ilustrasi steak tartar (freepik.com/freepik)
Dahulu, daging cincang yang dimakan mentah menjadi makanan suku tatar yang berasal dari wilayah Asia Tengah. Makanan tersebut kemudian disebut dengan 'steak tartare'. Kemudian, hidangan ini menyebar ke wilayah Eropa dan terkenal di berbagai negara seperti Jerman, Belgia, Prancis, dan lainnya.
Pada abad ke-18, warga Hamburg, Jerman mulai mengkreasikan daging cincang tersebut dengan penambahan breadcrumb dan dipanggang lalu dimakan bersama saus kental. Hidangan ini disebut dengan nama frikadelle atau frikadellen. Makanan ini umum dimakan oleh pekerja di Jerman, yang lama-kelamaan menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Amerika, karena dibawa dan dikenalkan oleh imigran Jerman. Hidangan ini pun kemudian disebut dengan steak Hamburg.
Di Jepang, masyarakat Jepang mengikuti pola makan orang Buddha yang ketat dan tidak mengizinkan makan daging. Namun, saat era Meiji, terdapat beberapa perubahan, termasuk aturan pola makan masyarakat Negeri Matahari Terbit. Di era tersebut, yoshoku perlahan menjadi hidangan yang umum dimakan, tak terkecuali munculnya steak Hamburg.
Walaupun bukan asli makanan tradisional Jepang, tapi hambagu sudah terkenal sejak era Meiji ketika Jepang mulai bersahabat dengan makanan-makanan yang berasal dari negara Barat.
Versi awal dari hambagu adalah daging sapi digiling lalu ditaburi dengan tepung, dipanggang di atas minyak atau lemak, dan disajikan dengan saus tomat. Namun, lama kelamaan, rasa hambagu disesuaikan dengan lidah orang Jepang, seperti penambahan kecap asin, saus ponzu, atau saus teriyaki.
Setelah Perang Dunia II, seiring dengan tersedianya daging dala jumlah banyak, hambagu menjadi makin populer di Jepang, khususnya di kalangan ibu rumah tangga. Hambagu menjadi makanan praktis dan hemat karena dapat mencampurkan daging yang murah seperti daging babi dan ayam untuk melengkapi daging sapi yang mahal.