ilustrasi kelapa (pexels.com/Polina)
Di dalam tubuh, asam lemak jenuh bisa meningkatkan kadar kolesterol “jahat” atau low-density lipoprotein (LDL). Ketika LDL tinggi, ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Inilah yang membuat minyak kelapa kurang direkomendasikan dalam diet sehari-hari.
American Heart Association (AHA) merekomendasikan penggantian penggunaan lemak jenuh, termasuk dari minyak kelapa. AHA menyarankan tidak lebih dari 6 persen total kalori dari lemak jenuh. Ini sekitar 13 gram berdasarkan diet 2 ribu kalori. Artinya, satu sendok makan minyak kelapa mendekati jumlah tersebut dengan sekitar 12 gram lemak jenuh.
Dijelaskan pula beberapa klaim manfaat minyak kelapa untuk diet. Namun, sebagian besar studi menggunakan formulasi khusus minyak kelapa yang terbuat dari 100 persen MCT. Ini bukanlah minyak kelapa yang tersedia di pasaran.
Di pasaran, minyak kelapa tidak tersusun dari 100 persen MCT, melainkan sebagian besar mengandung asam laurat. Laman Healthline melansir minyak kelapa secara alami mengandung MCT yang terbagi dalam beberapa jenis, yaitu 42 persen asam laurat, 7 persen asam kaprilat, dan 5 persen asam kaprat.
Meski asam laurat termasuk dalam MCT, ia memiliki struktur yang sedikit berbeda dengan MCT lainnya, seperti asam kaprilat dan kaprat. Asam laurat memiliki jumlah rantai yang lebih panjang dibandingkan asam lemak jenuh rantai sedang lain sehingga lebih lambat diserap dan dimetabolisme oleh tubuh. Jadi, klaim manfaat kesehatan yang dilaporkan secara khusus tidak bisa diterapkan pada minyak kelapa biasa.
Fakta menarik lainnya, selain bisa meningkatkan LDL, asam laurat juga dilaporkan memiliki kemampuan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Namun, kemampuan ini masih belum teruji secara meyakinkan sehingga belum bisa menjadi acuan untuk diet sehari-hari. Studi epidemiologi besar belum melaporkan hubungan protektif antara asam laurat dan penyakit kardiovaskular, seperti diterangkan laman Harvard Health Publishing.