Injectable beauty merujuk pada tindakan menyuntikkan bahan ke dalam atau di bawah kulit untuk tujuan estetika. Tujuannya beragam, mulai dari mengurangi kerutan, menambah volume, memperbaiki tekstur kulit, hingga merangsang regenerasi. Di Indonesia, tren ini tumbuh cepat seiring kemajuan kedokteran estetika dan meningkatnya minat pada prosedur nonbedah.
Bahan yang digunakan juga makin beragam, seperti botulinum toxin, nutrisi lokal seperti vitamin C dan asam amino, hingga collagen stimulator serta growth factors atau peptida.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr. Tania Azhari, Sp.D.V.E menyebut injectable beauty memang bisa memberikan manfaat nyata pada kulit.
"Bukti klinis umum yang langsung dapat dilihat pada wajah pasien yaitu injeksi botulinum toxin dan filler HA. Keduanya memiliki landasan ilmiah yang kuat untuk memperbaiki penampilan garis dinamika dan volume kontur wajah ketika dilakukan oleh tenaga terlatih," ungkapnya kepada IDN Times.
Lebih lanjut, dr. Tania menjelaskan bahwa tidak semua injectable memiliki tingkat bukti yang sama. PRP (platelet-rich plasma) dan PRF (platelet-rich fibrin) menunjukkan potensi regeneratif dan perbaikan tekstur kulit dalam beberapa studi, tetapi hasilnya sangat bergantung pada protokol dan kualitas bahan.
Sementara itu, skin booster, vaksin nutrisi injeksi, salmon DNA, sekretom atau exosome, serta berbagai kombinasi biomolekul lain masih berada pada spektrum bukti yang bervariasi. Banyak klaim yang beredar bersifat komersial dan belum didukung uji klinis terkontrol yang kuat, sehingga kamu perlu bersikap kritis sebelum memilih prosedur ini.
"Injectable beauty di Indonesia menawarkan beragam pilihan tindakan estetika yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Keamanan dan hasil optimal sangat bergantung pada kecocokan antara profil pasien, kualitas produk, teknik injeksi, serta fasilitas layanan. Konsultasi dengan dokter spesialis kulit yang berpengalaman adalah langkah awal yang penting untuk memastikan rencana perawatan yang aman, efektif, dan realistis," tambah dr. Tania.