Karbohidrat berperan penting sebagai sumber energi. Hanya saja, jenis karbohidrat pada mi instan adalah karbohidrat sederhana, sehingga dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah dalam waktu cepat, memicu terjadinya resistansi insulin, yang kemudian meningkatkan risiko diabetes.
Penelitian yang dimuat dalam The Journal of Nutrition melibatkan 10.711 orang dewasa di Korea Selatan. Para peneliti mengamati pola makan tradisional, pola makan tinggi asupan daging dan makanan cepat saji, serta kebiasaan makan mi instan, dengan risiko sindrom metabolik.
Lewat hasil pengamatan, diketahui bahwa pola makan tradisional Korea Selatan (tinggi asupan nasi, ikan, sayuran, buah-buahan, dan kentang) berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan obesitas abdominal (lemak perut berlebih).
Sementara itu, pola makan tinggi daging dan makanan cepat saji dikaitkan dengan peningkatan obesitas abdominal, tingginya kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) dan trigliserida, dan penurunan tingkat kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL).
Dari ketiga pola makan, hanya kebiasaan makan mi instan yang berhubungan dengan meningkatnya risiko sindrom metabolik, terutama bagi perempuan.
Melansir laman Harvard TH Chan School of Public Health, yang dimaksud dengan sindrom metabolik adalah kelompok faktor risiko, termasuk di dalamnya obesitas, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, yang semuanya itu akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.