Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Volume Musik Restoran Mempengaruhi Pola Makan?

Apakah Volume Musik Restoran Mempengaruhi Pola Makan?
ilustrasi makan di restoran (unsplash.com/Dan Gold)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan volume musik keras di restoran dapat membuat pengunjung minum lebih cepat dan banyak, meningkatkan omzet minuman bagi bisnis.
  • Suara bising memicu stres ringan yang mendorong orang makan berlebihan tanpa sadar, sehingga berpotensi berdampak pada kesehatan jangka panjang.
  • Musik dengan volume tinggi membuat pelanggan lebih impulsif memilih makanan tidak sehat, strategi yang sengaja dimanfaatkan restoran untuk meningkatkan keuntungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah kamu tiba-tiba merasa lebih lahap makan atau lebih sering memesan minuman saat makan di restoran yang musiknya kencang? Ternyata, itu bukan cuma perasaanmu saja, lho. Di balik alunan lagu yang menggelegar, ada strategi tersembunyi yang mungkin gak kamu sadari.

Selama beberapa dekade terakhir, restoran memang sengaja membuat suasananya semakin bising. Bukan tanpa alasan, para peneliti menemukan bahwa volume musik ternyata punya pengaruh besar terhadap perilaku kita saat makan.

Penasaran bagaimana cara musik memanipulasi pilihan dan kebiasaan makanmu? Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Musik keras bikin kamu minum lebih banyak

ilustrasi pengunjung bar
ilustrasi pengunjung bar (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Volume musik yang tinggi ternyata bisa bikin kamu minum lebih cepat dan lebih banyak. Penelitian McCarron dan Tierney menunjukkan bahwa orang yang mendengarkan musik pop dengan volume sekitar 88 dB cenderung minum lebih banyak dibandingkan dengan volume lebih rendah sekitar 72 dB. Kondisi ini terjadi karena suasana bising bikin kamu kurang sadar terhadap ritme minum sendiri. Akibatnya, kamu lebih cepat menghabiskan minuman tanpa disadari.

Penelitian lain oleh Nicolas Guéguen dan timnya juga menemukan hasil serupa di bar di Prancis. Partisipan yang berada di lingkungan dengan musik lebih keras memesan minuman lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berada di suasana lebih tenang. Temuan ini memperkuat bahwa suara keras bisa meningkatkan konsumsi minuman. Dari sisi bisnis, kondisi ini jelas menguntungkan restoran karena omzet minuman ikut naik.

2. Suara bising memicu stres dan makan berlebihan

ilustrasi makan di restoran
ilustrasi makan di restoran (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Lingkungan yang bising ternyata bisa memicu stres ringan dalam tubuh. Seorang peneliti bernama Kupferman menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi makanan dan minuman bisa menjadi respons terhadap stres akibat suara. Dalam eksperimennya pada hewan, ditemukan bahwa suara bising membuat mereka makan lebih banyak bahkan saat sudah kenyang. Mekanisme ini juga terjadi pada manusia dalam skala tertentu.

Kondisi stres ringan membuat otak mencari distraksi, salah satunya lewat makanan. Saat kamu makan di tempat dengan musik keras, tubuh cenderung mengalihkan perhatian dari rasa gak nyaman dengan terus makan. Akibatnya, kamu bisa makan lebih banyak dari biasanya tanpa benar-benar lapar. Kebiasaan ini, kalau sering terjadi, bisa berdampak pada kesehatan jangka panjang.

3. Volume tinggi mendorong pilihan makanan yang gak sehat

ilustrasi makan burger
ilustrasi makan burger (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Bukan cuma soal jumlah, jenis makanan yang kamu pilih juga bisa dipengaruhi oleh volume musik, lho. Profesor pemasaran dari University of South Florida, Dipayan Biswas, menemukan bahwa musik dengan volume tinggi membuat orang lebih cenderung memilih makanan gak sehat. Dalam penelitiannya di Stockholm, terjadi peningkatan sekitar 20 persen dalam pemesanan makanan yang tidak sehat saat musik diputar lebih keras.

Lingkungan bising membuat otak bekerja lebih cepat dan kurang reflektif dalam mengambil keputusan. Akibatnya, kamu lebih impulsif saat memilih menu. Pilihan seperti burger, kentang goreng, atau makanan tinggi kalori jadi lebih menggoda dibandingkan salad atau menu sehat lainnya. Tanpa sadar, kamu akhirnya memilih makanan berdasarkan dorongan sesaat, bukan pertimbangan kesehatan.

4. Restoran sengaja pakai strategi ini untuk keuntungan

ilustrasi makan bareng di restoran
ilustrasi makan bareng di restoran (pexels.com/Ron Lach)

Banyak restoran sadar bahwa musik bisa jadi alat untuk meningkatkan keuntungan. Sejak era 1990-an, beberapa chef mulai memutar musik yang lebih keras untuk menciptakan suasana tertentu. Tren ini kemudian diikuti banyak restoran lain, terutama dengan desain interior yang memantulkan suara seperti konsep industrial modern. Kombinasi ini membuat suasana jadi semakin ramai dan bising.

Survei dari Consumer Reports menunjukkan bahwa kebisingan menjadi keluhan utama pelanggan restoran, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pelayanan buruk atau kebersihan. Meski begitu, dari sisi bisnis, suara keras terbukti meningkatkan perputaran meja dan konsumsi pelanggan. Artinya, restoran bisa melayani lebih banyak orang dalam waktu lebih cepat. Strategi ini memang efektif, meski gak selalu disukai pelanggan.

Volume musik di restoran ternyata bukan sekadar pelengkap suasana, tapi bagian dari strategi yang cukup “cerdik”. Mulai dari bikin kamu minum lebih banyak, makan lebih cepat, sampai memilih menu yang kurang sehat, semuanya bisa dipengaruhi oleh suara.

Menyadari hal ini bikin kamu jadi lebih waspada saat makan di luar. Pilihan tetap ada di tanganmu, mau ikut arus atau tetap mindful dengan apa yang kamu konsumsi. Jadi, lain kali kalau kamu merasa suasana terlalu bising, mungkin itu bukan kebetulan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Food

See More