pecah sudah. Aku tahu ini akan terjadi ketika telah waktunya kutilik lagi memori. Tujuh tahun lalu. Ya. Telah genap tujuh tahun peristiwa penindasan orang-orang itu pada sosokku. Sosok gadis empat belas tahun yang tertindas oleh karena tahta peringkat satu. Aku terluka oleh caci tanpa henti. Dikatanya bahwa aku pencuri tahta. Dikatanya bahwa tak pantas guru memujiku cerdas. Dikatanya bahwa tak pantas aku memiliki kawan. Dikatanya bahwa aku pantas terbuang. Aku tak lupa itu.

Benar, aku mengingat segalanya tanpa cacat. Tak ada pengecualian, bahkan soal dua puluh lima origami bangau pada toples kaca itu. Angka dua puluh lima itu menggambarkan lukaku akan caci dan sindiran berbeda yang mereka lontarkan. Aku ingat benar membuat catatan semangat untuk diriku sendiri pada selembar origami, acap kali pulang ke rumah dengan luka cacian baru.

Aku ingat benar melipat lembaran-lembaran origami bertulis tangan itu menjadi bentuk bangau saat hari kelulusan. Aku ingat benar menyimpannya pada sebuah toples kaca bertutup rapat. Aku ingat benar seberapa besar luka yang kutimbun dalam tiap bentuk bangau warna-warni di dalam sana. Aku gagal melupakan segalanya, sama sekali gagal.

“Ayolah. Aku telah berjanji untuk mengakhiri lukaku hari ini. Sudah cukup,” bisikku seorang diri, sembari mengusap air mataku dengan kedua telapak tangan. Aku menghela nafas panjang, mempersiapkan diri untuk langkah terakhir.

Dengan hati-hati, aku membawa lembaran-lembaran origami yang tak lagi mulus itu ke halaman teras rumah. Kuletakkan semuanya di atas tanah, dan mengeluarkan sekotak kecil korek api dari saku kemeja kuning yang kukenakan. Aku bersiap membakar habis kertas-kertas itu menjadi abu. Sret. Kugesekkan sebatang korek api pada pinggiran wadahnya hingga muncul nyala api.

Namun, baru saja berniat kujatuhkan batang kurus itu di atas lembaran kertas origami, sebuah kalimat menarik pandanganku. Sebuah kalimat yang tepat tertera pada lembar paling atas. Segera aku meniup nyala api yang mulai menjulur ke jemari telunjukku, sebelum mengambil lembar origami itu. Mungkin aku melewatkan lembar origami ini ketika melihat kembali lembaran-lembaran origami tadi.

Selama sesaat, aku membaca kalimat yang tertera di sana. Kusadari, warna tinta pada tulisan tangan itu cenderung lebih menguning dibandingkan yang lain. Apakah origami ini adalah yang pertama kutulis kala itu?

Aku memisahkan lembar origami itu dari tumpukan. Kuputuskan untuk menyisakan lembar itu, dan membakar habis lainnya. Beberapa menit berselang, dua puluh empat lembar origami telah berubah menjadi abu. Tak tampak lagi bentuk persegi berbekas lipatan, hanya abu. Lalu, aku beranjak dan melangkahkan kakiku masuk kembali ke dalam kamar. Di tempat yang sama seperti sebelumnya, aku duduk bersila. Pandanganku terkunci pada selembar kertas bertulisan pena di tangan kananku.

“Mungkin memang di sinilah tempat origami ini seharusnya.”

Setelah berpikir panjang, kuputuskan untuk melipat lembar kertas origami berwarna ungu pastel itu kembali menjadi bentuk bangau. Mengikuti bekas lipatan sebelumnya, satu wujud bangau terlihat dengan sendirinya. Aku tersenyum nanar. Perlahan, aku meletakkan benda itu ke dalam toples kaca, dan menutupnya rapat. Sembari beranjak, aku mengangkat toples kaca itu untuk meletakkannya pada salah satu rak di kamar.

Beberapa detik aku diam memandang toples kaca yang telah kuletakkan di tempat barunya. Aku tahu yang kulakukan ini adalah benar. Aku tahu bahwa memang demikian nyatanya. Toples kaca yang mewakili hatiku, dan sebuah origami bangau yang mewakili lukaku. Luka karena penindasan tak dapat terhapus sepenuhnya, bahkan ketika telah kucoba menghapuskannya. Seperti halnya sebuah kalimat ajaib yang menangkap mataku pada menit lalu.

Tak apa. Suatu hari kau pasti dapat menambal luka itu dengan cinta dan kerja keras. Toh, luka itu tak mungkin dapat terhapus sepenuhnya. Jadi, bertahanlah saja demi masa depan! Dunia masih menyayangimu.

Akan kupastikan untuk kuingat selalu kalimat itu. Kalimat yang dahulu kutulis untukku, dan kembali lagi kepadaku setelah tujuh tahun berlalu. Dua puluh empat origami bangauku memang telah menjadi abu. Namun, satu origami bangau berkalimat indah yang tersisa itu akan terus menjadi saksi lukaku.

Setahun, dua tahun, tiga tahun, atau empat tahun lagi mungkin akan kubuka kembali toples kaca itu. Ketika hari itu datang, aku akan kembali membukanya dengan senyuman. Karena ketika hari itu datang, telah kudapatkan cinta yang semakin besar dari dunia, dan hadiah atas kerja keras dari semesta untukku cukup menambal luka yang tersisa.

Terakhir kalinya sebelum pergi dari kamar, aku memandang toples kaca itu sekali lagi. Benda itu telah turut berjajar rapi dengan deretan piala penghargaanku. Ah, aku ingat. Aku harus melakukan wawancara pekerjaan sekarang. Bagaimanapun, masa depanku yang cerah menanti untuk kuperjuangkan.***

Yogyakarta, 21 Juni 2019

Baca Juga: [CERPEN-AN] Lelaki dengan Sayap di Punggungnya

Theresia Amelia Jordana Photo Writer Theresia Amelia Jordana

Seorang gadis yang menyukai segala hal, termasuk menulis tentang dirinya dan mimpinya.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya