Ilustrasi begadang (Freepik.com/ hellodavidpradoperucha)
Idealnya, puasa bisa membantu memperbaiki ritme sirkadian tubuh, tapi buat sebagian orang malah sebaliknya. Kalau kamu justru susah tidur atau sering terbangun di tengah malam dengan perut keroncongan, itu tandanya gula darah kamu drop terlalu rendah. Tubuh bakal ngelepasin adrenalin buat nyari energi tambahan yang akhirnya bikin kamu melek semalaman.
Kurang tidur bakal bikin hormon rasa lapar (ghrelin) melonjak keesokan harinya, sehingga manfaat puasa kamu malah jadi sia-sia. Kalau setiap malam kamu cuma bisa guling-guling di kasur sambil nunggu jam buka puasa, itu tandanya tubuh kamu butuh asupan karbohidrat atau protein lebih awal. Jangan sepelekan waktu istirahat, karena di situlah sebenarnya proses pembakaran lemak dan pemulihan sel terjadi.
Mengejar tubuh ideal memang bagus, tapi jangan sampai kamu mengabaikan teriakan dari badan kamu sendiri. Intermittent Fasting emang populer, tapi kesehatan kamu gak boleh dikorbankan cuma buat ngikutin gaya hidup orang lain. Kalau kamu ngerasain salah satu atau beberapa tanda di atas, gak usah malu buat berhenti dan balik ke pola makan yang lebih fleksibel.
Kesehatan itu perjalanan panjang, bukan balapan lari cepat. Cari pola makan yang bikin kamu merasa bertenaga, bahagia, dan tetap bisa menikmati hidup bareng orang tersayang. Kalau memang gak cocok intermittent fasting, segera berhenti dan coba cari metode diet lainnya yang sesuai dengan metabolisme tubuhmu. Tetap semangat buat hidup sehat dengan cara yang paling cocok buat diri kamu sendiri!
Referensi
"9 Potential Intermittent Fasting Side Effects" Healthline. Diakses pada 16 Februari 2026.
"4 intermittent fasting side effects to watch out for" Harvard Health Publishing. Diakses pada 16 Februari 2026.
"Safety, health improvement and well-being during a 4 to 21-day fasting period in an observational study including 1422 subjects" PLOS ONE. Diakses pada 16 Februari 2026.