Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Negara dengan Steak Paling Enak, Kamu Wajib Coba!
ilustrasi daging steak (pexels.com/Mohamed Olwy)
  • Artikel menyoroti enam negara dengan tradisi steak unik: Argentina, Jepang, Italia, Brasil, Prancis, dan Amerika Serikat, masing-masing punya teknik memasak serta filosofi berbeda dalam menikmati daging.
  • Argentina dikenal lewat asado yang jadi simbol kebersamaan; Jepang unggul dengan wagyu berlemak halus; sementara Italia menonjolkan bistecca alla fiorentina yang tebal dan sederhana.
  • Brasil menghadirkan churrasco interaktif, Prancis memikat lewat steak frites elegan, dan Amerika Serikat terkenal dengan budaya steakhouse klasik yang melambangkan kemewahan serta kebersamaan keluarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau kamu mengira steak hanya soal daging panggang biasa, enam negara ini siap mengubah pandanganmu. Setiap negara punya cara unik dalam memilih potongan, teknik memasak, hingga tradisi saat menikmatinya.

Steak gak melulu soal rasa, tapi juga sering jadi bagian dari identitas budaya dan momen kebersamaan. Ada negara yang mengandalkan api kecil berjam-jam, ada juga yang fokus pada marbling premium dan presisi kematangan.

Menariknya, dari semua gaya itu, tidak ada satu negara pun yang benar-benar bisa “mengklaim” steak sebagai miliknya sendiri. Justru kelezatan steak dunia lahir dari sentuhan khas masing-masing budaya yang bikin kamu ingin mencobanya satu per satu.

1. Argentina

ilustrasi budaya asado, Argentina (commons.wikimedia.org/Rldca)

Kalau bicara steak kelas dunia, Argentina hampir selalu masuk daftar teratas. Tradisi makan daging sapi di sini berakar pada masa kolonial Spanyol, ketika sapi dilepas di padang rumput Pampas yang subur. Dari situlah lahir budaya asado, yaitu teknik memanggang daging secara perlahan di atas bara api kecil. Sampai sekarang, steak di Argentina gak sekadar makanan, melainkan simbol kebersamaan keluarga dan teman.

Koki ternama Francis Mallmann menjelaskan bahwa keindahan steak Argentina justru ada pada momen berkumpulnya. Kamu gak hanya makan daging, tapi juga menikmati obrolan tentang sepak bola, persahabatan, sampai kehidupan sehari-hari.

Potongan paling ikonik biasanya iga tipis bertulang atau tira de asado yang dimasak sangat sabar. Sensasi gurihnya makin lengkap dengan chimichurri segar berbahan parsley, oregano, cabai, dan cuka.

2. Jepang

ilustrasi daging wagyu (pexels.com/Jed ji)

Kalau kamu suka steak yang lembut banget sampai nyaris lumer, Jepang jelas jadi jawaranya. Negara ini terkenal lewat wagyu, kobe, dan omi beef yang punya marbling super cantik. Lemak tipis yang menyebar merata bikin setiap gigitan terasa juicy sekaligus buttery. Fokus utama steak Jepang terletak pada kualitas bahan dan teknik masak yang presisi.

Chef Haruka Katayanagi menggambarkan bahwa keindahan steak Jepang ada pada kemurnian rasa lemak dan ketelitian proses memasaknya. Banyak restoran menggunakan arang atau teppanyaki, jadi kamu bisa melihat steak dimasak langsung di depan mata. Biasanya steak disajikan sederhana bersama nasi putih dan sup miso agar rasa daging tetap menjadi pusat perhatian. Kalau kamu suka pengalaman premium, Jepang sulit dilawan.

3. Italia

ilustrasi bistecca alla Fiorentina, steak khas Italia (pexels.com/Regina Tommasi)

Italia punya kebanggaan besar bernama bistecca alla fiorentina. Ini adalah steak Tuscan tebal berbentuk T-bone yang sudah dikenal sejak era Renaissance. Ukurannya gak main-main, bahkan bisa lebih dari satu setengah kilogram. Karena porsinya besar, steak ini identik dengan momen perayaan, bukan sekadar makan malam biasa.

Dario Cecchini, tukang daging generasi kedelapan dari Chianti, menjelaskan bahwa steak terbaik justru dimasak dengan cara paling sederhana. Daging hanya dipanggang di atas kayu oak tanpa bumbu berlebihan. Garam dan olive oil baru ditambahkan saat sudah sampai di meja makan. Pendamping paling klasik adalah kacang cannellini putih yang dimasak simpel, yang bikin rasa steak tetap dominan.

4. Brasil

ilustrasi churrasco, masak steak ala Brasil (commons.wikimedia.org/Benjamin Thompson from Orlando, FL, USA)

Kalau kamu suka konsep makan daging tanpa henti, Brasil adalah surganya. Budaya steak di sini identik dengan churrasco, yaitu teknik memanggang daging menggunakan tusuk besi panjang di atas bara api. Gaya ini berkembang dari tradisi para peternak pada abad ke-18 dan ke-19. Sampai sekarang, churrasco menjadi salah satu kebanggaan kuliner nasional Brasil.

Potongan favoritnya adalah picanha, bagian atas rump yang terkenal juicy karena lapisan lemaknya. Di restoran churrascaria, pelayan akan datang ke meja sambil mengiris daging langsung untukmu. Pengalaman ini bikin makan steak terasa interaktif dan seru. Biasanya steak ditemani nasi, kacang hitam, farofa, sampai singkong goreng yang bikin rasanya makin kaya.

5. Prancis

ilustrasi steak frites, steak ala Prancis (pexels.com/Denys Gromov)

Prancis mungkin paling dikenal lewat steak frites, kombinasi entrecôte tipis dengan kentang goreng renyah. Meski terlihat simpel, kekuatan steak Prancis ada pada teknik pemotongan daging dan sausnya. Negara ini juga terkenal akan sangat menghargai setiap bagian sapi, jadi seni butchery berkembang dengan sangat detail. Hasilnya, tiap potongan punya fungsi rasa yang jelas.

Ariane Daguin menjelaskan bahwa budaya steak Prancis sangat menekankan pemanfaatan seluruh bagian sapi dengan cara terbaik. Karena itu, kamu bisa menemukan banyak variasi seperti bavette, tartare, sampai bœuf bourguignon. Steak biasanya disajikan rare dengan saus béarnaise, peppercorn, atau bordelaise. Ditambah salad hijau ringan atau kentang goreng, rasanya elegan tapi tetap nyaman di lidah.

6. Amerika Serikat

ilustrasi porterhouse steak (commons.wikimedia.org/Naotake Murayama from San Francisco, CA, USA)

Kalau bicara steakhouse mewah, Amerika Serikat jelas punya reputasi besar. Dari porterhouse, rib-eye, sampai filet mignon, pilihan potongannya sangat luas. Budaya steakhouse Amerika berkembang pesat sejak abad ke-19 dengan suasana ruang makan gelap, porsi besar, dan side dish yang indulgent. Gaya ini membuat steak terasa sebagai simbol kemewahan.

Chef Angie Mar menggambarkan bahwa identitas steak Amerika juga lahir dari budaya campuran banyak imigran. Karena itu, selain porterhouse dan rib-eye, burger juga sering dianggap sebagai bentuk steak paling autentik ala Amerika.

Tradisi memanggang di halaman rumah setelah Perang Dunia II juga memperkuat hubungan steak dengan momen kumpul keluarga. Kalau kamu suka steak tebal dengan vibe klasik, Amerika punya daya tarik yang susah ditolak.

Kalau ditanya siapa penguasa steak terenak di dunia, jawabannya sebenarnya tergantung selera kamu sendiri. Argentina unggul dalam tradisi asado, Jepang memikat lewat wagyu premium, sementara Amerika menang pada pengalaman steakhouse klasik. Italia, Brasil, dan Prancis juga punya karakter yang sama kuatnya dengan gaya khas masing-masing.

Serunya justru ada pada perbedaan teknik, budaya, dan cara menikmatinya. Jadi, dari enam negara ini, steak gaya mana yang paling bikin kamu lapar?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team

Related Article