Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Tinggi Badan Memengaruhi Pace Lari?
ilustrasi berlari (pexels.com/ Ketut Subiyanto)
  • Tinggi badan memang memengaruhi panjang langkah dan gaya berlari, tapi bukan faktor utama yang menentukan kecepatan atau pace seseorang saat berlari.

  • Performa lari lebih banyak dipengaruhi oleh VO2 max, running economy, latihan konsisten, serta komposisi tubuh dibandingkan tinggi badan semata.

  • Pelari bertubuh pendek bisa menyaingi pelari tinggi lewat cadence tinggi dan efisiensi energi, menunjukkan bahwa setiap tubuh punya cara berbeda untuk mencapai kecepatan optimal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan pandangan positif bahwa setiap pelari, terlepas dari tinggi badannya, memiliki potensi untuk mencapai performa optimal melalui cara yang unik. Dengan menyoroti bahwa kecepatan dipengaruhi oleh kombinasi langkah dan ritme, serta faktor seperti latihan dan efisiensi energi, artikel ini menegaskan kemampuan tubuh manusia untuk beradaptasi dan berkembang sesuai karakteristik masing-masing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sudah rutin lari namun pace (waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu satuan jarak saat berlari—makin kecil angkanya, makin cepat lari) di situ-situ saja. Kamu pun bertanya-tanya, apakah kalau badan lebih tinggi, apakah pace akan lebih cepat?

Logika di baliknya terdengar masuk akal. Orang yang lebih tinggi biasanya kakinya lebih panjang dan langkah lebih jauh dibanding pelari bertubuh pendek. Namun, ternyata fakta di lapangan tidak sesederhana itu.

Ada pelari tinggi yang cepat, tetapi ada juga pelari pendek yang bisa melesat dengan pace luar biasa. Bahkan di level elite, tinggi badan atlet bervariasi.

Artinya, tinggi badan memang punya pengaruh tertentu terhadap cara tubuh berlari, tetapi bukan faktor penentu apakah seseorang bisa menjadi pelari cepat atau tidak.

Tinggi badan memengaruhi panjang langkah

Secara biomekanik, orang yang lebih tinggi umumnya memiliki:

  • Tungkai lebih panjang.

  • Panjang langkah (stride length) lebih besar.

  • Jangkauan gerak yang lebih luas.

Ini membuat mereka bisa menempuh jarak lebih jauh dalam satu langkah.

Penelitian menunjukkan panjang tungkai berhubungan dengan panjang langkah dan ekonomi gerak tertentu saat berjalan maupun berlari. Karena itu, pelari tinggi sering terlihat lebih “meluncur” saat berlari.

Namun ada sisi lain yang sering dilupakan. Pelari yang kurang tinggi biasanya punya cadence (jumlah langkah per menit saat berlari; indikator ritme/kecepatan langkah) lebih tinggi.

Kalau pelari tinggi mengandalkan langkah panjang, banyak pelari bertubuh lebih pendek mengompensasi dengan cadence yang lebih tinggi. Mereka mengambil langkah lebih cepat dan lebih rapat.

Dalam lari, kecepatan sebenarnya merupakan kombinasi dari panjang langkah dan frekuensi langkah.

Secara sederhana: kecepatan = panjang langkah × cadence.

Jadi langkah panjang saja tidak otomatis membuat seseorang lebih cepat.

Jika langkah terlalu panjang tetapi ritme lambat, hasil akhirnya belum tentu unggul dibanding pelari dengan langkah lebih pendek tetapi cadence efisien.

Banyak pelari elite tubuhnya tidak terlalu tinggi

Banyak pelari jarak jauh elite dunia justru memiliki tubuh relatif ramping dan tidak terlalu tinggi. Contohnya beberapa pelari elite dari Kenya dan Ethiopia yang mendominasi maraton dunia.

Penelitian tentang antropometri pelari menunjukkan performa endurance sering lebih berkaitan dengan efisiensi energi, komposisi tubuh, berat badan, dan running economy dibanding tinggi badan semata.

Tubuh yang terlalu besar juga membutuhkan energi lebih besar untuk bergerak terus-menerus dalam jarak jauh.

Sebagai catatan, running economy adalah efisiensi tubuh saat berlari, yaitu seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan untuk mempertahankan kecepatan tertentu; konsumsi oksigen lebih rendah pada pace yang sama berarti running economy lebih baik.

Faktor yang jauh lebih penting daripada tinggi badan

ilustrasi berlari bersama (magnific.com/Drazen Zigic)

  • VO2 max dan kapasitas aerobik

Ini adalah kemampuan tubuh menggunakan oksigen saat olahraga. Makin baik kapasitas aerobik kamu, makin baik potensi endurance dan performa larinya.

