Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi tempe
ilustrasi tempe (commons.wikimedia.org/FotoosVanRobin )

Intinya sih...

  • Tempe, fermentasi kedelai kaya gizi dan bioaktif.

  • Tapai singkong, sumber bakteri baik dan energi untuk musim hujan.

  • Oncom, pangan fermentasi yang kaya protein dan nutrisi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Musim hujan sering membuat tubuh lebih rentan terhadap gangguan kesehatan. Perubahan suhu, kelembapan tinggi, dan aktivitas yang tetap padat membuat sistem imun bekerja ekstra. Di tengah tren hidup sehat, perhatian publik kembali tertuju pada makanan fermentasi yang dikenal ramah pencernaan. Menariknya, Indonesia punya beragam pangan fermentasi lokal yang sudah lama hadir di meja makan.

Makanan hasil fermentasi identik dengan kandungan bakteri baik yang berperan mendukung kesehatan usus. Saat fungsi cerna terjaga, respons imun tubuh pun cenderung lebih optimal. Inilah alasan mengapa tempe hingga kombucha lokal kembali dianggap relevan sebagai bagian dari pola makan harian. Yuk simak lima jenis makanan fermentasi lokal yang sering dikaitkan dengan upaya menjaga imunitas, terutama saat musim hujan.

1. Tempe, fermentasi kedelai yang kaya gizi

ilustrasi memotong tempe (pexels.com/cottonbro studio)

Tempe merupakan salah satu makanan fermentasi lokal paling mudah dijumpai. Proses fermentasi kedelai membuat tempe lebih mudah dicerna dibandingkan kacang utuh. Selain protein nabati, tempe mengandung senyawa bioaktif hasil fermentasi. Kandungan ini berkontribusi pada kesehatan saluran cerna.

Dilansir dari Healthline, makanan fermentasi dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus. Kondisi usus yang sehat berperan penting dalam sistem imun tubuh. Karena itu, manfaat tempe untuk kesehatan sering dikaitkan dengan dukungan daya tahan tubuh. Konsumsi tempe secara rutin bisa menjadi bagian dari cara jaga imunitas yang sederhana.

2. Tapai singkong, sumber bakteri baik dan energi

ilustrasi singkong (pixabay.com/Bintang_Galaxy)

Tapai singkong dikenal dengan rasa manis asam yang khas. Proses fermentasinya melibatkan ragi dan bakteri yang memecah karbohidrat menjadi bentuk yang lebih mudah dicerna. Hal ini membuat tapai kerap dianggap lebih ringan bagi pencernaan. Di musim hujan, asupan energi yang cukup penting untuk menjaga stamina.

Menurut Medical News Today, kesehatan usus memiliki hubungan erat dengan fungsi imun. Fermentasi membantu mendukung keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Meski begitu, konsumsi tapai tetap perlu dibatasi karena kandungan gulanya. Dalam porsi wajar, tapai bisa melengkapi pola makan sehat.

3. Oncom, pangan fermentasi yang sering diremehkan

ilustrasi oncom (commons.wikimedia.org/Hariadhi)

Oncom merupakan hasil fermentasi ampas kedelai atau kacang tanah yang kaya protein. Proses ini membantu meningkatkan ketersediaan nutrisi pada bahan pangan. Meski kerap dianggap makanan sederhana, nilai gizinya tidak bisa dipandang sebelah mata. Oncom juga menjadi contoh pemanfaatan pangan secara berkelanjutan.

Healthline menjelaskan bahwa fermentasi dapat meningkatkan penyerapan zat gizi tertentu. Hal ini membuat tubuh lebih efisien memanfaatkan nutrisi dari makanan. Dalam konteks makanan fermentasi lokal, oncom layak dipertimbangkan sebagai pendukung kesehatan. Terutama jika diolah dengan cara bersih dan tidak berlebihan.

4. Yogurt lokal, hasil fermentasi susu yang ramah cerna

ilustrasi yogurt (freepik.com/jcomp)

Yogurt lokal kini semakin mudah ditemukan, baik produksi rumahan maupun UMKM. Fermentasi susu menghasilkan bakteri baik seperti Lactobacillus yang dikenal mendukung kesehatan pencernaan. Konsumsi yogurt sering dikaitkan dengan keseimbangan mikrobiota usus. Efek ini berkontribusi pada fungsi imun yang lebih stabil.

Dikutip dari Cleveland Clinic, sebagian besar sistem imun berkaitan dengan kondisi saluran cerna. Probiotik dalam yogurt membantu menjaga lingkungan usus tetap sehat. Karena itu, yogurt kerap direkomendasikan dalam pola makan seimbang. Pilih yogurt rendah gula agar manfaatnya lebih optimal.

5. Kombucha lokal, adaptasi modern pangan fermentasi

ilustrasi kombucha (freepik.com/freepik)

Kombucha kini tak lagi identik dengan produk impor. Banyak produsen lokal mulai mengembangkan kombucha berbahan teh dan gula alami. Proses fermentasinya menghasilkan senyawa bioaktif serta probiotik. Minuman ini sering dipilih sebagai alternatif minuman manis.

Dilansir dari Healthline, kombucha mengandung antioksidan dan bakteri baik yang mendukung kesehatan pencernaan. Meski bukan pengganti pengobatan, kombucha dapat menjadi pelengkap pola makan sehat. Konsumsi tetap perlu dibatasi karena sifatnya yang asam. Dalam jumlah wajar, kombucha lokal mencerminkan tren sehat yang lebih sadar proses.

Makanan fermentasi lokal menunjukkan bahwa upaya menjaga imunitas tidak selalu harus bergantung pada produk mahal. Dengan proses alami dan nilai gizi yang mendukung kesehatan usus, pangan tradisional ini kembali relevan di musim hujan. Mengonsumsi tempe, tapai, hingga kombucha lokal bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Yuk, mulai melihat kembali kekayaan fermentasi Nusantara sebagai langkah sederhana menjaga daya tahan tubuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team