Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi memasak
ilustrasi memasak (pexels.com/Anna Shvets)

Intinya sih...

  • Mau jajan berpikir seribu kali

  • Rasa masakan di luar berlebihan

  • Merasa cukup dengan satu lauk dan satu sayur

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Apa yang mendorongmu untuk mulai masak sendiri di rumah? Padahal, tadinya kamu hampir setiap hari beli makanan di luar. Secara kesibukan barangkali gak ada bedanya antara dulu dan sekarang. Dirimu masih bekerja setidaknya lima hari dalam seminggu.

Namun, kamu tetap berusaha meluangkan waktu untuk menyiapkan makananmu sendiri. Alasan yang paling mungkin hingga dirimu rajin memasak barangkali terkait penghematan. Kamu telah menyadari bahwa jajan terus di luar bikin pengeluaranmu membengkak.

Penyebab berikutnya boleh jadi seputar kesehatan. Kamu mesti berpantang ini itu. Makan di luar menyulitkan program dietmu. Walaupun awalnya dirimu terpaksa memasak, lama-lama malah bisa mengalami lima perubahan setelah masak sendiri berikut ini. Memasak akhirnya menjadi kebutuhan sekaligus kesenangan.

1. Mau jajan berpikir seribu kali

ilustrasi memasak (pexels.com/Sarah Chai)

Dulu kamu malah seperti sama sekali tidak berpikir untuk memutuskan jajan. Bangun tidur di pagi hari pun hal pertama yang terpikirkan ialah dirimu hendak beli sarapan apa serta di mana. Kamu langsung membayangkan bubur ayam, serabi, soto, dan sebagainya.

Belum nanti siang serta malam. Pokoknya kalau sudah dekat waktu makan, dirimu langsung gas saja mengikuti keinginan jajan. Akan tetapi, sekarang lain sekali. Kamu tidak lagi impulsif ketika butuh makan.

Dirimu mencermati betul daftar menu di aplikasi pesan antar. Kamu juga membandingkan harga per porsinya plus ongkir dibandingkan dengan masak sendiri. Misalnya, seporsi nasi ayam plus minumnya dijual 35 ribu rupiah.

Sama ongkir tembus 40 ribu rupiah. Kamu yang sudah tahu harga ayam per kilo di daerahmu gak sampai 40 ribu rupiah menjadi ogah jajan. Bikin es teh sendiri juga cuma modal beli gula serta teh celup belasan ribu rupiah sudah dapat 25 kantong teh.

2. Rasa masakan di luar berlebihan

ilustrasi memasak (pexels.com/Katerina Holmes)

Gak cuma memikirkan perbandingan harga makanan di luar dengan bila memasak sendiri. Kamu yang tadinya sangat menggemari masakan rumah makan kini malah merasa kurang suka. Sejak dirimu terbiasa memasak sendiri, masakan warung terasa terlalu asin atau gurihnya sampai bikin mual.

Penilaian ini bukan tanpa sebab. Selama kamu memasak sendiri di rumah pasti bumbu yang digunakan lebih tertakar. Dirimu memasak untuk porsi yang jauh lebih kecil ketimbang warung. Kamu juga hanya perlu menyesuaikan rasa dengan seleramu.

Sementara juru masak di rumah makan mesti memastikan rasa masakannya nendang buat semua orang. Kalau gak begitu nanti malah dikomentari hambar. Penambahan MSG juga banyak agar masakan terasa makin gurih.

3. Merasa cukup dengan satu lauk dan satu sayur

ilustrasi memasak (pexels.com/Helena Lopes)

Setelah merasakan sendiri kerepotan di dapur, kamu gak rewel lagi soal makanan. Dirimu merasa puas makan hanya dengan satu lauk dan satu hidangan sayur. Misalnya, lauk tempe atau ayam goreng dengan tumis kangkung.

Sementara saat dulu kamu jajan, piring nasimu dilengkapi lebih dari satu olahan sayur. Sudah ada tumis kangkung, masih ditambah sambal goreng kentang dan lodeh. Lauknya ada telur, gorengan, serta kerupuk. Bila gak begitu, rasanya makan tidak memuaskan.

Namun, selepas kamu memasak sendiri pikiran tak hanya fokus pada memuaskan lidah. Pikiranmu telah sibuk sejak menyiapkan bahan sampai masakan matang. Pun kamu memasak satu lauk dan satu sayur sudah capek. Waktu serta energi mending segera dialihkan ke kegiatan lain.

4. Lebih mudah kenyang, berat badan ikut berkurang

ilustrasi bersantap (pexels.com/Miriam Alonso)

Memang di awal kamu terpaksa mesti masak sendiri pasti gampang bosan. Akibatnya, nafsu makan menurun. Akan tetapi, lama-kelamaan dirimu lebih cepat kenyang bukan lantaran gak berselera. Nafsu makanmu bagus.

Hanya saja, melakukan sendiri setiap proses sampai hidangan tersaji efektif untuk menunda keinginan makan. Dulu ketika kamu jajan terus, kapan pun ingin makan tinggal pergi ke warung atau pesan online. Sekarang setelah dirimu memasak gak bisa begitu.

Kamu bahkan perlu merencanakan menu setidaknya buat besok biar pas belanja gak ada yang tertinggal. Lalu dirimu pergi ke pasar dan sibuk memasak. Keinginan makan yang tidak seketika dituruti meningkatkan pengendalian dirimu. Rasa kenyang pun akan datang lebih cepat. Bonusnya, berat badan yang agak berlebih ikut turun. Sama sekali tak berarti masakanmu kurang bergizi.

5. Medsos dihiasi unggahan belanja bahan, proses memasak, dan hasilnya

ilustrasi memotret masakan (pexels.com/Anna Shvets)

Keseharianmu berubah, sedikit banyak unggahanmu di media sosial juga terpengaruh. Waktu kamu makan di luar setiap hari, pasti unggahan soal apa yang dibeli tak cuma satu atau dua. Dirimu bahkan bisa sambil kasih ulasan dan rekomendasi.

Namun, setelah kamu rajin masak sendiri otomatis materi di atas sudah gak ada. Mulanya dirimu mengunggah aktivitas belanja bahan masakan dan memasak untuk menambah motivasi. Siapa tahu ada teman-teman yang kasih support.

Itu akan membuatmu tambah bersemangat memasak sendiri setiap hari. Sekejap saja ini bakal menjadi kebiasaan baru. Belum lengkap rasanya harimu bila tidak memperlihatkan masakanmu. Apalagi di akhir pekan ketika kamu punya lebih banyak waktu untuk memasak berbagai hidangan istimewa.

Apa pun alasanmu, jangan berhenti selama kamu merasakan perubahan setelah masak sendiri. Apalagi kalau kamu merasakan manfaat positif setelahnya. Bahkan jika tadinya kamu terpaksa memasak demi berhemat, selepas pendapatan naik juga sebaiknya diteruskan. Biar dirimu gak lupa resep, makin banyak uang yang bisa ditabung, serta kesehatan lebih terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team