Masih banyak orang yang sehari-harinya menerapkan gaya hidup minim olahraga serta kurang gerak. Misalnya pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk, rebahan, atau berbaring.
Melansir Real Simple, menurut Jessica Matthews, DBH, pelatih kesehatan dan kebugaran tersertifikasi dan asisten profesor kinesiologi dan kesehatan integratif di Point Loma Nazarene University, Amerika Serikat (AS), perilaku kurang gerak ini berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan. Di antaranya adalah obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, sindrom metabolik, dan peningkatan risiko dari berbagai penyebab kematian.
Efek kurang gerak ini pun tidak butuh waktu lama untuk dirasakan dampaknya pada tubuh. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Liverpool, Inggris, dan dipresentasikan dalam European Congress on Obesity di Porto, Portugal, melibatkan 28 orang dengan rerata usia 25 tahun yang berada dalam kondisi sehat, yakni aktif secara fisik (melakukan 10.000 langkah setiap hari) dan memiliki rerata indeks massa tubuh 25 kg/m2.
Dalam waktu 14 hari, aktivitas para partisipan dikurangi 80 persen, yakni hanya melakukan sekitar 1.500 langkah saja setiap hari. Dampak signifikan yang terjadi adalah partisipan kehilangan massa otot, terjadinya perubahan metabolisme, peningkatan lemak tubuh yang cenderung menumpuk pada area perut, memicu peningkatan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan risiko kematian dini.
Untuk mengetahui apakah kamu termasuk kelompok yang kurang gerak atau tidak, bisa dicek tanda-tandanya sebagai berikut.
