ilustrasi suplemen vitamin D (freepik.com/ededchechine)
Vitamin D mendukung penyerapan kalsium di dalam tubuh, dan asupannya secara cukup penting untuk kesehatan kita, seperti memberi perlindungan terhadap tulang dan mencegah penyakit tulang, seperti osteoporosis, mengutip National Institutes of Health. Suplemen vitamin D tergolong populer karena beberapa orang sulit memenuhi kebutuhannya lewat makanan.
Tubuh kita sebetulnya bisa memproduksi vitamin D ketika kulit terpapar langsung sinar matahari. Namun, penurunan waktu aktivitas di luar ruangan dan penggunaan tabir surya dapat meminimalkan jumlah vitamin D yang kita dapat dari paparan sinar matahari.
Dilansir Everyday Health, suplemen vitamin D adalah topik yang diperdebatkan, dan tampaknya pedoman dan penelitian bertentangan satu sama lain. Antusiasme terhadap suplemen D pun dianggap melampaui bukti ilmiah yang ada.
Mengonsumsi suplemen vitamin D dalam dosis tinggi juga bisa berbahaya. Menurut Mayo Clinic, toksisitas vitamin D, kondisi yang jarang namun berpotensi serius, dapat terjadi apabila kita mengalami jumlah vitamin D yang berlebihan dalam tubuh. Biasanya ini disebabkan oleh menggunakan suplemen vitamin D dosis tinggi, bukan karena pola makan atau paparan sinar matahari. Ini karena tubuh mengatur jumlah vitamin D yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari, dan bahkan makanan yang difortifikasi tidak mengandung vitamin D dalam jumlah besar.
Konsekuensi utama keracunan vitamin D adalah penumpukan kalsium dalam darah (hiperkalsemia), yang dapat menyebabkan mual dan muntah, lemas, dan sering buang air kecil. Toksisitas vitamin D dapat berkembang menjadi nyeri tulang dan masalah ginjal, seperti pembentukan batu kalsium.
Asupan 60.000 unit internasional (IU) sehari vitamin D selama beberapa bulan telah terbukti menyebabkan keracunan. Tingkat ini berkali-kali lebih tinggi daripada Angka Kecukupan Gizi yang direkomendasikan untuk kebanyakan orang dewasa, yaitu sebesar 600 IU per hari.