Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Intermitten fasting
Intermitten fasting (pixabay.com/ Bellahu123)

Intinya sih...

  • Siklus menstruasi terganggu, bisa telat atau berhenti sama sekali karena stres fisik dan gangguan hormon GnRH.

  • Emosi mudah meledak dan sering bad mood karena stres menahan lapar, dapat merusak kesehatan mental dan sosialisasi.

  • Rambut rontok parah, kuku rapuh, dan kulit kusam akibat defisiensi nutrisi karena asupan makan yang tidak seimbang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lagi semangat-semangatnya mencoba tren diet Intermittent Fasting (IF) tapi kok rasanya badan malah makin amburadul? Memang sih, metode puasa berselang ini punya segudang manfaat buat kesehatan dan penurunan berat badan. Tapi kamu harus paham kalau metabolisme dan kondisi tubuh tiap orang itu beda-beda, jadi gak semua orang bakal cocok sama pola ini.

Kalau kamu ngerasa ada yang salah, jangan dipaksain cuma demi hasil yang instan. Memaksakan diri saat tubuh sudah kasih sinyal penolakan malah bisa bikin hormon kamu berantakan dan metabolisme terganggu. Yuk, cek tanda-tanda berikut ini buat memastikan kalau kamu memang gak cocok intermittent fasting!

1. Siklus menstruasi jadi berantakan banget

Ilustrasi jadwal menstruasi (Freepik.com/arso74)

Bagi kamu para wanita, siklus menstruasi adalah indikator kesehatan yang paling jujur. Kalau setelah rutin IF kamu mendadak telat haid atau malah berhenti sama sekali, itu tandanya tubuh kamu lagi stres berat. Otak bakal menganggap kondisi kurangnya asupan kalori dalam waktu lama sebagai ancaman, sehingga fungsi reproduksi pun dimatikan sementara.

Hal ini biasanya terjadi karena adanya gangguan pada hormon GnRH yang mengatur ovulasi. Tubuh kamu ngerasa gak punya cukup energi buat mendukung kehamilan, meskipun kamu gak lagi berencana hamil. Jadi, kalau jadwal bulanan kamu mulai kacau, mending segera evaluasi pola puasa kamu sebelum dampaknya makin panjang pada kesehatan tulang dan rahim.

2. Emosi jadi gampang meledak dan sering bad mood

Mood swing (freepik.com/ krakenimages.com)

Sering ngerasa hangry alias marah-marah gara-gara laper yang gak tertahankan? Kalau rasa lapar ini bikin kamu jadi gampang tersinggung, cemas, atau malah depresi ringan, berarti otak kamu gak dapet bahan bakar yang cukup. Stres karena menahan lapar bisa ningkatin hormon kortisol yang bikin suasana hati kamu jadi gak karuan sepanjang hari.

Harusnya diet itu bikin kamu merasa lebih sehat dan berenergi, bukan malah bikin orang-orang di sekitar kamu jadi sasaran kemarahan. Kalau puasa berselang ini justru ngerusak kesehatan mental dan bikin kamu susah sosialisasi, itu sinyal kuat kalau metode ini bukan buat kamu. Kebahagiaan kamu jauh lebih penting daripada sekadar angka di timbangan.

3. Rambut rontok parah dan kuku gampang patah

ilustrasi rambut rontok (freepik.com/ sweet_tomato)

Coba deh perhatiin sisir kamu, apakah ada helai rambut yang rontok lebih banyak dari biasanya? Tubuh manusia punya sistem prioritas dalam menyalurkan nutrisi. Saat kalori yang masuk sangat terbatas karena jendela makan yang terlalu sempit, tubuh bakal ngirimin nutrisi ke organ vital dulu kayak jantung dan paru-paru, sementara rambut dan kuku jadi urusan belakangan.

Kondisi ini disebut telogen effluvium, di mana rambut masuk ke fase istirahat lebih cepat karena stres fisik. Kalau kuku kamu juga jadi rapuh atau kulit terlihat kusam, itu artinya kamu mengalami defisiensi nutrisi akibat asupan makan yang gak seimbang. Jangan sampai impian punya badan langsing malah bikin kamu kehilangan mahkota kepala kamu, ya!

4. Kamu punya riwayat gangguan makan

Gangguan makan (freepik.com/ yanalya)

Kalau kamu punya sejarah anoreksia, bulimia, atau binge eating, metode IF ini bisa jadi pemicu yang sangat berbahaya. Fokus yang berlebihan pada jam makan dan pembatasan asupan bisa bikin kamu kembali ke pola pikir yang gak sehat terhadap makanan. Kamu mungkin bakal ngerasa sangat bersalah kalau makan di luar jam yang ditentukan.

IF sering kali jadi alasan buat seseorang legal gak makan dalam waktu lama, padahal aslinya itu adalah bentuk perilaku obsesif. Jika kamu mulai ngerasa terobsesi sama jam dan mengabaikan rasa lapar alami tubuh, sebaiknya berhenti sekarang juga. Kesehatan mental dan hubungan yang harmonis dengan makanan jauh lebih berharga daripada mengikuti tren diet apa pun.

5. Kualitas tidur jadi hancur dan sering insomnia

Ilustrasi begadang (Freepik.com/ hellodavidpradoperucha)

Idealnya, puasa bisa membantu memperbaiki ritme sirkadian tubuh, tapi buat sebagian orang malah sebaliknya. Kalau kamu justru susah tidur atau sering terbangun di tengah malam dengan perut keroncongan, itu tandanya gula darah kamu drop terlalu rendah. Tubuh bakal ngelepasin adrenalin buat nyari energi tambahan yang akhirnya bikin kamu melek semalaman.

Kurang tidur bakal bikin hormon rasa lapar (ghrelin) melonjak keesokan harinya, sehingga manfaat puasa kamu malah jadi sia-sia. Kalau setiap malam kamu cuma bisa guling-guling di kasur sambil nunggu jam buka puasa, itu tandanya tubuh kamu butuh asupan karbohidrat atau protein lebih awal. Jangan sepelekan waktu istirahat, karena di situlah sebenarnya proses pembakaran lemak dan pemulihan sel terjadi.

Mengejar tubuh ideal memang bagus, tapi jangan sampai kamu mengabaikan teriakan dari badan kamu sendiri. Intermittent Fasting emang populer, tapi kesehatan kamu gak boleh dikorbankan cuma buat ngikutin gaya hidup orang lain. Kalau kamu ngerasain salah satu atau beberapa tanda di atas, gak usah malu buat berhenti dan balik ke pola makan yang lebih fleksibel.

Kesehatan itu perjalanan panjang, bukan balapan lari cepat. Cari pola makan yang bikin kamu merasa bertenaga, bahagia, dan tetap bisa menikmati hidup bareng orang tersayang. Kalau memang gak cocok intermittent fasting, segera berhenti dan coba cari metode diet lainnya yang sesuai dengan metabolisme tubuhmu. Tetap semangat buat hidup sehat dengan cara yang paling cocok buat diri kamu sendiri!

Referensi

"9 Potential Intermittent Fasting Side Effects" Healthline. Diakses pada 16 Februari 2026.

"4 intermittent fasting side effects to watch out for" Harvard Health Publishing. Diakses pada 16 Februari 2026.

"Safety, health improvement and well-being during a 4 to 21-day fasting period in an observational study including 1422 subjects" PLOS ONE. Diakses pada 16 Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team