Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Penyebab Diabetes Bisa Muncul di Usia Muda, Waspadai!
ilustrasi cek gula darah (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Kasus diabetes di usia muda meningkat akibat perubahan gaya hidup, pola makan tinggi gula, dan faktor biologis yang sering tidak disadari sejak awal.
  • Kebiasaan kurang aktivitas fisik, kelebihan lemak perut, serta pola makan tinggi kalori mempercepat resistensi insulin dan gangguan metabolisme.
  • Faktor genetik, kurang tidur, dan stres kronis turut memperbesar risiko diabetes sehingga penting menjaga pola hidup sehat sejak dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Diabetes sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang usia lanjut. Padahal dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes di usia muda terus meningkat. Anak muda yang mungkin terlihat aktif dan memiliki berat badan normal pun tidak sepenuhnya terbebas dari risiko penyakit ini.

Munculnya diabetes di usia muda umumnya berkaitan dengan perubahan gaya hidup, pola makan, dan faktor biologis tertentu. Kondisi ini sering berkembang perlahan tanpa gejala jelas pada awalnya. Memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar kita dapat mengenali dan mencegah penyakit diabetes sejak dini.

1. Pola makan yang tinggi gula

ilustrasi gula (pexels.com/mali maeder)

Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula menjadi salah satu faktor utama meningkatnya diabetes di usia muda. Minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan olahan menyebabkan lonjakan gula darah yang berulang. Jika terjadi terus menerus, tubuh dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu resistensi insulin, yaitu saat sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Akibatnya, kadar gula darah sulit dikendalikan meski tubuh masih memproduksi insulin. Kebiasaan makan seperti ini sering tidak disadari karena dianggap wajar dalam keseharian.

2. Kurangnya aktivitas fisik

ilustrasi wanita yang sedang jogging (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

Gaya hidup yang kurang bergerak berperan besar dalam meningkatkan risiko diabetes. Terlalu banyak duduk, jarang berolahraga, dan minim aktivitas fisik membuat tubuh kurang efektif menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, gula lebih mudah menumpuk dalam darah dan membebani kerja insulin.

Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menjaga keseimbangan gula darah. Tanpa gerak yang cukup, metabolisme tubuh melambat dan risiko gangguan metabolik meningkat. Kondisi ini bisa terjadi meski berat badan terlihat normal dari luar, terutama jika pola makan juga kurang seimbang.

3. Kelebihan berat badan dan lemak vissceral

ilustrasi perut buncit (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Kelebihan berat badan, terutama lemak yang menumpuk di area perut, sangat berkaitan dengan diabetes. Lemak visceral dapat mengganggu kerja hormon insulin dan memicu peradangan kronis dalam tubuh. Kondisi ini membuat sel menjadi kurang sensitif terhadap insulin sehingga pengaturan gula darah semakin sulit.

Pada usia muda, penambahan berat badan sering terjadi secara perlahan dan tidak disadari. Pola makan tinggi kalori dan kurang gerak mempercepat penumpukan lemak ini. Risiko diabetes pun meningkat meski gejalanya belum terasa secara langsung. Perubahan gaya hidup sejak dini membantu mencegah kondisi ini berkembang lebih jauh.

4. Faktor genetik dan riwayat keluarga

ilustrasi ayah dan anak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Riwayat diabetes dalam keluarga meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi yang sama. Faktor genetik dapat memengaruhi cara tubuh memproduksi atau merespons insulin. Jika dikombinasikan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti pola makan tinggi gula dan kurang aktivitas fisik, risiko tersebut menjadi jauh lebih besar.

Memiliki orang tua atau saudara dengan diabetes bukan berarti penyakit ini tidak bisa dicegah. Namun kondisi tersebut membuat kita perlu lebih waspada sejak usia muda. Pemeriksaan rutin kadar gula darah dan perhatian pada berat badan menjadi langkah awal yang penting. Pola hidup sehat berperan besar dalam menekan risiko jangka panjang.

5. Kurang tidur dan sering stres

ilustrasi wanita yang kelelahan bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kurang tidur dan sering stres dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang mengatur gula darah. Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol yang dapat meningkatkan kadar gula darah secara alami. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini membebani kerja insulin.

Pada usia muda, kurang tidur sering dianggap sepele karena tuntutan sekolah, pekerjaan, atau penggunaan gadget hingga larut malam. Padahal pola tidur yang buruk membuat tubuh lebih sulit mengontrol gula darah. Kombinasi stres dan kurang istirahat dapat meningkatkan risiko diabetes meski pola makan terlihat normal.

Diabetes di usia muda bukanlah kondisi yang muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini berkembang melalui kebiasaan dan faktor yang sering dianggap sepele. Dengan memahami penyebabnya sejak awal, kita dapat melakukan langkah pencegahan lebih cepat, sehingga kualitas hidup tetap terjaga dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team