Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Pelari Ultramaraton Lebih Berisiko Kena Kanker Usus

ilustrasi pelari maraton (pexels.com/João Godoy)
ilustrasi pelari maraton (pexels.com/João Godoy)
Intinya sih...
  • Studi menemukan pelari ultramaraton lebih berisiko terkena kanker usus.
  • Pelari muda dengan latihan ekstrem rentan terhadap stres usus yang meningkatkan risiko perubahan prakanker.
  • Penting untuk tidak mengabaikan sinyal tubuh, seperti perdarahan dalam tinja, dan tetap menjaga keseimbangan dalam olahraga.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Olahraga selama ini dianggap sebagai salah satu pilar kesehatan. Banyak bukti menunjukkan bahwa aktivitas fisik bukan hanya menjaga tubuh tetap bugar, tetapi juga bisa membantu mencegah kanker kambuh setelah pengobatan. Namun, temuan baru memunculkan pertanyaan: apakah latihan ketahanan dengan volume sangat tinggi, seperti ultramaraton, berisiko?

Dalam konferensi American Society of Clinical Oncology 2025, tim peneliti dari Inova Schar Cancer Institute melaporkan data yang mengundang perhatian. Dari 100 pelari maraton dan ultramaraton usia 35–50 tahun, sekitar 15 persen ditemukan memiliki adenoma stadium lanjut (lesi prakanker yang berpotensi berkembang menjadi kanker usus), sementara 41 persen memiliki setidaknya satu adenoma.

Studi ini memang berskala kecil dan belum melewati proses peer-review, tetapi temuannya cukup membuat para ahli waspada.

Pengaruh lari ekstrem pada tubuh

Temuan studi ini berlawanan dengan pengetahuan selama ini bahwa rutin berolahraga dapat menurunkan risiko kanker, termasuk kanker usus, dan meningkatkan peluang hidup setelah diagnosis. Penelitian ini tidak membantah fakta tersebut, melainkan menyoroti pelari muda dengan volume latihan yang sangat ekstrem, yang mungkin menghadapi stres usus "unik" sehingga meningkatkan risiko perubahan prakanker dari waktu ke waktu.

Kanker usus pada usia muda kini bahkan disebut oleh para ahli sebagai “epidemi baru”, dan mereka masih belum sepenuhnya memahami mengapa kasusnya meningkat tajam.

Yang menarik, studi ini mengecualikan partisipan dengan kondisi genetik atau penyakit usus yang sudah diketahui. Dengan kata lain, para pelari dianggap “sehat” dan berisiko rendah. Namun, hasil skrining menunjukkan jumlah lesi prakanker yang lebih tinggi dari perkiraan untuk kelompok usia tersebut (35–50 tahun).

Salah satu teori menyebutkan adanya penurunan aliran darah sementara ke usus saat tubuh berlari dalam intensitas tinggi dan durasi panjang. Fenomena ini dikenal pelari sebagai "diare pelari" (runner's colitis atau runner's trot), yaitu kram usus hingga perdarahan ringan setelah lari jauh. Siklus berulang dari stres rendah oksigen, peradangan, lalu perbaikan jaringan diduga bisa mendorong terbentuknya adenoma pada sebagian individu yang rentan.

Tim peneliti menyoroti mekanisme ini berdasarkan laporan gejala pencernaan dari para pelari. Namun, penelitian mereka tidak secara langsung mengukur aliran darah, oksigen, maupun penanda peradangan. Faktor gaya hidup lain juga tidak diteliti lebih jauh, seperti pola hidrasi, penggunaan obat antiinflamasi, kebiasaan makan tertentu, hingga kadar lemak tubuh yang sangat rendah.

Hal penting yang harus digarisbawahi, studi ini tidak membuktikan bahwa maraton atau ultramaraton menyebabkan kanker usus. Mayoritas pasien kanker usus usia muda bukanlah pelari jarak jauh. Studi ini juga tidak menjawab apakah olahraga intensitas moderat/sedang bisa menimbulkan risiko serupa.

Sebagai perbandingan, tingkat adenoma stadium lanjut biasanya diukur dari studi populasi umum usia 40-an akhir, bukan dari kelompok kontrol yang benar-benar sebanding. Artinya, temuan ini masih tahap awal dan butuh penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar.

Jangan mengabaikan sinyal tubuh

ilustrasi peserta lomba maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)
ilustrasi peserta lomba maraton (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Meski masih dini, tetapi ada pesan praktis yang bisa dipetik, yaitu jangan abaikan sinyal tubuh.

Perdarahan dalam tinja, perubahan pola buang air besar, sakit perut tanpa sebab jelas, atau anemia akibat kekurangan zat besi bukan sekadar “efek samping lari”.

Dalam komunitas pelari, keluhan pencernaan sering dianggap normal, sehingga tanda bahaya bisa terlewat. Para onkolog menekankan bahwa pelari muda dengan perdarahan setelah lari jauh sebaiknya direkomendasikan skrining usus.

Selain itu, studi ini mengingatkan adanya perbedaan antara olahraga sebagai obat dan olahraga sebagai tantangan ekstrem. Untuk pencegahan kanker dan kesehatan umum, bukti paling kuat mendukung aktivitas rutin dengan intensitas moderat hingga berat, bukan aksi ketahanan ultra yang berulang-ulang.

