Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ibu menyusui
ilustrasi ibu menyusui (pexels.com/Wendy Wei)

Intinya sih...

  • Ibu menyusui boleh berpuasa selama kebutuhan cairan, nutrisi, dan istirahat tetap terpenuhi.

  • Pola makan seimbang, hidrasi cukup, dan frekuensi menyusui yang terjaga membantu menjaga produksi ASI.

  • Puasa sebaiknya dihentikan jika muncul tanda dehidrasi, kelelahan berat, atau bayi menunjukkan tanda ASI kurang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Puasa sering menjadi tantangan besar bagi ibu menyusui karena kondisi tubuh, kebutuhan bayi, dan kewajiban ibadah saling bertemu dalam satu waktu. Tips puasa untuk ibu menyusui kerap dicari ketika Ramadan tiba, terutama oleh ibu baru yang masih menyesuaikan produksi ASI dan pola istirahat. Situasi tersebut membuat banyak ibu bertanya kapan waktu aman untuk berpuasa dan bagaimana menjaga kesehatan selama menjalankannya.

Pertimbangan kesehatan, usia bayi, hingga kondisi nutrisi ibu ikut menentukan keputusan tersebut. Informasi yang tepat membantu ibu memahami batas aman dan tanda tubuh agar puasa tidak mengganggu proses menyusui. Simak penjelasan berikut!

1. Ibu menyusui perlu memastikan kebutuhan cairan terpenuhi

ilustrasi minum (pexels.com/Engin Akyurt)

Tubuh ibu menyusui membutuhkan cairan lebih banyak karena produksi ASI sebagian besar berasal dari air. Kekurangan cairan saat puasa dapat menyebabkan kelelahan, pusing, dan menurunkan volume ASI. Karena itu, kebutuhan hidrasi menjadi prioritas utama sejak waktu berbuka hingga sahur. Pola minum terjadwal membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mendukung metabolisme yang stabil selama berpuasa.

Asupan cairan ideal berkisar 2—3 liter dalam rentang waktu berbuka hingga sahur. Pembagian minum dapat dilakukan bertahap, misalnya dua gelas saat berbuka, beberapa gelas sebelum tidur, dan tambahan saat sahur agar tubuh tetap terhidrasi sepanjang hari. Minuman berkafeina sebaiknya dibatasi karena bersifat diuretik sehingga mempercepat kehilangan cairan.

2. Pola makan seimbang menjaga energi sepanjang hari

ilustrasi pola makan seimbang (pexels.com/Mustafa Erdağ

Energi ibu menyusui sangat dipengaruhi kualitas makanan, bukan sekadar jumlah kalori yang masuk. Pilihan makanan dengan karbohidrat kompleks, seperti gandum utuh, kacang-kacangan, dan oat, mampu melepaskan energi secara perlahan sehingga tubuh tidak cepat lemas saat berpuasa. Protein juga berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh dan membantu produksi hormon yang berkaitan dengan laktasi.

Sahur yang ideal memadukan karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat dari buah serta sayuran. Komposisi tersebut membantu menjaga kestabilan gula darah, mencegah rasa lapar berlebihan, dan mempertahankan stamina. Makanan terlalu asin atau pedas sebaiknya dikurangi karena memicu rasa haus yang lebih cepat selama puasa.

3. Frekuensi menyusui tetap dipertahankan secara fleksibel

ilustrasi menyusui (pexels.com/MART PRODUCTION)

Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip permintaan dan penawaran sehingga frekuensi menyusui tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kelancarannya. Bayi yang menyusu secara teratur merangsang hormon prolaktin dan oksitosin, dua hormon yang berperan dalam pembentukan serta pengeluaran ASI. Penyesuaian jadwal menyusui dapat terjadi secara alami ketika bayi cenderung lebih sering menyusu pada malam hari.

Penyimpanan ASI perah dapat menjadi strategi tambahan untuk mengantisipasi kelelahan saat berpuasa. Persiapan tersebut memberi kesempatan lebih bagi ibu untuk istirahat tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi bayi. Pemantauan jumlah popok basah juga penting karena menjadi indikator kecukupan asupan ASI pada bayi.

4. Ibu menyusui harus mengenali tanda tubuh perlu berhenti puasa

ilustrasi sakit kepala (pexels.com/RDNE Stock project)

Kondisi tubuh selama puasa perlu dipantau secara cermat karena kebutuhan energi ibu menyusui relatif tinggi. Gejala seperti pusing berat, lemas berlebihan, nyeri kepala, atau penurunan frekuensi buang air kecil menunjukkan kemungkinan dehidrasi atau kekurangan energi. Tanda tersebut menandakan tubuh membutuhkan asupan segera untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih serius.

Perubahan perilaku bayi juga dapat menjadi indikator penting. Bayi yang tampak sangat rewel, lemah, atau menunjukkan penurunan jumlah popok basah perlu mendapat perhatian khusus. Situasi tersebut menjadi sinyal bahwa ibu sebaiknya menghentikan puasa demi menjaga kesejahteraan bayi dan diri sendiri.

5. Persiapan fisik dan konsultasi medis meningkatkan keamanan puasa

ilustrasi konsultasi medis (pexels.com/Thirdman)

Persiapan sebelum Ramadan membantu ibu menilai kesiapan fisik secara objektif. Konsultasi dengan tenaga kesehatan penting dilakukan, terutama jika bayi berusia di bawah 6 bulan atau ibu memiliki riwayat anemia dan gangguan kesehatan tertentu. Penilaian medis memberikan gambaran realistis mengenai kemampuan tubuh menjalankan puasa tanpa risiko.

Perencanaan aktivitas harian juga berperan dalam menjaga energi. Pengurangan aktivitas berat, pengaturan waktu istirahat, dan menghindari paparan panas berlebihan membantu mengurangi kelelahan selama puasa. Pendekatan tersebut membuat tubuh tetap stabil sekaligus menjaga kelancaran produksi ASI.

Puasa tetap dapat dijalankan secara aman selama kondisi tubuh ibu stabil dan kebutuhan bayi terpenuhi. Tips puasa untuk ibu menyusui tadi membantumu memahami batas aman sekaligus menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan. Pengalaman setiap ibu dapat berbeda sehingga penting untuk selalu peka terhadap sinyal tubuh dan kebutuhan bayi.

Referensi
"Here are 5 Fasting Tips for Mothers Who Are Breastfeeding". EMC. Diakses Februari 2026.
"Maintaining the Quality of Breast Milk While Fasting". Prenagen. Diakses Februari 2026.
"Religious fasting and breastfeeding". Australian Breastfeeding Association. Diakses Februari 2026.
"UM Surabaya Lecturer Shares Tips on Fasting for Breastfeeding Mothers So Breast Milk Continues Smoothly". MUS. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