ilustrasi heshiko (commons.wikimedia.org/ Asturio Cantabrio)
Heshiko merupakan makanan khas wilayah Hokuriku, terutama Prefektur Fukui, yang dibuat dengan mengawetkan ikan menggunakan garam dan dedak padi atau nukazuke. Ikan seperti makarel diasinkan terlebih dahulu, kemudian ditempatkan dalam dedak padi untuk menjalani proses pengawetan selama periode tertentu.
Teknik tersebut membantu mempertahankan ikan ketika penyimpanan dingin belum tersedia seperti sekarang. Setelah proses pengawetan selesai, ikan dapat dipanggang atau diolah kembali sebelum disantap. Rasa heshiko cenderung asin dan gurih karena proses penggaraman yang panjang, sehingga biasanya dimakan bersama nasi dalam porsi yang gak terlalu banyak.
Teknik pengawetan tradisional memperlihatkan bahwa keterbatasan teknologi bukan berarti masyarakat dulu gak punya cara untuk menjaga bahan pangan tetap bisa digunakan dalam waktu lebih lama. Mereka memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar, kemudian mengandalkan proses alami untuk mengubah karakter bahan tersebut.
Warisan seperti ini juga masih punya tempat dalam budaya makan Jepang sampai sekarang. Buat pencinta kuliner, makanan tradisional semacam ini menarik karena memperlihatkan sisi lain masakan Jepang yang gak selalu terlihat dari sushi, ramen, atau tempura yang lebih populer di luar negeri.