Data lain dari konferensi yang sama menegaskan bahwa olahraga terstruktur setelah pengobatan kanker usus meningkatkan kualitas hidup jangka panjang. Jadi, aktivitas fisik tetap merupakan salah satu “obat” terbaik dan termurah untuk pencegahan kanker.

Temuan mengenai pelari ultramaraton ini bukan alasan untuk berhenti berlari. Pesannya adalah tetap menikmati manfaat olahraga, tetapi tetap harus waspada. Jika penelitian mendatang mengonfirmasi kaitan ini, mungkin saja akan ada perubahan panduan, misalnya pelari ultramaraton akan diajurkan untuk menjalani kolonoskopi lebih awal, sebelum usia 45 tahun.

Saran lainnya mungkin menyasar cara latihan, seperti mengatur hidrasi, menghindari penggunaan obat antiinflamasi sembarangan, memperhatikan nutrisi, serta memiliki waktu pemulihan yang cukup.

Untuk saat ini, pesan yang paling bijak adalah menjaga keseimbangan. Olahraga memberi manfaat besar, tapi tubuh juga butuh didengarkan. Perhatikan gejala seperti perdarahan, jangan buru-buru menormalisasinya sebagai “efek lari jauh”. Diskusikan faktor risiko pribadi dan riwayat keluarga dengan dokter.

Referensi

"Surprise Discovery of Elevated Cancer Risk in Elite Runners Can Be Explained." Science Alert. Diakses Agustus 2025.

"Risk of pre-cancerous advanced adenomas of the colon in long distance runners." American Society of Clinical Oncology. Diakses Agustus 2025.

Williamson B. Strum, “Colorectal Adenomas,” New England Journal of Medicine 374, no. 11 (March 16, 2016): 1065–75, https://doi.org/10.1056/nejmra1513581.

Anne Mctiernan et al., “Physical Activity in Cancer Prevention and Survival: A Systematic Review,” Medicine & Science in Sports & Exercise 51, no. 6 (May 16, 2019): 1252–61, https://doi.org/10.1249/mss.0000000000001937.

"Are ultramarathon runners really at increased risk of bowel cancer?" The Conversation. Diakses Agustus 2025.

Xue-Li Bai et al., “Impact of Exercise on Health Outcomes in People With Cancer: An Umbrella Review of Systematic Reviews and Meta-analyses of Randomised Controlled Trials,” British Journal of Sports Medicine 59, no. 14 (April 29, 2025): 1010–20, https://doi.org/10.1136/bjsports-2024-109392.

Ahmed Faress, Sameer Masood, and Ahmed Mian, “‘Runs’ From a Run: A Case of Exercise Induced Ischemic Colitis,” World Journal of Emergency Medicine 8, no. 4 (January 1, 2017): 302, https://doi.org/10.5847/wjem.j.1920-8642.2017.04.010.

Douglas A. Corley et al., “Adenoma Detection Rate and Risk of Colorectal Cancer and Death,” New England Journal of Medicine 370, no. 14 (April 2, 2014): 1298–1306, https://doi.org/10.1056/nejmoa1309086.

Alice Avancini et al., “Physical Activity Guidelines in Oncology: A Systematic Review of the Current Recommendations,” Critical Reviews in Oncology/Hematology, April 1, 2025, 104718, https://doi.org/10.1016/j.critrevonc.2025.104718.

"Screening for Colorectal Cancer." CDC. Diakses Agustus 2025.

Adriana Albini et al., “Physical Activity and Exercise Health Benefits: Cancer Prevention, Interception, and Survival,” European Journal of Cancer Prevention 34, no. 1 (May 29, 2024): 24–39, https://doi.org/10.1097/cej.0000000000000898.

Lin Yang, Kerry S. Courneya, and Christine M. Friedenreich, “The Physical Activity and Cancer Control (PACC) Framework: Update on the Evidence, Guidelines, and Future Research Priorities,” British Journal of Cancer 131, no. 6 (June 27, 2024): 957–69, https://doi.org/10.1038/s41416-024-02748-x.

Ramin Amirsasan, Maryam Akbarzadeh, and Shabnam Akbarzadeh, “Exercise and Colorectal Cancer: Prevention and Molecular Mechanisms,” Cancer Cell International 22, no. 1 (August 9, 2022), https://doi.org/10.1186/s12935-022-02670-3.

Anne Mctiernan et al., “Physical Activity in Cancer Prevention and Survival: A Systematic Review,” Medicine & Science in Sports & Exercise 51, no. 6 (May 16, 2019): 1252–61, https://doi.org/10.1249/mss.0000000000001937.

Mary Kate Skalitzky et al., “Characteristics and Symptomatology of Colorectal Cancer in the Young,” Surgery 173, no. 5 (March 3, 2023): 1137–43, https://doi.org/10.1016/j.surg.2023.01.018.

Nora B. Henrikson et al., “Family History and the Natural History of Colorectal Cancer: Systematic Review,” Genetics in Medicine 17, no. 9 (January 15, 2015): 702–12, https://doi.org/10.1038/gim.2014.188.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us