Comscore Tracker

[CERPEN] Innuendo

Tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini...

Senin pagi yang dingin, Anin tengah tiduran di kursi empuk sambil membaca novel Haruki Murakami, pikirannya melayang-layang membayangkan cerita di dalam novel tersebut. Sesekali dirinya tersenyum, sesekali menangis, terbawa rasa dengan cerita di novel tersebut. Anin merasa kalau dia jauh lebih baik ketika membaca novel. Dia merasa bebas mengekspresikan perasaannya lewat sesuatu hal yang dia suka.

Meski begitu, sebenarnya orangtuanya sering marah ketika Anin selalu berdiam diri di rumah hanya karena tengah membaca. Orangtuanya sering mewanti-wanti agar anak perempuannya itu bisa bergaul dengan orang lain, yang lebih penting adalah bisa mendapatkan setidaknya teman dekat laki-laki. Mungkin sebagian orangtua khawatir melihat anak perempuannya yang sudah menginjak usia matang belum juga mendapatkan pasangan. Ketakutan, kecemasan dan perasaan lain sering muncul ketika ibu Anin melihat putrinya itu tengah bermesraan dengan buku.

“Lihat dirimu, apa kau tidak malu pada umurmu, di pagi hari orang-orang berangkat kerja, sedangkan dirimu hanya santai-santai saja,” ujar ibunya pada Anin sambil membawa ember habis menjemur kain-kain lap. Anin hanya diam seolah tidak mendengar apa-apa, baginya perkataan seperti itu sudah biasa dia dengar setiap hari bahkan setiap saat. Jadi Anin tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Lagipula pekerjaan membereskan rumah sudah diselesaikan Anin dari pukul empat pagi.

“Lihat Sera, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke kantor, rajin sekali anak itu. Seandainya kamu bisa seperti Sera, sudah pintar, berpendidikan, punya pekerjaan bagus dan juga cantik, seandainya kamu seperti Sera,” Kata ibunya lagi sambil berkhayal dengan kedua tangan memegang dagu.

“Ya sudah Bu, adopsi saja Sera jadi putri Ibu,” jawab Anin, matanya tak lepas dari novel.

“Kamu ini, apa sama sekali kamu tidak berkeinginan untuk kembali bekerja?” tanya ibu dengan nada keras.

“Aku juga kan sedang bekerja Bu, aku sedang mencari inspirasi untuk novelku,” jawab Anin santai.

“Novel kepalamu, berhari-hari kerjaanmu hanya melamun saja, tidak ada aktivitas sama sekali. Apa kamu tidak bosan hidup seperti itu terus?” dumel Ibu sambil beranjak pergi ke dapur meninggalkan Anin yang tidak juga beranjak dari kursi malasnya.

Selepas SMA, Anin sempat kuliah, namun pada semester 2 dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya karena pada saat itu ayahnya di PHK. Kebetulan kakaknya, Omar juga tengah kuliah semester akhir. Tak ingin kuliahnya berhenti, Anin bekerja di sebuah toko roti, namun sayang, jam kerjanya tidak mengenal sistem shif. Anin harus bekerja dari pagi hari sampai malam hari.

Melihat kondisi keuangan keluarganya yang morat-marit, Anin mengalah, dia akhirnya memilih untuk bekerja dan cuti kuliah. Ketika kakaknya selesai kuliah dan diterima kerja di sebuah perusahaan bonafid, serta kondisi keuangan keluarganya sudah stabil, Anin berhenti bekerja dan berencana untuk kembali ke bangku kuliah. Namun, karena terlalu lama cuti, Anin di DO oleh kampusnya.

Salah seorang teman SMAnya, Sania mengajaknya untuk bekerja di sebuah pabrik bulu mata. Namun hal itu tidak bertahan lama, karena konflik dengan rekan sekerja, Anin kembali menganggur, sampai sekarang Anin belum mendapatkan pekerjaan lagi.

Dengan modal ijazah SMA dan usia yang tidak lagi muda, sangat susah mendapatkan pekerjaan apalagi pekerjaan yang diinginkan. Anin hampir putus asa dengan keadaannya, untuk membuang rasa kesal, Anin mengambil kursus gratis yang disediakan oleh pemerintah, dari kursus membuat kue, menjahit sampai menyetir mobil.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editors’ picks

Anin merasa hidupnya tidak berguna, hari demi hari dilaluinya dengan datar dan tanpa perubahan yang berarti. Satu-satunya hiburan baginya selain menulis adalah membaca buku dan menonton film-film inspiratif. Selain menulis novel, Anin juga rajin menulis artikel tentang film yang dia kirimkan ke berbagai portal online, Anin juga menjadi editor lepas di salah satu penerbit indie. Dari hasil menulis itulah, Anin mendapatkan penghasilan setidaknya untuk membiayai dirinya sendiri.