VO2 Max sering dianggap salah satu indikator penting performa aerobik.

  • Running economy

Ini adalah seberapa efisien tubuh menggunakan energi saat berlari. Dua orang bisa memiliki pace sama, tetapi salah satunya mengeluarkan energi lebih sedikit.

Pelari dengan running economy baik biasanya lebih hemat energi, lebih stabil, dan mampu mempertahankan pace lebih lama.

  • Latihan

Ini faktor terbesar. Program latihan yang konsisten dapat meningkatkan kekuatan otot, kapasitas jantung dan paru, efisiensi biomekanik, dan toleransi terhadap kelelahan.

Pelari tinggi tanpa latihan tetap bisa kalah jauh dibanding pelari pendek yang terlatih dengan baik.

  • Berat badan dan komposisi tubuh

Dalam lari jarak jauh, tubuh yang terlalu berat dapat meningkatkan beban kerja. Karena itu, tinggi badan perlu dilihat bersama berat badan, massa otot, dan persentase lemak tubuh.

Apakah pelari yang tinggi pasti sprint lebih cepat?

Pada sprint, tubuh tinggi kadang memberi keuntungan mekanis tertentu karena panjang langkah yang besar. Namun, pelari sprint elite juga butuh:

  • Power.

  • Reaksi cepat.

  • Kekuatan otot.

  • Teknik yang sangat baik.

Itu sebabnya tidak semua pelari sprint terbaik tubuhnya sangat tinggi.

Kenapa pelari yang kurang tinggi kadang terlihat lebih cepat?

Ini karena cadence tinggi sering membuat gerakan tampak lebih agresif dan cepat.

Selain itu, sebagian pelari yang kurang tinggi biasanya lebih ringan, lebih mudah mempertahankan ritme, dan memiliki kontrol tubuh yang baik.

Pada tanjakan atau tikungan teknis, tubuh yang lebih ringan kadang menguntungkan.

Kesalahan yang sering dilakukan pelari karena tinggi badan

ilustrasi berlari di medan pegunungan (magnific.com/freepik)

  • Memaksa langkah terlalu panjang

Banyak pelari mencoba menyamakan panjang langkah dengan pelari tinggi. Padahal overstriding (mendaratkan kaki terlalu jauh di depan pusat massa tubuh) bisa meningkatkan risiko cedera, membuat pengereman berlebihan, dan mengurangi efisiensi.

  • Minder karena tubuh tidak tinggi

Ini cukup sering terjadi. Padahal, performa lari tidak cuma ditentukan dari tinggi badan. Banyak pelari dengan tubuh yang tidak tinggi justru unggul dalam efisiensi, cadence, dan endurance.

Jadi, apakah tinggi badan memengaruhi pace lari?

Ya, tetapi pengaruhnya tidak sesederhana itu.

Tinggi badan memengaruhi biomekanik dan gaya berlari, sedangkan pace dipengaruhi jauh lebih banyak oleh:

  • Latihan.

  • Kapasitas aerobik.

  • Running economy.

  • Kekuatan.

  • Strategi pacing.

  • Konsistensi.

Tubuh manusia sangat adaptif. Karena itu, pelari dengan tinggi berbeda bisa sama-sama cepat dengan cara yang berbeda pula.

Referensi

Chris Maher, Martin Underwood, and Rachelle Buchbinder, “Non-specific Low Back Pain,” The Lancet 389, no. 10070 (October 15, 2016): 736–47, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(16)30970-9.

Sujay Srivastava et al., “Assessment of Maximal Oxygen Uptake (VO2 Max) in Athletes and Nonathletes Assessed in Sports Physiology Laboratory,” Cureus 16, no. 5 (May 26, 2024): e61124, https://doi.org/10.7759/cureus.61124.

Kyle R Barnes and Andrew E Kilding, “Running Economy: Measurement, Norms, and Determining Factors,” Sports Medicine - Open 1, no. 1 (March 27, 2015): 8, https://doi.org/10.1186/s40798-015-0007-y.

Philo U Saunders et al., “Factors Affecting Running Economy in Trained Distance Runners,” Sports Medicine 34, no. 7 (January 1, 2004): 465–85, https://doi.org/10.2165/00007256-200434070-00005.

Alejandro Lucia et al., “Physiological Characteristics of the Best Eritrean Runners—exceptional Running Economy,” Applied Physiology Nutrition and Metabolism 31, no. 5 (October 1, 2006): 530–40, https://doi.org/10.1139/h06-029.

Editorial Team