Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Perut Terasa Perih saat Puasa? Ini Jawabannya!
ilustrasi perut terasa perih (vecteezy.com/Suriyawut Suriya)
  • Perut bisa terasa perih saat puasa karena lambung tetap memproduksi asam meski tidak ada makanan.

  • Pola makan saat berbuka, seperti makan terlalu banyak atau terlalu cepat, dapat memicu rasa tidak nyaman pada lambung.

  • Kekurangan cairan selama puasa dapat membuat dinding lambung lebih sensitif terhadap asam.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mempertanyakan kenapa perut terasa perih saat puasa, apalagi saat mereka merasakan sensasi perih di bagian perut. Situasi ini biasanya muncul pada siang hingga menjelang sore hari. Pada saat tersebut, lambung berada dalam kondisi kosong cukup lama.

Fenomena itu sebenarnya berkaitan erat dengan cara kerja sistem pencernaan manusia yang tetap aktif walau tidak menerima makanan selama beberapa jam. Rasa tidak nyaman tersebut tidak selalu berbahaya. Namun, memahami penyebabnya penting agar puasa tetap dapat dijalani secara sehat. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

1. Lambung tetap memproduksi asam meski tidak ada makanan

ilustrasi lambung terasa perih (vecteezy.com/Chonlatee Sangsawang)

Lambung merupakan organ pencernaan yang memiliki kemampuan menghasilkan cairan pencernaan secara terus-menerus. Cairan tersebut dikenal sebagai asam lambung atau gastric acid, campuran asam klorida, enzim pencernaan, dan berbagai zat kimia yang membantu memecah makanan menjadi partikel lebih kecil. Proses produksi cairan ini dikendalikan oleh sistem saraf dan hormon pencernaan sehingga aktivitasnya tidak sepenuhnya berhenti ketika seseorang tidak makan.

Kondisi lambung yang kosong selama berjam-jam membuat cairan asam tersebut tidak memiliki makanan untuk diproses. Situasi tersebut dapat menimbulkan iritasi ringan pada lapisan dalam lambung sehingga muncul sensasi perih atau panas pada bagian perut atas. Sensasi tersebut sering digambarkan seperti rasa terbakar yang berasal dari lambung.

Beberapa orang juga dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai refluks asam (acid reflux). Istilah ini merujuk pada keadaan ketika asam lambung bergerak naik menuju kerongkongan sehingga menimbulkan sensasi panas di dada atau tenggorokan. Lambung yang kosong dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi tersebut, terutama pada individu yang memiliki lambung sensitif.

2. Pola makan saat berbuka dapat memberi tekanan pada sistem pencernaan

ilustrasi buka puasa (commons.wikimedia.org/Miansari66)

Perubahan pola makan selama puasa sering memengaruhi kenyamanan lambung. Banyak orang langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar ketika berbuka setelah menahan lapar sepanjang hari. Kebiasaan tersebut dapat membuat sistem pencernaan bekerja secara tiba-tiba dalam intensitas tinggi sehingga memicu rasa tidak nyaman pada perut.

Peningkatan aktivitas pencernaan secara mendadak menyebabkan lambung harus memproduksi lebih banyak asam untuk memecah makanan yang masuk. Situasi tersebut dapat menimbulkan tekanan pada dinding lambung sehingga muncul sensasi kram, penuh, bahkan perih setelah makan. Rasa tidak nyaman sering kali semakin terasa apabila makanan dikonsumsi terlalu cepat tanpa proses mengunyah yang cukup.

Jenis makanan yang dikonsumsi saat berbuka juga memengaruhi kondisi lambung. Makanan tinggi lemak, seperti gorengan, santan pekat, dan hidangan yang digoreng dalam minyak banyak, membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Proses pencernaan yang lebih lambat membuat makanan bertahan lebih lama di dalam lambung sehingga produksi asam meningkat.

Hidangan pedas juga dapat memicu iritasi pada sebagian orang. Kandungan kapsaisin dalam cabai merangsang saraf di lambung sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap asam lambung. Sensasi panas atau perih sering muncul setelah mengonsumsi makanan pedas ketika kondisi lambung masih kosong dalam waktu lama.

3. Kekurangan cairan dapat memengaruhi fungsi lambung

ilustrasi minum air (vecteezy.com/Suwinai Sukanant)

Tubuh memerlukan cairan dalam jumlah cukup untuk menjaga kinerja sistem pencernaan tetap optimal. Air berperan penting dalam membantu proses pemecahan makanan dan mempermudah pergerakan makanan di sepanjang saluran pencernaan. Selama puasa, asupan cairan hanya dapat diperoleh pada waktu berbuka hingga sahur sehingga risiko kekurangan cairan dapat meningkat apabila konsumsi air tidak mencukupi.

Kondisi dehidrasi ringan dapat memengaruhi produksi lendir pelindung pada dinding lambung. Lapisan lendir tersebut berfungsi sebagai pelindung alami yang menjaga jaringan lambung agar tidak rusak akibat paparan asam lambung yang bersifat korosif. Penurunan lapisan pelindung tersebut dapat membuat dinding lambung menjadi lebih sensitif sehingga rasa perih lebih mudah muncul.

Gangguan pencernaan akibat kekurangan cairan juga dapat memicu terbentuknya gas di dalam saluran pencernaan. Penumpukan gas tersebut sering menimbulkan rasa kembung, tekanan pada perut, dan sensasi kram ringan. Kondisi tersebut dapat terasa lebih jelas ketika lambung berada dalam keadaan kosong cukup lama.

Kenapa perut terasa perih saat puasa jawabannya karena kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan produksi asam lambung yang tetap berlangsung ketika lambung kosong, pola makan saat berbuka yang kurang tepat, dan kekurangan cairan yang memengaruhi proses pencernaan. Memahami faktor-faktor tersebut dapat membantu menjaga kesehatan lambung selama menjalani puasa sehingga rasa tidak nyaman pada perut dapat dicegah.

Referensi
"Digestive Problems That Frequently Happen During The Early Fasting". PBPEGI. Diakses Februari 2026.
"Fasting and Digestive Disorders". Cleveland Clinic Abu Dhabi. Diakses Februari 2026.
"How To Get Rid Of Stomach Pain While Fasting". Sahyadri Hospital. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