Terkadang, di malam hari, Sera dan Rana mengajaknya untuk pergi menikmati udara malam sambil ngopi-ngopi cantik untuk sekedar melepas rasa lelah, bercerita tentang masa lalu, masa kini bahkan masa depan yang belum tentu. Hal itu sedikit mengurangi kegalauan ketiga wanita berusia 28 tahun itu.

Lagu Radio Ga Ga dari grup musik Queen berkumandang merdu dari ponsel Anin, sebuah pesan whatsapp dari sahabatnya, Rana, tentang pembicaraan mereka mengenai rencana naik gunung yang akan diadakan minggu depan. Sedikit tentang Rana, dia adalah seorang fangirling sejati sekelompok boyband asal Negeri Ginseng Korea.

Ibu Rana sering sekali curhat pada Anin mengenai rasa suka berlebihan putrinya itu pada boyband Korea, sehingga beliau khawatir Rana tidak memiliki pasangan hidup karena putrinya itu sibuk menyukai boyband Korea. Di lain kesempatan, Ibu Anin juga sering curhat pada Rana, melihat kebiasaan Anin yang hanya fokus pada novel yang tak kunjung selesai dan hanya mengurung diri di rumah setiap hari. Anin dan Rana hanya tersenyum ketika mereka mendengarkan keluhan dari ibu masing-masing sambil pikiran mereka menerawang jauh mencari sebuah jawaban yang entah dimana.

Berbeda dengan Anin dan Rana, Sera adalah satu-satunya perempuan yang sangat disukai oleh ibunya Anin dan juga ibunya Rana. Sera adalah salah satu perempuan yang kehidupannya sangat diidamkan oleh perempuan manapun di muka bumi, cantik, cerdas, kaya raya, memiliki karir yang cemerlang, tidak heran banyak pria yang menyukai perempuan berlesung pipit itu.

Di antara hidup Anin dan Rana, kehidupan Sera adalah yang paling bikin iri. Tak heran, baik ibunya Anin maupun ibunya Rana sangat menginginkan putri-putri mereka bisa memiliki keberuntungan seperti Sera. Namun, tanpa diketahui oleh kedua ibu-ibu itu, Sera sering bergonta-ganti pacar, hubungannya dengan kekasihnya tidak selalu bertahan lama tapi dia juga tidak pernah lama-lama menjomblo.

Pernah suatu kali Sera curhat pada Anin, jika dirinya sangat iri pada Anin dan Rana, karena mereka begitu menikmati rasa cintanya terhadap sesuatu sehingga menurut Sera, Anin dan Rana adalah orang yang paling bahagia. Sedang dirinya tidak bisa memiliki perasaan cinta yang begitu besar terhadap sesuatu atau pada seseorang sekalipun, Sera sudah terbiasa menerima rasa cinta dari banyak orang, baginya dia tidak perlu balik memberikan perasaannya. Di rumah, Sera hanya tinggal bersama satu orang adik perempuannya yang berusia 15 tahun, Lyra. Orangtua Sera bercerai sejak dirinya masih SMP dan kini orangtua Sera tinggal dan membina keluarga baru dengan pasangan masing-masing.

Bagi Anin, setiap orang memiliki permasalahannya sendiri-sendiri, hal itu tentunya dengan kadar yang berbeda pula. Terkadang  seseorang yang terlihat sempurna di kehidupannya ternyata menyimpan kesedihan besar yang tidak diketahui orang lain. Anin membaca profil penulis di halaman terakhir novel Norwegian Wood

Anin bangkit dari kursi malasnya dan bersiap-siap untuk mandi guna memenuhi janji dengan Rana untuk membicarakan rencana mereka naik gunung pekan depan, Anin berdoa dalam hati, ‘semoga cuti kerja yang diajukan Sera pada atasannya berhasil diasese.’ Sambil membawa handuk kumalnya, Anin menyenandungkan lagu Don’t Stop Me Now dari band kesayangannya, Queen.

I’m burnin’ through the sky, yeah
Two hundred degrees
That’s why they call me Mister Fahrenheit
I’m traveling at the speed of light
I wanna make a supersonic man out of you…

 

Tasikmalaya, 13 Februari 2019

Baca Juga: [CERPEN] Analogi Minum Kopi: Seperti Mencintaimu

Asih Purwanti Photo Community Writer Asih Purwanti

Bukan Siapa-Siapa

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Paulus Risang

Just For You